Manajemen Proyek Agile vs. Waterfall. Mana Yang Terbaik? Berikut Ulasannya

Manajemen proyek adalah pendekatan yang digunakan untuk mengatur dan mengoordinasikan sumber daya, waktu, biaya, dan lingkup proyek guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam dunia bisnis yang terus berkembang, penting bagi organisasi untuk menggunakan pendekatan yang tepat dalam mengelola proyek mereka. Dua pendekatan yang populer dalam manajemen proyek adalah Agile dan Waterfall.

Memilih pendekatan yang tepat dalam manajemen proyek memiliki dampak besar terhadap kesuksesan proyek. Setiap proyek memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, oleh karena itu penting untuk memilih pendekatan yang paling sesuai untuk proyek Anda. Salah memilih pendekatan dapat mengakibatkan penundaan, biaya yang tidak terkendali, atau bahkan kegagalan proyek secara keseluruhan. Dalam artikel ini, kami akan membandingkan dua pendekatan utama, yaitu Agile dan Waterfall, untuk membantu Anda memilih pendekatan yang tepat untuk proyek Anda.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang perbedaan antara pendekatan Agile dan Waterfall dalam manajemen proyek. Kami akan menjelaskan prinsip dasar, metodologi, kelebihan, dan kekurangan dari kedua pendekatan tersebut. Selain itu, kami juga akan memberikan panduan tentang bagaimana memilih pendekatan yang sesuai dengan proyek Anda, serta memberikan contoh kasus yang relevan. Dengan pengetahuan yang baik tentang perbedaan antara Agile dan Waterfall, Anda akan dapat membuat keputusan yang tepat dalam mengelola proyek Anda dengan efisiensi dan keberhasilan.

Dalam artikel ini, kami akan membahas poin-poin berikut:

  1. Pengenalan tentang manajemen proyek.
  2. Pentingnya memilih pendekatan yang tepat.
  3. Tujuan artikel.
  4. Definisi dan prinsip dasar Agile.
  5. Metodologi dan proses Agile.
  6. Kelebihan dan kekurangan Agile.
  7. Definisi dan prinsip dasar Waterfall.
  8. Metodologi dan proses Waterfall.
  9. Kelebihan dan kekurangan Waterfall.
  10. Perbandingan antara Agile dan Waterfall.
  11. Memilih pendekatan yang tepat untuk proyek Anda.
  12. Studi kasus: Contoh penerapan Agile dan Waterfall.
  13. Tips untuk mengimplementasikan Agile atau Waterfall dengan sukses.
  14. Kesimpulan.

Mengenal Manajemen Proyek Agile

Agile adalah suatu pendekatan dalam manajemen proyek yang berfokus pada kolaborasi tim, adaptabilitas, dan pengiriman nilai secara iteratif. Agile didasarkan pada Manifesto Agile, yang menekankan nilai-nilai seperti individu dan interaksi, perangkat lunak yang berfungsi, kerjasama dengan pelanggan, dan respons terhadap perubahan. Prinsip dasar Agile meliputi:

  1. Kolaborasi Tim. Mendorong tim untuk bekerja bersama, berbagi pengetahuan, dan bertukar ide secara teratur.
  2. Pengiriman Incremental. Proyek dikembangkan dalam iterasi pendek, dengan setiap iterasi menghasilkan produk yang dapat digunakan.
  3. Respons Terhadap Perubahan. Mengakui bahwa perubahan dalam kebutuhan dan persyaratan proyek adalah hal yang wajar, dan mengadaptasi rencana secara fleksibel.
  4. Umpan Balik Pelanggan. Melibatkan pelanggan dalam setiap tahap pengembangan untuk mendapatkan umpan balik yang berharga dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.

Metodologi dan proses Agile

Ada beberapa metodologi yang berbasis Agile, termasuk Scrum, Kanban, Extreme Programming (XP), dan Dynamic Systems Development Method (DSDM). Masing-masing metodologi memiliki pendekatan yang sedikit berbeda, namun semua didasarkan pada prinsip-prinsip Agile.

Scrum, misalnya, adalah salah satu metodologi Agile yang paling populer. Dalam Scrum, proyek dibagi menjadi iterasi pendek yang disebut “sprint”. Setiap sprint berlangsung selama beberapa minggu, dan tim bekerja untuk menghasilkan produk yang siap digunakan pada akhir setiap sprint.

Kanban, di sisi lain, adalah pendekatan yang lebih visual. Pekerjaan direpresentasikan sebagai kartu atau catatan di papan Kanban, yang bergerak melalui kolom berbeda yang mewakili tahapan kerja. Kanban memungkinkan tim untuk melihat alur kerja secara visual dan mengidentifikasi hambatan atau bottleneck yang perlu diatasi.

Kelebihan dan kekurangan Agile

Kelebihan Agile meliputi:

  • Fleksibilitas. Kemampuan untuk merespons perubahan kebutuhan proyek secara cepat dan efektif.
  • Keterlibatan Pelanggan. Melibatkan pelanggan dalam setiap tahap pengembangan memastikan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  • Pengiriman Incremental. Menghasilkan produk yang dapat digunakan pada akhir setiap iterasi, memberikan nilai lebih awal kepada pelanggan.
  • Kolaborasi Tim. Mendorong kerjasama, komunikasi, dan keterlibatan tim yang erat.

Namun, Agile juga memiliki beberapa kekurangan:

  • Kurangnya Prediktabilitas. Fokus pada fleksibilitas dapat mengakibatkan ketidakpastian dalam estimasi waktu dan biaya proyek.
  • Ketergantungan pada Keterlibatan Pelanggan. Membutuhkan partisipasi aktif dan pengambilan keputusan yang cepat dari pelanggan, yang dapat menjadi tantangan dalam beberapa kasus.
  • Kompleksitas Koordinasi. Proyek Agile sering melibatkan berbagai anggota tim yang bekerja pada berbagai fitur atau komponen, yang memerlukan koordinasi yang cermat.

Mengenal Manajemen Proyek Waterfall

Waterfall adalah pendekatan tradisional dalam manajemen proyek yang mengikuti urutan linier dan terstruktur. Pendekatan ini dikenal sebagai “waterfall” karena setiap tahap proyek berjalan secara berurutan dari satu tahap ke tahap berikutnya, seperti air yang mengalir turun dari atas ke bawah. Prinsip dasar Waterfall meliputi:

  • Tahapan Berurutan. Proyek dibagi menjadi tahapan yang terdefinisi dengan jelas, dimulai dari perencanaan, analisis, desain, pengembangan, pengujian, implementasi, hingga pemeliharaan.
  • Pendekatan Prediktif. Perencanaan yang rinci dilakukan di awal proyek, dengan sedikit ruang untuk perubahan selama proses pengembangan.
  • Output Bergantung pada Input Sebelumnya. Setiap tahap bergantung pada hasil tahap sebelumnya, dan kesalahan atau perubahan di tahap awal dapat berdampak pada tahap berikutnya.

Metodologi dan proses Waterfall

Dalam pendekatan Waterfall, setiap tahap proyek dijalankan secara berurutan dan tidak dimulai sebelum tahap sebelumnya selesai sepenuhnya. Setiap tahap memiliki tujuan dan hasil yang jelas sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Proses Waterfall melibatkan langkah-langkah berikut:

  1. Perencanaan. Membuat rencana proyek yang rinci, termasuk penentuan persyaratan, jadwal, dan alokasi sumber daya.
  2. Analisis. Menganalisis persyaratan proyek secara mendalam dan merancang solusi yang sesuai.
  3. Desain. Merancang struktur, arsitektur, dan antarmuka sistem berdasarkan persyaratan dan analisis sebelumnya.
  4. Pengembangan. Mengimplementasikan desain menjadi produk yang fungsional melalui pemrograman dan pengkodean.
  5. Pengujian. Menguji produk untuk memastikan kualitas dan kesesuaian dengan persyaratan yang ditetapkan.
  6. Implementasi. Mengimplementasikan produk ke lingkungan produksi dan memastikan siap untuk digunakan.
  7. Pemeliharaan. Menyediakan dukungan teknis, pembaruan, dan perbaikan untuk produk setelah implementasi.

Kelebihan dan kekurangan Waterfall

Kelebihan Waterfall meliputi:

  • Prediktabilitas. Rencana yang rinci memungkinkan estimasi waktu dan biaya yang lebih akurat.
  • Struktur yang Jelas. Tahapan yang berurutan memberikan panduan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan selama proyek.
  • Manajemen Mudah. Setiap tahap dapat diawasi dengan lebih mudah dan dapat dilakukan pengendalian yang ketat.

Namun, Waterfall juga memiliki beberapa kekurangan:

  • Kurangnya Fleksibilitas. Sulit untuk merespons perubahan kebutuhan atau perubahan di tengah jalan.
  • Risiko Kesalahan. Jika ada kesalahan di tahap awal, perbaikan mungkin memakan waktu dan biaya yang signifikan.
  • Keterbatasan Umpan Balik. Keterlibatan pelanggan dan umpan balik terbatas hingga tahap akhir proyek.

Perbandingan Antara Agile dan Waterfall

Fokus pada fleksibilitas vs. kestabilan

Agile dan Waterfall memiliki pendekatan yang berbeda dalam hal fleksibilitas dan kestabilan. Agile menempatkan fokus utama pada fleksibilitas, dengan kemampuan untuk merespons perubahan kebutuhan proyek secara cepat dan efektif. Dalam Agile, perubahan dapat terjadi dalam setiap iterasi, dan tim dapat mengadaptasi rencana dengan mudah.

Di sisi lain, Waterfall lebih menekankan pada kestabilan. Pendekatan ini melibatkan perencanaan yang cermat dan rinci di awal proyek, dengan sedikit ruang untuk perubahan di tengah jalan. Setiap tahap harus diselesaikan sepenuhnya sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya, mengedepankan kestabilan dan urutan yang terstruktur.

Pendekatan adaptif vs. prediktif

Agile adalah pendekatan adaptif, di mana perubahan dianggap sebagai hal yang alami dalam pengembangan proyek. Tim Agile memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan rencana, prioritas, dan fitur selama proses pengembangan. Pendekatan ini memungkinkan eksperimen, eksplorasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Sementara itu, Waterfall adalah pendekatan prediktif. Rencana yang rinci dibuat di awal proyek, dan setiap tahap harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa persyaratan dan kebutuhan proyek dapat diprediksi dengan akurat di awal, dan setiap langkah dijalankan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Manajemen risiko dan perubahan

Agile dan Waterfall juga berbeda dalam cara mereka mengelola risiko dan perubahan dalam proyek. Agile mengadopsi pendekatan yang proaktif terhadap risiko dan perubahan. Dalam Agile, tim secara terus-menerus mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko, dan dengan cepat merespons perubahan dengan melakukan penyesuaian rencana dan prioritas.

Di sisi lain, Waterfall cenderung mengelola risiko dan perubahan dengan cara yang lebih reaktif. Karena perubahan dihindari atau sulit dilakukan di tengah jalan, Waterfall memiliki risiko yang lebih tinggi jika ada perubahan kebutuhan atau ketidaksesuaian dengan rencana awal. Upaya mitigasi risiko biasanya dilakukan dengan perencanaan yang sangat detail di awal proyek.

Tim dan komunikasi

Pendekatan Agile sangat mendorong kolaborasi tim yang erat dan komunikasi yang intensif. Tim dalam Agile bekerja bersama secara terus-menerus, berbagi pengetahuan, dan bertukar ide secara reguler. Komunikasi yang baik antara anggota tim dan dengan pemangku kepentingan eksternal menjadi kunci keberhasilan Agile.

Waterfall, di sisi lain, cenderung memiliki struktur tim yang lebih terpisah. Setiap tahap proyek dijalankan secara berurutan, dan anggota tim bekerja pada tahap yang sesuai dengan peran dan spesialisasi mereka. Komunikasi dalam Waterfall lebih terfokus pada pemindahan informasi antar tahap, dengan peran manajemen yang lebih dominan.

Waktu, biaya, dan kualitas

Agile dan Waterfall juga memiliki dampak yang berbeda pada waktu, biaya, dan kualitas proyek. Agile memiliki kemampuan untuk menghasilkan nilai lebih awal dalam iterasi pendek. Dengan memprioritaskan fitur-fitur yang paling penting, Agile dapat memberikan produk yang dapat digunakan secara cepat kepada pelanggan. Namun, seringkali estimasi waktu dan biaya dalam Agile dapat menjadi sulit karena fleksibilitas yang tinggi.

Waterfall, di sisi lain, menempatkan penekanan yang lebih besar pada perencanaan yang rinci di awal proyek. Estimasi waktu dan biaya lebih mudah dilakukan dalam Waterfall karena langkah-langkahnya yang terstruktur. Namun, risiko kelebihan biaya dan penundaan yang signifikan dapat terjadi jika ada perubahan kebutuhan atau kesalahan di tahap awal.

Memilih Pendekatan yang Tepat untuk Proyek Anda

Pertimbangan proyek yang cocok untuk Agile

Pendekatan Agile cocok untuk proyek yang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi atau proyek yang mengharuskan perubahan kebutuhan yang sering. Berikut adalah beberapa pertimbangan proyek yang cocok untuk Agile:

1. Proyek dengan persyaratan yang berubah-ubah
Jika persyaratan proyek cenderung berubah seiring waktu, Agile memungkinkan tim untuk menyesuaikan rencana dan fitur produk dengan lebih fleksibel.

2. Proyek yang memerlukan inovasi dan eksperimen
Agile memungkinkan tim untuk menguji gagasan dan melakukan perbaikan berkelanjutan secara iteratif. Jika proyek Anda berfokus pada eksperimen dan inovasi, Agile dapat memberikan pendekatan yang lebih adaptif.

3. Proyek dengan pemangku kepentingan yang terlibat aktif
Jika proyek melibatkan pemangku kepentingan yang perlu terlibat secara langsung dalam pengembangan produk, Agile memberikan kesempatan untuk umpan balik yang lebih cepat dan kolaborasi yang erat.

Pertimbangan proyek yang cocok untuk Waterfall

Pendekatan Waterfall cocok untuk proyek dengan persyaratan yang jelas dan stabil di awal serta memiliki risiko yang dapat dikelola dengan baik. Berikut adalah beberapa pertimbangan proyek yang cocok untuk Waterfall:

1. Proyek dengan persyaratan yang tetap dan jelas
Jika persyaratan proyek sudah ditentukan dengan jelas dan tidak cenderung berubah secara signifikan, Waterfall dapat memberikan pendekatan yang lebih stabil dan terstruktur.

2. Proyek dengan risiko yang dapat diidentifikasi dan dikelola
Jika proyek memiliki risiko yang dapat diidentifikasi dengan baik dan dapat dikelola melalui perencanaan yang matang, Waterfall dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.

3. Proyek dengan estimasi waktu dan biaya yang kritis
Jika estimasi waktu dan biaya yang akurat sangat penting, Waterfall dapat memberikan kerangka yang lebih jelas dan dapat diprediksi dalam perencanaan proyek.

Hybrid dan pendekatan lainnya

Terkadang, proyek dapat memanfaatkan pendekatan yang menggabungkan elemen-elemen dari Agile dan Waterfall atau menggunakan pendekatan lain seperti Spiral atau Lean. Pendekatan Hybrid memungkinkan fleksibilitas dalam pengelolaan proyek dengan menggabungkan aspek-aspek yang sesuai dari setiap metode berbeda.

Misalnya, dalam pendekatan Hybrid, Anda dapat menggunakan Agile untuk tahap pengembangan produk dan pengujian awal, sementara mengadopsi Waterfall untuk tahap analisis dan perencanaan yang lebih terstruktur. Pendekatan Hybrid memungkinkan adaptabilitas yang lebih besar dalam menghadapi perubahan dan risiko yang dapat dikelola.

Mengidentifikasi kebutuhan dan tujuan proyek Anda

Penting untuk mengidentifikasi kebutuhan dan tujuan proyek Anda dengan jelas sebelum memilih pendekatan manajemen proyek. Evaluasilah tingkat kompleksitas proyek, tingkat ketidakpastian, dan kebutuhan fleksibilitas. Pertimbangkan juga kemampuan tim, pemangku kepentingan, dan lingkungan proyek.

Melibatkan pemangku kepentingan

Libatkan pemangku kepentingan terkait dalam proses pengambilan keputusan untuk memilih pendekatan yang tepat. Dengan mendengarkan pandangan dan kebutuhan mereka, Anda dapat memahami perspektif yang berbeda dan mempertimbangkan aspek-aspek yang penting bagi mereka.

Studi Kasus: Contoh Penerapan Agile dan Waterfall

Proyek yang menggunakan pendekatan Agile

Contoh proyek yang menggunakan pendekatan Agile adalah pengembangan perangkat lunak untuk aplikasi seluler. Tim pengembang menggunakan metodologi Scrum, yang merupakan salah satu pendekatan Agile yang populer. Mereka membagi proyek menjadi sprint dua mingguan dan mengadakan pertemuan harian untuk memantau kemajuan. Pelanggan terlibat secara aktif dalam setiap sprint, memberikan umpan balik yang berharga dan menetapkan prioritas fitur. Keuntungan dari pendekatan Agile dalam proyek ini adalah kemampuan untuk merespons perubahan kebutuhan pelanggan dengan cepat dan menghasilkan versi produk yang dapat digunakan secara berkala.

Proyek yang menggunakan pendekatan Waterfall

Contoh proyek yang menggunakan pendekatan Waterfall adalah pembangunan jembatan. Proyek ini memiliki persyaratan yang stabil dan jelas di awal, termasuk desain, estimasi biaya, dan jadwal yang rinci. Tim mengikuti langkah-langkah yang terstruktur, dimulai dari perencanaan, analisis lingkungan, desain struktural, konstruksi, hingga penyelesaian. Setiap tahap harus diselesaikan sepenuhnya sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Keuntungan dari pendekatan Waterfall dalam proyek ini adalah prediktabilitas yang tinggi dalam estimasi waktu dan biaya, serta pengelolaan risiko yang terstruktur.

Keberhasilan dan Kendala dalam menerapkan kedua pendekatan

Kedua pendekatan, Agile dan Waterfall, memiliki keberhasilan dan kendala dalam penerapannya.

Agile dapat mencapai keberhasilan dengan memberikan fleksibilitas, respons cepat terhadap perubahan, dan pelibatan aktif pemangku kepentingan. Namun, tantangan yang mungkin timbul dalam penerapannya adalah kesulitan dalam estimasi waktu dan biaya, perubahan kebutuhan yang konstan, dan kebutuhan akan komunikasi yang intensif dan kolaborasi tim yang kuat.

Waterfall dapat mencapai keberhasilan dengan memberikan struktur yang jelas, estimasi waktu dan biaya yang lebih mudah, dan risiko yang teridentifikasi dengan baik. Namun, kendala yang mungkin dihadapi dalam penerapannya adalah kurangnya fleksibilitas dalam menghadapi perubahan, risiko yang sulit diatasi jika terjadi kesalahan di tahap awal, dan tantangan dalam melibatkan pemangku kepentingan secara aktif.

Pemilihan pendekatan yang tepat tergantung pada sifat dan kebutuhan proyek, serta kemampuan dan preferensi tim pengembang. Penting untuk mempertimbangkan kelebihan, kekurangan, dan keterbatasan dari masing-masing pendekatan serta lingkungan proyek yang relevan.

Tips untuk Mengimplementasikan Agile atau Waterfall dengan Sukses

Memilih tim yang tepat

Pemilihan tim yang tepat sangat penting untuk kesuksesan implementasi baik Agile maupun Waterfall. Pastikan tim memiliki keahlian yang sesuai dengan pendekatan yang akan digunakan. Tim juga harus memiliki kemampuan kolaborasi yang baik, komunikasi yang efektif, dan keterampilan manajemen proyek yang diperlukan. Selain itu, pastikan bahwa anggota tim memiliki komitmen yang tinggi terhadap proyek dan siap bekerja sesuai dengan metodologi yang dipilih.

Mengkomunikasikan harapan dan tujuan dengan jelas

Komunikasi yang jelas tentang harapan dan tujuan proyek sangat penting dalam implementasi baik Agile maupun Waterfall. Sampaikan kepada tim dan pemangku kepentingan tentang apa yang diharapkan dari proyek, batasan dan persyaratan yang perlu dipenuhi, serta tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang ingin dicapai. Pastikan semua pihak terlibat memahami dengan jelas apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana kontribusi mereka akan berdampak pada keseluruhan proyek.

Menggunakan alat dan teknologi yang sesuai

Pemilihan alat dan teknologi yang sesuai dengan metodologi yang dipilih sangat penting untuk memastikan kelancaran implementasi. Dalam Agile, alat untuk manajemen backlog, pelacakan sprint, dan kolaborasi tim seperti Kanban board atau platform manajemen proyek Agile dapat digunakan. Sedangkan dalam Waterfall, alat untuk perencanaan, jadwal, dan pelaporan seperti Gantt chart atau alat manajemen proyek tradisional dapat membantu mengelola proyek dengan lebih efisien. Pastikan tim memiliki pemahaman dan akses yang cukup terhadap alat dan teknologi yang digunakan.

Menerapkan siklus perbaikan berkelanjutan

Terlepas dari pendekatan yang digunakan, penting untuk menerapkan siklus perbaikan berkelanjutan dalam manajemen proyek. Evaluasi secara berkala progres proyek, pelajari dari pengalaman, dan terapkan perbaikan yang diperlukan. Di Agile, retrospektif dilakukan di akhir setiap sprint untuk mengidentifikasi peluang perbaikan. Dalam Waterfall, evaluasi dan analisis pasca-proyek membantu dalam mengidentifikasi pelajaran yang dapat diterapkan di masa depan. Dengan mengadopsi siklus perbaikan berkelanjutan, tim dapat terus meningkatkan proses dan kualitas pengelolaan proyek.

Kesimpulan

Dalam manajemen proyek, memilih pendekatan yang tepat antara Agile dan Waterfall sangat penting untuk kesuksesan proyek Anda. Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik proyek yang sedang Anda kerjakan.

Agile, dengan fokus pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan kolaborasi tim, cocok untuk proyek yang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi atau kebutuhan perubahan yang sering. Agile memungkinkan tim untuk merespons perubahan dengan cepat, menghasilkan produk yang dapat digunakan secara iteratif, dan melibatkan pemangku kepentingan secara aktif dalam pengembangan produk.

Di sisi lain, Waterfall, dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan prediktif, cocok untuk proyek dengan persyaratan yang stabil dan jelas di awal, serta risiko yang dapat dikelola dengan baik. Waterfall memberikan prediktabilitas yang tinggi dalam estimasi waktu dan biaya, serta pengelolaan risiko yang terstruktur.

Dalam memilih pendekatan yang tepat, penting untuk mempertimbangkan sifat proyek, tingkat ketidakpastian, kebutuhan fleksibilitas, dan keterlibatan pemangku kepentingan. Jika proyek Anda memiliki persyaratan yang cenderung berubah dan membutuhkan inovasi, Agile dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Namun, jika proyek memiliki persyaratan yang stabil dan prediktibilitas waktu dan biaya penting, Waterfall dapat lebih sesuai.

Selain itu, Anda juga dapat menggabungkan elemen dari kedua pendekatan atau menggunakan pendekatan Hybrid sesuai kebutuhan proyek. Pendekatan Hybrid memungkinkan adaptabilitas yang lebih besar dengan menggabungkan aspek-aspek yang sesuai dari Agile dan Waterfall.

Dalam mengimplementasikan Agile atau Waterfall, ada beberapa tips yang dapat membantu Anda mencapai kesuksesan. Pilih tim yang tepat dengan keterampilan dan komitmen yang sesuai, komunikasikan harapan dan tujuan proyek dengan jelas, gunakan alat dan teknologi yang sesuai dengan metodologi yang dipilih, dan terapkan siklus perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan proses pengelolaan proyek.

Dengan pemahaman yang baik tentang perbandingan antara Agile dan Waterfall, serta dengan mempertimbangkan kebutuhan dan tujuan proyek Anda, Anda dapat memilih pendekatan yang tepat dan mengelola proyek Anda dengan efisiensi dan keberhasilan.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Tim LPKN
Tim LPKN

LPKN Merupakan Lembaga Pelatihan SDM dengan pengalaman lebih dari 15 Tahun. Telah mendapatkan akreditasi A dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Pemegang rekor MURI atas jumlah peserta seminar online (Webinar) terbanyak Tahun 2020

Artikel: 424

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 5 =