Bagaimana Jika Tidak Ada Penjajahan

Teman – teman sekalian pasti ingat pada saat masih di bangku Sekolah Dasar, kita sering diajari oleh Bapak dan juga Ibu Guru mengenai Penjajahan. Dari penjelasan Bapak dan Ibu Guru tadi tentang Penjajahan, kemudian teman – teman bisa mengetahui bahwa Penjajahan itu adalah suatu hal yang sangat buruk, negatif dan juga keji dan tentunya tidak patut untuk dilakukan dan wajib dihilangkan di muka bumi ini. Hal ini pastinya diperkuat lagi ketika Bapak dan Ibu Guru menerangkan tentang Preambul atau pembukaan di naskah UUD 1945 yang berbunyi bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Penjajahan di mata orang – orang umumnya selalu identik dengan yang namanya eksploitasi, baik eksploitasi sumber daya alam dan juga sumber daya manusia. Meskipun tujuan awal dari penjajahan bangsa barat ialah Gold, Glory dan juga Gospel.

Teman – teman juga ada yang bertanya – tanya bagaimana jika penjajahan tidak ada di Indonesia, akankah Indonesia menjadi lebih baik dari Indonesia yang sekarang ini atau malah kondisi yang terjadi lebih buruk lagi. Apa yang akan terjadi jikalau tidak ada penjajahan :

1. Tidak akan berdiri Negara Indonesia

Yup, yang pertama adalah tidak akan ada berdiri negara Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia pada zaman dahulu terdapat banyak kerajaan yang menguasai wilayah atau daerah masing – masing. Setiap kerajaan mempunyai wilayah masing – masing, dengan demikian banyak kerajaan tadi akan memerintah masyarakat di daerahnya saja. Seperti contohnya kerajaan Pajajaran di Jawa Barat, Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Kerjaan Demak di Demak dan lain sebagainya. memang pernah ada Kerajaan besar yang dulu wilayahnya hampir menguasai Nusantara, tapi itu baru hampir dan belum bisa mempersatukan semua wilayah, seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, bahkan kala itu pernah menguasai sampai wilayah yang sekarang menjadi negara Filipina.

Kemudian, para penjajah datang dari bangsa barat yang datang pada abad ke 16 Masehi. Para penjajah tadi masuk ke wilayah Indonesia dan kemudian mengeksploitasi sumber daya alam dan juga manusia. Yang mula – mula tujuan mereka untuk mengibarkan kekuasaan dagang untuk mengambil rempah – rempah, tetapi merambah sampai ke pemerintahan hingga berdiri pemerintah Hindia Belanda, dan saat itu pemerintah Hindia Belanda berkuasa secara sewenang – wenang, sehingga kaum masyarakat pribumi merasa tertindas di wilayah tanah kelahirannya sendiri. Saat itu kemudian para kerajaan dan masyarakat pribumi bersatu berjuang untuk merebut kemerdekaan di atas tanah kelahirannya sendiri, hingga berhasil mengusir para penjajah yang berperilaku secara sewenang- wenang tadi. Sehingga kalau para penjajah tidak datang ke wilayah Nusantara bisa terjadi kemungkinan tidak akan ada berdiri negara Indonesia.

2. Tidak akan Mengenal Huruf Latin

Datangnya para penjajah di wilayah Nusantara telah memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat pribumi. Para penjajah melalui pemerintah Hindia Belanda memberikan pengetahuan tentang huruf latin kepada rakyat pribumi untuk melancarkan dan memudahkan komunikasi antara penjajah dengan masyarakat pribumi. Dengan demikian masyarakat pribumi menjadi mahir menggunakan huruf latin. Kemungkinan yang terjadi jika penjajah tidak datang ke Nusantara adalah masyarakat pribumi akan tetap menggunakan huruf warisan dari leluhur asli, seperti huruf jawa atau aksara jawa, huruf Pallawa yang banyak digunakan untuk menulis di prasasti – prasasti, aksara Bali, aksara Sunda Kuno, Lontara dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian jika tidak ada para penjajah yang datang ke Nusantara kita tidak akan mengenal huruf latin dan akan tetap menggunakan huruf asli dari leluhur yang sudah disebutkan di atas hingga saat ini.

3. Singkong tidak akan ada di Nusantara

Yang selanjutnya yaitu tidak akan ada Singkong di Nusantara. Tanaman yang mudah sekali kita temukan dan jumpai di pekarangan sawah ini adalah tanaman yang dulunya asli dari benua Amerika. Dulu para penjajah bangsa barat membawa singkong pada abad ke 16 dari benua Amerika untuk di tanam di Indonesia yang bertujuan untuk mengatasi masa sulit atau paceklik yang sedang melanda di nusantara. Tanaman singkong yang mudah di tanam tadi akan memberikan alternatif makanan pokok untuk mengatasi paceklik yang susah untuk mendapatkan makanan. Sehingga kalau saja bangsa penjajah tidak datang ke nusantara sampai sekarang kita tidak akan mengenal yang namanya singkong.

4. Tidak ada ikan Gupi

Ikan Gupi adalah salah satu spesies ikan asli dari benua Amerika. Ikan Gupi sering kita jumpai dan kita temui di sungai atau parit. Ikan Gupi dulu merupakan Ikan hias yang sering ditaruh do dalam gelas aquarium oleh bangsa barat yang menjajah di nusantara. Ketika bangsa barat datang ke nusantara dengan membawa Ikan Gupi tadi dan kemudian melepaskannya ke sungai yang bertujuan untuk mengurangi nyamuk sehingga dengan adanya ikan Gupi di sungai akan memakan jentik-jentik nyamuk yang ada di sungai. Hal demikian ini jika tidak ada penjajah yang datang ke Indonesia maka kita masyarakat Indonesia tidak akan pernah melihat ikan Gupi di parit atau sungai depan rumah.

5. Ada banyak negara di wilayah nusantara

Yang selanjutnya yaitu akan ada banyak negara di wilayah Nusantara. Hal yang demikian ini bisa saja terjadi karena dulu nusantara terbagi menjadi banyak kerajaan yang memerintah di wilayah atau pulau masing – masing. Apabila tidak ada penjajah yang datang maka masyarakat di nusantara tidak akan bersatu dalam satu cita – cita yaitu untuk mengusir penjajah dari tanah air sendiri. Bayangkan saja kalau memang sampai sekarang masih ada kerajaan – kerajaan yang sedang memerintah, mungkin kita kalau ingin pergi ke pulau sebelah mungkin harus menggunakan paspor karena sudah masuk negara lain.

6. Indonesia akan menjadi Negara yang Terbelakang

Yang selanjutnya yaitu Indonesia akan menjadi negara yang terbelakang. Memang bangsa para penjajah datang ke wilayah nusantara cukup lama hingga berhasil berdiri pemerintahan Hindia Belanda yang berkuasa. Dan banyak menimbulkan kekacauan ada dimana – mana.

Akan tetapi bangsa penjajah datang ke Indonesia juga membawa banyak manfaat yang bisa kita rasakan hingga saat ini yaitu sebagai berikut :

Pertama, yaitu pembangunan infrastruktur.

Para bangsa penjajah membangun banyak infrastruktur ketika sedang menjajah di Indonesia, tentu saja untuk kepentingan mereka para penjajah. Seperti jalan, sekolah, universitas, bangunan pemerintahan dan lain sebagainya. Jalan Anyer sampai Panarukan yang dibangun bangsa penjajah dengan memanfaatkan tenaga masyarakat pribumi dengan sistem kerja paksa adalah infrastruktur luar biasa yang dibangun dan hingga saat ini masih kita bisa rasakan. Dulu juga ada dibangun STOVIA dan juga Universitas yang dibangun, yang sekarang biasa dikenal dengan Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. Kemudian istana negara yang ditempati Bapak Presiden Joko Widodo adalah peninggalan dari bangsa penjajah.

Kedua, teknologi pengobatan.

Tanpa disadari para bangsa penjajah datang ke Indonesia juga membawa teknologi pengobatan. Bangsa penjajah datang ke Indonesia dengan membawa teknologi pengobatan dari Eropa dan bangsa barat lainnya, sehingga kita saat ini bisa merasakan warisan teknologi pengobatan yang bisa kita manfaatkan.

Ketiga, teknik pemerintahan (good governance).

Dengan adanya penjajah kita jadi tau dan bisa merasakan pemerintahan republik hingga saat ini. Dan juga banyak digunakan oleh negara di dunia saat ini. Tidak hanya itu, untuk sistem pertahanan negara juga kita mendapat ilmu pertahan yang baik dari Jepang, seperti nasionalisme, teknik berperang, persenjataan dan masih banyak lain sebagainya.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Ahmad Farohi
Ahmad Farohi

Seorang mahasiswa, peneliti, asisten peneliti, sehingga saya semakin tertarik dengan dunia tulis menulis. Dari pengalaman menjadi itu, saya Alhamdulillah saya berhasil menerjunkan tulisan saya di beberapa Jurnal nasional terakreditasi hingga di Google Scholar. Semakin saya terjun lebih dalam saya semakin bersemangat lagi untuk menulis, hingga saat ini saya menjadi Editor di lembaga Penerbit Kampus yaitu di IAIN Kudus Press.

Artikel: 12

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

76 + = 82