wisata

Wisata Virtual Pendorong Perekonomian Bangsa

Dunia sudah berkembang, orang-orang pun semakin sadar akan kebutuhan rohaninya, salah satunya adalah berwisata. Berwisata atau travelling menjadi solusi bagi orang-orang yang ingin melepaskan penat. Hal ini dipercaya bisa menyeimbangkan hidup ketika mereka sudah mulai bosan dengan rutinitas, apalagi yang bekerja full time di kantor. Mereka akan mencari tujuan wisata saat weekend atau musim libur.

Namun adanya pandemi Covid-19 ini membuat orang-orang membatasi diri untuk berwisata karena menghindari penularan virus. Hal ini berdampak pada menurunnya secara drastis sektor pariwisata yang juga berpengaruh pada perekonomian lokal. Tak hanya pariwisata, beberapa usaha kuliner pun turut gulung tikar jika tidak bisa bertahan di masa pandemi.

Penyebabnya adalah kebijakan awal pemerintah di seluruh dunia untuk sementara waktu menutup usaha yang membuat orang-orang berkerumun dan berkumpul. Sementara waktu ini ternyata diluar dugaan, nyatanya Covid-19 masih berada di sekitar kita hingga saat ini.

Beruntungnya pemerintah Indonesia tidak memberikan kebijakan lock down yang membuat perekonomian lumpuh total seperti di negara-negara Eropa. Kebijakan PSBB dan protokol kesehatan masih menjadi senjata ampuh untuk menekan angka korban yang terjangkit Covid-19.

Kita lihat kembali apa saja kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengatasi sektor pariwisata di era New Normal saat ini.

Standar baru pelaksanaan kegiatan wisata dari pemerintah Indonesia sebagai berikut :

  1. Program sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability).

Adaptasi kebiasaan baru dengan program CHSE ini tidak hanya untuk sektor pariwisata tetapi juga berlaku di seluruh sektor kehidupan.

  1. Kebijakan visa baru.

Kebijakan terbaru yang dituangkan dalam Permenkumham Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Visa dan Izin Tinggal dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Kebijakan ini membuka peluang bagi perekonomian melalui pergerakan lalu lintas orang antar-negara seperti Kawasan Asia Tenggara.

  1. Sinkronisasi anggaran belanja terkait pariwisata yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.

Kebijakan ini diharapkan adanya alokasi untuk mendukung sektor pariwisata lokal, seperti anjuran untuk mendukung sektor pariwisata lokal, seperti anjuran untuk staycation.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada intinya untuk mendorong Kembali keinginan berwisata di dalam negeri untuk membangkitkan daerah-daerah yang bergantung pada sektor pariwisata.

Namun Pemerintah Indonesia juga tidak mengabaikan upaya untuk tetap mengenalkan pariwisata di era New Normal untuk wisatawan mancanegara. Meski wisatawan domestik memiliki potensi yang luar biasa tetapi pariwisata Indonesia harus tetap ada di benak para wisatawan mancanegara.

Wisata Virtual Bukan Hanya Tren Sementara

Wisata virtual menjadi pilihan untuk kembali berwisata yang tidak hanya menjadi sekedar tren sementara. Tidak hanya untuk masa pandemi atau pascapandemi, tetapi juga bisa menjadi pilihan berwisata di masa depan. Selain itu, wisata virtual juga lebih efektif dan efisien sebagai media promosi destinasi wisata di Indonesia yang memiliki ribuan pilihan tempat wisata.

Wisata virtual ini merupakan rekreasi yang dilakukan tidak secara langsung atau melalui perantara. Perantara di sini bisa berupa gawai seperti ponsel, televisi, komputer, dan jaringan internet. Selain berguna untuk membantu orang dalam mencari solusi berwisata menghilangkan stress di tengah pandemi, juga berfungsi untuk membantu biro pariwisata agar usahanya tetap berjalan selama kebijakan PSBB.

Kelebihan Wisata Virtual adalah sebagai berikut :

  1. Hemat biaya

Saat merasa bosan, Anda bisa langsung berwisata dengan fasilitas wisata virtual tanpa memikirkan budget transportasi, penginapan, dan makan. Cara ini sangat bermanfaat sekali untuk para pegiat wisata dengan dana yang minim. Tujuan utama berwisata tetap terlaksana meski di rumah saja.

  1. Tidak membuat Lelah

Yang Anda lakukan adalah mengikuti arahan guide wisata virtual tanpa jalan kaki atau bahkan membawa tas apalagi koper. Tentu hal ini tidak akan membuat Anda cepat Lelah seperti jika bepergian untuk wisata keluar.

  1. Hemat waktu

Jika sebelumnya Anda harus merencanakan wisata beberapa hari, minggu, bahkan sebulan, kali ini Anda hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk memilih destinasi wisata kemudian melaksanakannya. Anda tidak perlu mengemas koper, booking hotel, atau memikirkan akomodasinya. Bahkan Anda tidak perlu menunggu long weekend atau mengajukan cuti untuk berwisata ke tempat yang jauh.

  1. Sarana promosi

Wisata virtual sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelumnya masa pandemi datang. Cara ini digunakan untuk melakukan promosi destinasi wisata, yaitu dengan mengenalkan pada dunia luar tentang objek wisata melalui video yang dikemas secara menarik sehingga para wisatawan mulai melirik dan ingin berwisata ke daerah yang dimaksud.

Untuk kelemahan wisata virtual sendiri tentunya orang-orang tidak bisa menikmati seperti layaknya berwisata ke tempatnya secara langsung. Orang-orang juga tidak bisa menikmati kuliner di sekitar tempat wisata.

