Inilah Penyebab Harga Kedelai Naik, dan Solusi yang Akan Dilakukan oleh Pemerintah!

Baru-baru ini kita dihebokan dengan para pengrajin tahu dan tempe yang memutuskan untuk mogok produksi selama beberapa hari, hal tersebut membuat sejumlah pedagang khususnya pedagang gorengan dan pemilik warteg kelimpungan untuk mencari tahu dan tempe, sekalipun ada harganya relatif lebih mahal dari biasanya, sehingga para pedagang ini terpaksa tidak menjual menu tempe dan tahu.

“Sudah tiga hari ini kita enggak menjual menu tempe dan tahu karena kesulitan mencari bahannya, sekalipun ada harganya lebih mahal. Sementara kita enggak mungkin menaikan harga ditengah kondisi pandemi seperti ini karena pasti akan menurun peminatnya, sedangkan kalau enggak dinaikan kita nya juga sebagai penjual enggak mendapatkan untung,” ujar ibu Sri salah satu pemilik warteg di Jakarta.

Hal tersebut juga dirasakan oleh para pedagang gorengan, “akibat sejumlah para pengrajin tahu dan tempe mogok produksi, terpaksa dalam beberapa hari ini kita enggak jual gorengan tempe dan tahu. Karena kedua menu itu menjadi menu yang sering kali dicari oleh konsumen, jadi dengan enggak adanya tahu dan tempe saat ini sangat berimbas dengan pendapatkan, yang biasanya sehari bisa mendapatkan uang sekitar 300 sampai 400 ribu, kini hanya bisa mendapatkan uang kisaran 200 ribu rupiah,” keluh pedagang gorengan.

Menurut penjelasan Bapak Aip Syarifuddin Ketua Umum Gakoptindo, “bahan baku tahu dan tempe itukan hanya satu yaitu kedelai, dan produksi di Indonesia sendiri itu hanya berkisar antara  10 hingga 15 persen dari 3 juta ton kebutuhan per tahun, sedangkan import tahun lalu berdasarkan data diperdagangan sekitar 2, 67 juta ton sehingga sisanya kedelai lokal. Karena dalam perdagangan kedelai ini menganut sistem perdagangan bebas secara internasional, maka harga kedelai di Indonesia yang 90 persen ini dibutuhkan mengikuti harga internasional. Jadi dengan demikian kalau harga internasional stabil ya kita stabil, kalau harganya turun ya turun, dan kalau harganya naik ya kita ikut naik. Kenaikan harga kedelai itulah yang menyebabkan pengrajin tahu dan tempe melakukan mogok produksi.”



Dalam hal ini Dwi Andreas Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan bahwa “ketergantungan kita terhadap kedelai impor itu sekitar 90 persen yang berarti ketergantungan itu sedemikian besarnya. Dan China ini cerdik jadi ketika harga kedelai belum begitu naik, China memborong kedelai dari Brazil dan itu menyebabkan sedikit goncangan harga kedelai. Pada saat itu juga terjadi pemogokan di pelabuhan Argentina sehingga kedelai tidak bisa lepas dari Argentina, lalu beberapa minggu terakhir yang lalu Argentina memutuskan untuk tidak mengeskspor kedelai, sehingga sekarang tinggal Amerika dan Kanada yang sudah tentu memiliki keterbatasan. Nah keterbatasan itulah yang menyebabkan stok dunia menurun, sehingga harga kedelai melonjak tinggi. Karena ketergantungan negara kita yang begitu tinggi, saat harga kedelai dunia naik pasti akan berdampak pada harga kedelai di Negara kita.”

Dengan kondisi ini Kementrian Perdagangan beserta dengan Kementrian Pertanian melakukan koordinasi dengan para importir untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang. “Dalam jangka pendek sudah ditemukan solusinya yaitu para importir sepakat dalam 100 hari kedepan atau sekitar tiga bulan kedepan akan melakukan operasi pasar dengan memberikan harga kedelai yang sangat kompetitif bagi para pengrajin tapi melalui Gakoptindo, karena kita ingin tetap terkontrol dan ini semata-mata keikhlasan para importir. Seperti yang kita ketahui kedelai ini kan tidak kita atur jadi kita menghimbau kepada mereka di masa pandemi ini marilah kita sama-sama merasa terbebani dengan harga tahu dan tempe yang melambung tinggi. Karena dengan para pengrajin tahu tempe mogok kerja, semua akan terimbas. Pengrajin tidak akan mendapatkan uang, keluarganya juga akan susah, dan semua juga akan susah. Itulah mengapa para importir sepakat untuk memberikan operasi pasar. Lalu untuk jangka panjangnya akan disambung Kementan dengan meningkatkan produksi lagi, jadi mudah-mudahan dalam waktu dekat harga tahu dan tempe tidak terlalu mahal,” ujar Suhanto, Sekjen Kementrian Perdagangan.

 

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Monica desiana
Monica desiana

Nama saya Monica Desiana, biasa dipanggil Monic. Saya mahasiswa aktif di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, jurusan Penerbitan.

Artikel: 4

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 1 =