Model Pembangunan Desa Berbasis Kolaboratif-Integratif Antara Kepala Desa dengan Orang Kuat Lokal (Local Strongman) Dalam Mewujudkan Konsep Walfare Village

Oleh : Abu Tazid, S.Sos., M.Si

Foto di ambil dari Facebook/@DesaTaman
Foto di ambil dari Facebook/@DesaTaman

Secara definisi kata desa berasal dari bahasa India Swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup dengan berbagai norma serta memiliki batas yang jelas. Melihat konstruksi konsep desa tersebut, maka kita akan menemukan banyak istilah yang bisa ditemukan dalam masyarakat kita mengenai konsep desa tersebut, diantaranya dusun bagi masyarakat Sumatera Selatan, Dati bagi masyarakat Maluku, Kuta bagi masyarakat Batak, Nagari dalam penyebutan masyarakat Minang atau Wanua di Minahasa ( Yayuk dan Poernomo, 2003).

Menurut Muhammad (1995), sistem pedesaan yang maju terdiri dari lima komponen dasar pembentuknya, jika dipandang dari perspektif fisik dan manusia berdasarkan interaksi serta kelembagaan sosialnya, yaitu:

Komponen Sumber Daya Pertanian dan Lingkungan Hidup, sebagai sebuah sumber input dan peran penting bagi subsistem perekonomian serta penunjang segala aspek kehidupan masyarakat.

Komponen Perekonomian Wilayah Pedesaan, meliputi berbagai aktifitas ekonomi di bidang pertanian dalam menghasilkan sebuah produk pertanian dalam dua dimensi dasar, yaitu sebagai alat pemenuhan kebutuhan serta dapat memenuhi permintaan pasar diluar daerah, baik komoditi primer maupun komoditi sekunder.
Komponen Institusi Sosial, yaitu aktifitas pertanian yang ditandai dengan simbiosis mutualis antara berbagai pihak yang dapat mendukung proses kemajuan desa antara para petani, pemerintah, NGO, intelektual, penyebar inovasi, pengelola saprodi usaha tani dan berbagai pemberi fasilitas distribusi barang dan produk pertanian. Sebab, hubungan yang sinergi dan simultan dari berbagai komponen pembangunan desa akan berpengaruh terhadap tingkat produktifitas dan penghasilan masyarakat pedesaan.

Komponen Sumber Daya Manusia, merupakan bagian terpenting dari terbentuknya wilayah desa yang maju dan berkembang, sebab kualitas pembangunan desa secara keseluruhan akan ditentukan oleh kehandalan manusia sebagai subyek yang menjalankan program pembangunan desa. Oleh sebab itu, peningkatan skill manajerial, multi-tasking serta mampu beradaptasi dengan perubahan sistem ketenagakerjaan juga menjadi penentu akan keberlanjutan desa dalam berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, budaya, pengembangan inovasi dsb.

Komponen Ketersediaan Infrastruktur, merupakan bagian penunjang dari berbagai hal terutama berkaitan dengan komponen kelembagaan sosial, sebab keberadaannya secara fungsional akan memperjelas antara sarana fisik yang sifatnya produktif dengan aktifitas sosial.

Sedangkan dalam berbagai kegiatan masyarakat desa (rural community) memiliki tipologi jika dilihat dalam pengelolaan lahan, lingkungan dan kelembagaan sosialnya, yaitu:

Desa Pertanian, merupakan masyarakat yang hidup dengan menjadikan sektor pertanian sebagai okupasi atau mata pencahariannya, baik melalui aktifitas pertanian basah, pertanian kering, perkebunan, tambak dan nelayan.

Desa Perternakan, merupakan masyarakat yang hidup dengan menjadikan aktifitas beternak sebagai mata pencaharian utamanya.

Desa Industri, merupakan masyarakat yang hidup dengan menjadikan aktifitas industri sebagai penunjang ekonomi melalui aktifitas produksi berbagai hal, baik dari segi pertanian maupun dari kerajinan tangan, perabot rumah tangga, ukiran, konveksi dan lain sebagainya.

Akan tetapi, permasalahan utama yang dialami oleh masyarakat pedesaan di Indonesia pada khususnya mengenai masalah kemiskinan (poverty). Kemiskinan di desa pada dasarnya ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan berbagai hal yang berada pada individu atau masyarakat itu sendiri, seperti rendahnya motivasi, minimnya modal, lemahnya penguasaan aspek manajemen dan tekonologi serta etos kerja. Sedangkan faktor eksternal berkaitan pengaruh luar berkaitan dengan ketidakberdayaan masyarakat, kurangnya daya dukung, rendahnya aksestabilitas dan infrastruktur penunjang (Sumodiningrat, 2002).

Oleh Sebab itu, program Presiden Joko Widodo sejak periode pertama hingga periode kedua hari ini adalah membangun Indonesia dari pinggiran dengan membangun desa tertinggal dan perbatasan Indonesia sebagai wajah terluar Indonesia, sehingga muncullah Program Distribusi Dana Desa yang dianggarkan 1 Milyar/lebih tiap tahunnya berdasarkan luas wilayah, cakupan dan beban pembangunan desa itu sendiri, sebagai upaya pemerataan pembangunan hingga ke desa serta penguatan desentralisasi pembangunan berbasis lokalistik melalui sistem pemberdayaan masyarakat dan padat karya.

Konsep Orang Kuat Lokal Dalam Masyarakat Madura
Joel S. Migdal : Local Strong Man (2004) Dalam politik, keberadaan struktur politik, infrastruktur politik dan supra struktur politik akan tampak dalam berbagai dimensi, yaitu secara akmumulatif berkaitan dengan posisi, mesin, tradisi, bergaining, pendidikan dan kultur, sangat mempengaruhi sirkulasi politik dan berbagai eksistensi, termasuk pemimpin dalam politik. Migdal, merupakan pemikir yang menawarkan konsep kepemimpinan politik dengan istilah “orang kuat lokal” atau yang lebih dikenal dengan sebutan local strongman yang memiliki pengaruh dalam berbagai bidang berdasarkan kekayaan yang dimilikinya, sehingga dengan segala kemampuannya dapat melakukan kontrol sosial. sedangkan, John T. Tidel, menyebutnya dengan istilah Bosisme atau Bosism, yang merupakan peran elit lokal berafiliasi dengan birokrat, militer, mesin politik, pengusaha, pimpinan organisasi politik dan preman.

Local Strongman, berhasil menempatkan diri dan para anggota keluarganya dalam sejumlah jabatan tertentu dalam struktur politik, sebagai upaya ekspansi politiknya untuk mengendalikan dan menjamin sumber-sumber daya berjalan sesuai dengan aturan mereka sendiri, ketimbang regulasi yang ditetapkan oleh pelaksana aturan, sehingga kebijakan local strongman bisa bersifat otoritatif.

Migdal, menggambarkan skema local strongman dengan tiga argumentasi, yaitu:
Local Strongman, digambarkan sebagai Melange, atau sekumpulan campuran, dengan organisasi yang nyaris otonom, namun kontrol sosial yang efektif terpecah-pecah, akan tetapi bisa terintegrasi dalam jaringan tertentu sesama orang kuat, sehingga otoritasnya melebihi negara,

Local Strongman, digambarkan relasinya “Patron-Client”, dengan sistem klientisme, dan sebutan personalisme, sebab orang kuat lokal sebagai pemegang legitimasi,

Local Strongman, digambarkan relasinya langsung dengan jabatan formal dalam struktur negara, sehingga memiliki otoritas mempengaruhi kebijakan negara, kapasitas negara dan otonomi negara, sehingga negara cenderung kurang memiliki power.

Eksistensi dan keberadaan local strongman atau orang kuat lokal merupakan implikasi logis dari terbentuknya akomodasi, network, dan aliansi local strongman bersama aparat birokrasi agama, dan politisi tingkat lokal, sehingga local strongman bisa memosisikan dirinya pada posisi vital dalam struktur kekuasaan yang dapat memberikan jaminan kestabilan politik tingkat lokal, sebab kelebihan local strongman dapat melakukan mobilisasi massa dengan cukup baik.

Peran Orang Kuat Lokal Dalam Pembangunan Desa (Studi Pembangunan Pada Desa Taman, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang)

Berdasarkan pemaparan sederhana mengenai konsep desa, pembangunan dan orang kuat lokal. Penting melihat relasi keduanya berdasarkan keberhasilan Desa Taman, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang dalam membuat model pembangunan desa yang kolaboratif-integratif, dimana kepala desa dengan perangkatnya menggandeng orang kuat lokal desa sebagai mitra pembangunan desa dalam upaya mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat secara bersama-sama dengan menyeimbangkan peran masing-masing, yaitu kepala desa sebagai aparat perpanjangan tangan dari pemerintah pusat dalam mewujudkan cita-cita besar pembangunan dengan orang kuat lokal yang merupakan pimpinan adat masyarakat yang sangat dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat lokal.

Dalam adagium masyarakat Madura, ada beberapa orang yang harus dihormati dan dimulyakan oleh masyarakat serta dikenal dengan istilah Buppa’, Babbhu, Guru, Rato (Bapak, Ibu, Guru dan Pemerintah), sehingga masyarakat Madura sangat menghormati orang tua, terutama sosok Ibu yang diistilahkan dengan petappaan (tempat mulia menuju surga) serta Kyai sebagai leadher informal dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat Madura termasuk membangun desa.

Didahului dengan sistem pengajuan kepala desa yang dilakukan melalui restu orang kuat lokal (Kyai) desa Taman, serta evaluasi pembangunan desa Taman menjadi model kolaborasi yang terintegratif dan dijadikan rujukan bagi masyarakat dalam mendukung program kepala desa, sehingga, prospek pembangunan Desa Taman dapat terlihat dalam dua masa periode kepemimpinan Bapak Jamali, S.Pd., MH (Kepala Desa Taman) dengan berbagai kemajuan yang dicapai dengan berbagai pengembangan, diantaranya:

Penguatan program kesetaraan gender dengan menunjuk Ibu Wasilah (35) sebagai sekretaris desa. Hal itu tentu cukup mengagetkan masyarakat jika melihat kultur masyarakat Madura yang masih kuat dengan Patriarki.

Pengembangan Potensi Pemuda, dengan diberikannya kepercayaan terhadap Anak Muda dalam hamper 70 persen perangkat desa termasuk dalam pelaksanaan program strategis desa.

Pengembangan Ekonomi Masyarakat dengan mendorong bertumbuh kembangnya UMKM di desa Taman yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan. Diantaranya, beredarnya Kopi Blater yang memiliki izin dari Disperindag, kabupaten Sampang. Bahkan produksinya sudah sampai ke Malaysia dan Singapura melalui sistem pemasaran yang memanfaatkan penduduk desa Taman yang bekerja di luar negeri. Selain Kopi Blater yang sudah cukup punya nama, ada juga pengembangan Jamudin atau Pop Corn ala desa Taman serta ada pula pengembangan Permen Jamu yang terus dikembangkan dan dalam tahap pemasaran. Serta pengembangan Hasil BUMDES melalui produk yang dihasilkan, diantaranya lenting tepung singkong, kripik pisang.

Pengembangan Karang Taruna dan Pemuda Sadar Wisata, sehingga program bersih-bersih lingkungan desa dan bersih-bersih pantai menjadi agenda strategis bagi tumbuh berkembangnya kesadaran lingkungan dari masyarakat terutama pemuda, bahkan desa Taman kini sedang membuka dan mengembangkan Destinasi Wisata Pantai dan Bakau yang menjadi prioritas pembangunan.

Selain itu, berdasarkan rekomendasi orang kuat lokal desa Taman, pemerintah Desa Taman dapat membuka berbagai akses jalan baru bagi dusun-dusun yang terisolasi yang dapat menghubungkan antara 7 Dusun yang berada di desa Taman dan dapat terkoneksi dengan desa lainnya. Bahkan sistem pengerjaannya menggunakan pendekatan padat karya dengan mengikutsertakan masyarakat des ataman sebagai pelaku pembangunan.
Pelaksanaan Program Pelayanan Berbasis Digital, sehingga semua hal yang berkaitan dengan data base desa Taman dapat diakses masyarakat serta bisa dilihat di Website desa Taman yaitu tamandesa.ac.id.

Program Smart Village, dimana desa Taman memiliki tower internet yang cukup memadai serta bisa diakses oleh masyarakat desa Taman secara gratis selama 24 jam di 6 titik strategis sebagai pusat pilot project-nya. Akan tetapi, akses internat akan secara otomatis tidak dapat diakses pada waktu tertentu yaitu waktu shalat 5 waktu. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga identitas desa Taman yang dikenal dengan masyarakat religious.

Program kendaraan desa gratis, juga merupakan program andalan desa Taman yang terus diandalkan hingga hari ini, terutama sebagai kendaraan dalam menunjang kebutuhan kesehatan masyarakat dsb.

Program strategis dan juga sangat sensitif mengenai Distribusi Bantuan Sosial Tepat, baik bantuan-bantuan sosial sebelum pandemi maupun distribusi bantuan khusus masyarakat terdampak pandemi yang berlangsung kondusif tanpa konflik. Sebab pendekatan yang dilakukan adalah produk data yang dihasilkan mendekati valid, akurat dan efektif, sehingga penyalurannyapun boleh dibilang sangat tertib.

Model pembangunan kolaboratif-integratif antara kepala desa Taman dengan Tokoh masyarakat yang menjadi orang kuat lokal tersebut selama ini berlangsung sangat positif bagi pembangunan desa yang memiliki APB-Des sebesar 1.5 Milyar ini. Pemanfaatan yang partisipatif dari 7 Dusun Trebung, Taman Barat, Taman Timur, Macanan, Jeng pa’e, Koncop Pramian, juga menjadi kunci suksesnya semua program yang dicanangkan oleh pemerintah desa. Upaya ini merupakan salah satu langkah progresif dalam pengelolaan desa maju dalam rangka menyumbang modal positif untuk pemerintah Kabupaten Sampang yang menjadi daerah termiskin di Jawa Timur. Oleh sebab itu, inovasi pembangunan harus terus digalakkan untuk membangun kualitas desa menuju walfare village dan walfare society melalui prinsip transparansi, dedikasi dan berintegrasi pada tanggung jawab.

Sumber :
Tazid, Abu. 2020. Interrelasi Disiplin Ilmu Sosiologi. Catatan Kunci dan Ikhtisar Teoritik. Surabaya:Jakad Mudia Publishing
Yulianti, Yayuk & Mangku Poernomo. 2003. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta:Lappera Pustaka
APD-Des, Desa Taman, Tahun 2020
Hasil Wawancara dengan Kepala Desa dan Aparat Desa

 

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Mata Abu
Mata Abu

Penulis lepas
Tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Swasta
Telah menerbitkan dua judul buku
"Tokoh, Konsep dan Kata Kunci Teori Postmoderen" (2017)
"Interelasi Disiplin Ilmu Sosiologi : Catatan Kunci dan Ikhtisar Teoritik" (2020)

Artikel: 12

42 Comments

  1. Orang kuat lokal yang dimaksud tulisan anda ini Kyai/Blater bapak, sebab teori Migdal itu arahnya pada Bosism. Terimakasih. Tulisan anda sangat inspiratif, mengangkat pembangunan desa, semoga desa di Sampang bisa bangkit tentunya dengan dukungan pemerintah daerah.

    • Saya sepakat dengan mbak Ainun
      Rasanya agak rancu memang local strong man di sini hanya disebutkan 1 tokoh sedangkan faktanya masyarakat Madura hanya bisa di pegang oleh orang yang di sungkani yakni Kiai atau orang di takuti oleh masyakat yakni Bajing/Blater

  2. Tulisan anda sangat inspiratif, mengangkat pembangunan desa, semoga desa di Sampang bisa bangkit tentunya dengan dukungan pemerintah daerah.

  3. Artikelnya bagus mengangkat tema desa dan bisa membantu mempromosikan salah satu desa di Kabupaten Sampang, Madura.
    Sayangnya tidak disertakan foto-foto hasil produksi dari UMKM Desa Taman.
    Semoga muncul desa-desa lain yang bisa menjadi inspirasi.

  4. Pengembangan Desa memang harus sudah mengarah pada inovasi dan mandiri, terima kasih atas komentarnya pak

  5. Mantap
    Lanjutkan anakku
    Tulisannya sangat inspiratif
    Dinanti tulisan2 tentang madura lainnya

    • Tidak pak, orang kuat lokal tidak hanya di Madura, contoh kalo diluar daerah kepala suku, kepala adat, dll
      intinya org yg punya pengaruh kuat di daerah/wilayah tertentu

  6. Terima kasih semuanya, untuk diskusi mengenai Local Strong man bisa temui saya di FB Mas Abu untuk melanjutkan ketertarikan saudara.

  7. intinya yang dimaksud orang kuat lokal itu adalah orang yang berpengaruh dalam perkembangan teorinya Kak Ainun.
    adapun untuk Desa Torjun, saya harus berdasarkan riset untuk melihat pengembangan desa, sebab Torjun sudah daerah transisi dari desa ke kota, tapi akan saya pertimbangkan, yang penting potensi nya apa dulu, itu saya harus survey.

  8. intinya yang dimaksud orang kuat lokal itu adalah orang yang berpengaruh dalam perkembangan teorinya Kak Ainun.

    adapun untuk Desa Torjun, saya harus berdasarkan riset untuk melihat pengembangan desa, sebab Torjun sudah daerah transisi dari desa ke kota, tapi akan saya pertimbangkan, yang penting potensi nya apa dulu, itu saya harus survey.

  9. Sekedar koreksi ada beberapa kesalahan penulisan yakni penulisan beberapa kata yang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa lainnya selain bahasa Indonesia yang tidak dimiringkan Pak Abu.
    Semoga bisa menjadi saran yang membantu.

  10. Terima kasih masukannya Kak SH, akan saya perbaiki tata cara penulisan tersebut. masukannya yang berharga

  11. Pembangunan di desa memang harus diutamakan, makanya cari kepala desa harus yang jujur, itu yang terpenting

  12. Mini riset saya Mas Emil di salah satu desa di Sampang, saya juga menyelesaikan mini riset saya di Kampung Nelayan

  13. Desa memang harus diperhatikan keberlanjutan pembangunannya, supaya bisa produktif dan terus berkembang

  14. Saya baca Kab. Sampang di Jatim termiskin, jadi semua desa harus berinovasi serta didukung pemda

  15. Kita dukung program desa yang memakmurkan desa buka yang memakmurkan pejabat desa. Terima kasih atas perhatiannya temen-temen

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 4 =