Wisata Virtual Gratis dan Berbayar

Meski ada yang tersedia secara gratis tapi ada juga yang berbayar. Sejumlah destinasi wisata di Indonesia juga sudah mulai disiapkan oleh pemerintah secara gratis, contohnya berkeliling ke Museum Nasional Indonesia secara daring melalui laman museumnasional.iheritage.id dan Kebun Raya Bogor dengan mengakses laman vtkrb.pddi.lipi.go.id. Di sini pengunjung wisata virtual bisa menikmati suasana Kawasan dan bangunan dengan fitur kamera 360 derajat. Selain itu juga dilengkapi narasi, baik teks maupun audio, yang memberikan sensasi berkeliling bersama tour guide.

Dengan demikian, Pemerintah Indonesia berupaya semaksimal mungkin untuk terus mendorong sektor pariwisata agar tetap bertahan meski di tengah pandemi. Pilihan wisata virtual ini tidak bermaksud untuk menggantikan konvensional, tetapi memberikan alternatif lain untuk para pemandu wisata atau pegiat pariwisata agar tetap mendapatkan penghasilan. Pemerintah tetap menyarankan untuk mengunjungi langsung pasca pandemi atau minimal berwisata saat ini dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Seorang penulis lepas sekaligus blogger pemasaran digital, Benjamin Ethinger, mengatakan bahwa tren wisata virtual ini bukan hanya sekedar tren di masa pandemic Covid-19. Namun lebih jauh lagi, era digital dapat mengubah persepsi masyarakat ketika memutuskan untuk bepergian di masa depan.

Dampak Era Digital Bagi Pariwisata Indonesia

Perkembangan dunia teknologi tidak bisa dipungkiri terus berkembang dan beradaptasi mengikuti kondisi yang terjadi. Tantangannya ketika suatu saat semua kehidupan berubah menjadi serba digital adalah bagaimana menyiapkan para penduduk lokal yang tadinya belum melek digital menjadi lebih peduli dan setidaknya mau belajar.

Ada dua aspek yang menjadi dampak bagi pariwisata Indonesia, yaitu :

  1. Secara Eksternal

Saat ini PR untuk Pemerintah Indonesia adalah membuat orang luar melihat Indonesia bukan hanya soal Borobudur, Bali, Jogjakarta tapi bagaimana Indonesia dapat dilihat akan kekayaan budaya dan sektor pariwisatanya. Salah satu media yang bisa menjembatani upaya pemerintah tersebut adalah wisata virtual. Dengan mengenalkan destinasi wisata melalui virtual tour maka masyarakat, baik wisatawan domestik maupun luar negeri, jadi lebih paham dan tahu tentang Indonesia. Terlebih menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) bagi wisatawan domestik dan merasa bangga bahwa Indonesia juga punya yang lebih indah dan tidak kalah dengan wisata luar negeri.

  1. Secara Internal

Dampak yang timbul sekaligus menjadi PR Pemerintah Indonesia adalah ketika pada saatnya nanti Covid-19 benar-benar hilang dan mulai banyak wisatawan mancanegara yang datang akan muncul masalah lain terkait bagaimana warga lokal siap menghadapinya atau belum. Pemerintah mustinya tidak pernah bosan mengingatkan warganya untuk berkegiatan pariwisata yang sustainable. Artinya pariwisata yang mampu menjaga nilai kearifan lokal dan lingkungan, manajemennya juga harus bagus, penyediaan sampah bagi traveller serta kebutuhan lainnya.

Dengan begitu Pemerintah Indonesia dan masyarakat yang ada di dalamnya tidak saja menyiapkan bagaimana untuk berpromosi tetapi juga menyiapkan SDM dari dalam agar siap menyambut era digital selanjutnya.

Wisata virtual pun tidak hanya dapat menggantikan sementara selama masa pandemi tetapi bisa dijadikan media berkomunikasi dalam rangka mempromosikan kekayaan Indonesia. Tidak hanya destinasi wisata berupa objek, tetapi juga mengenalkan ragam makanan khas, budaya, dan kerajinan penduduk setempat.

Kembali berwisata melalui wisata virtual sangat mendorong bangkitnya perekonomian bangsa di era new normal, meski pandemi berakhir tetap butuh waktu untuk menyiapkan kembali. Oleh karena itu, sejak saat ini lihat di sekitar kita apa yang bisa dikembangkan, apa yang bisa dieksplore, mengatur lagi manajemen pariwisata seperti penyediaan tempat sampah, hingga siap untuk dikenalkan ke luar. Jangan menutup diri dari dunia teknologi. Pariwisata harus adaptable menghadapi tantangan dari luar tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Referensi :

https://www.liputan6.com/news/read/4413070/dongkrak-kunjungan-wisatawan-pemerintah-terbitkan-kebijakan-baru-visa-di-era-new-normal

https://travel.kompas.com/read/2020/06/28/161137527/upaya-memulihkan-sektor-pariwisata-indonesia-pascapandemi-covid-19?page=all

https://www.solopos.com/liburan-di-rumah-dengan-wisata-virtual-kenapa-tidak-1097106#:~:text=Wisata%20virtual%20atau%20virtual%20tour,televisi%2C%20komputer%20dan%20jaringan%20Internet.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

caysa
caysa

Seorang mantan pegawai bank yang beralih pada passionnya, yaitu menulis. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjadi content writer dan freelance writer.

Artikel: 19

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *