Pendidikan 4.0

Mempersiapkan Murid Bersaing di Revolusi Industri 4.0 Melalui Pendidikan 4.0

Saat ini, kita berada dalam revolusi industri 4.0 di mana teknologi menjadi “pemeran utama”. Revolusi tersebut mendorong lahirnya pendidikan 4.0 di mana guru dan murid diajak berpikir kreatif dengan bantuan teknologi demi menghasilkan SDM unggul untuk memenuhi kebutuhan industri.

—–

Istilah revolusi industri 4.0 dicetuskan pertama kali dalam perhelatan Hannover Messe pada 2011, sebuah pameran perindustrian yang berlangsung di Kota Hanover, Jerman. Namun, sebenarnya, prosesnya sudah dimulai pada akhir 1990-an.

Singkatnya, dalam revolusi industri 4.0, banyak hal yang dapat terselesaikan dengan bantuan teknologi bernama internet. Contoh paling gampang adalah munculnya banyak perusahaan rintisan yang mengandalkan internet dalam menjalankan bisnisnya.

Lewat perusahaan-perusahaan tersebut, apa pun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan mudah, misalnya tiket transportasi, barang kebutuhan sehari-hari, pemesanan ojek, bahkan obat.

Kehadiran perusahaan rintisan melahirkan profesi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, misalnya UX writer, UX researcher, data analyst, dan SEO specialist. Saat ini, permintaan terhadap profesi-profesi tersebut sedang meningkat dan diprediksi akan meningkat ke depannya. Adalah tugas institusi pendidikan untuk menjadikan murid mereka unggul sehingga nantinya bisa memenuhi permintaan tenaga kerja tersebut.

Literasi pendidikan 4.0

Inilah yang kemudian mendorong lahirnya pendidikan 4.0, sistem pendidikan yang mengajak guru dan murid untuk berpikir kritis dan kreatif dengan bantuan internet sehingga nantinya murid siap bersaing memenuhi kebutuhan perusahaan di era revolusi industri 4.0.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 2014—2019 Mohamad Nasir mengatakan, terdapat tiga literasi dalam pendidikan 4.0: literasi data, teknologi, dan manusia.

Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan mengolah data menjadi informasi yang tepat guna. Literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami aplikasi sebuah teknologi dan kemampuan untuk bekerja menggunakan teknologi. Literasi manusia adalah kemampuan untuk bekerja sama, berkomunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif.

Nasir mengatakan, sebaik apa pun literasi data dan teknologi yang kita miliki, namun jika kita tidak bisa bekerja sama dengan baik, sama saja percuma. Artinya, ketiga literasi tersebut saling melengkapi satu sama lain dan untuk bisa sukses di revolusi industri 4.0, ketiganya harus dimiliki.

Lantas, seperti apa model pembelajaran dalam pendidikan 4.0? Berikut empat di antaranya.

1. Guru dan buku cetak bukan satu-satunya sumber informasi

Guru meminta murid membuka halaman tertentu dari sebuah buku, lalu guru menjelaskan. Model pembelajaran seperti itu tidak berlaku pada pendidikan 4.0. Selain dari guru dan buku cetak, murid bisa memperluas pengetahuan mereka melalui internet, misalnya dari Google, buku daring, YouTube, atau melalui aplikasi pembelajaran.

Pun guru tidak selalu menjadi pemberi informasi. Guru diharapkan memberi kesempatan pada murid untuk turut memberikan informasi, misalnya dengan meminta mereka mengutarakan hal tambahan yang mereka temukan dari internet yang tidak ada di buku. Murid belajar dari guru, guru belajar dari murid

2. Belajar secara kreatif

Pada pendidikan 4.0, cara mengajar guru tidak hanya dengan menerangkan di depan kelas. Guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan lebih kreatif, misalnya dengan mengadakan diskusi atau debat, membuat gim, atau menggunakan video di YouTube atau konten di media sosial sebagai bahan pembelajaran.

Cara-cara di atas juga bisa diterapkan saat melaksanakan ujian sehingga ujian tidak lagi sekadar menuliskan jawaban di atas selembar kertas. Model pembelajaran yang kreatif pada akhirnya dapat merangsang murid untuk berpikir kreatif dan kritis, dua karakteristik yang dicari oleh perusahaan di era revolusi industri 4.0

 3. Tidak menghapal, tetapi memahami

Cara lain mengembangkan kreativitas dan daya berpikir kritis murid adalah dengan memberikan soal ujian dalam bentuk studi kasus. Tujuannya adalah melatih murid menerapkan teori yang telah mereka pelajari untuk menyelesaikan sebuah kasus. Hapal teori itu baik. Namun, akan lebih baik jika bisa memahami dan mengaplikasikannya pada kondisi tertentu.

4. Belajar dari ahlinya

Tujuan pendidikan 4.0 adalah memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri. Oleh karenanya, institusi pendidikan bisa mengundang pegawai perusahaan untuk menjadi guru atau dosen tamu.

Dengan demikian, murid dapat belajar langsung dari ahlinya, dari orang yang sudah berkecimpung di bidang pekerjaan tertentu. Harapannya, mereka punya gambaran lebih jelas seperti apa pekerjaan, lingkungan kerja, dan keahlian yang harus dimiliki untuk bekerja di bidang tersebut.

Selain itu, institusi pendidikan—dalam hal ini universitas—bisa pula bekerja sama dengan perusahaan untuk memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk magang. Dengan magang, keterampilan mahasiswa akan makin terasah sehingga setelah lulus, mereka makin siap bekerja.

Sumber:

www.zenius.net/blog/21104/revolusi-industri-4-0

https://tirto.id/sejarah-revolusi-industri-dari-10-hingga-40-dhhu

https://kabar24.bisnis.com/read/20190407/79/908779/menristekdikti-mahasiswa-harus-kuasai-tiga-literasi-baru

https://www.kompas.com/edu/read/2020/04/03/162000071/hadapi-revolusi-industri-40-dunia-pendidikan-harus-bagaimana

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Laras
Laras

Kelahiran '95. Menetap di Surabaya. Pernah bekerja sebagai copywriter. Kini menjadi freelance content writer.

Artikel: 8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *