Sebuah Refleksi Terhadap Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Memasuki masa digitalisasi, masa tersebut merupakan pengalaman yang sejatinya membawa keuntungan bagi banyak pihak. Dengan digitalisasi, berbagai hal yang sebelumnya tidak memungkinkan untuk diadakan, menjadi suatu hal yang nyata. Sektor-Sektor kehidupan yang berhasil disusupi, bahkan hampir menyeluruh. Suatu pandangan yang bersifat nista jika masih ada kalangan yang beranggapan bahwa masih ada sektor kehidupan manusia yang intact dari pengaruh digitalisasi. Asumsinya, tulisan ini tidak memandang keberadaan suku yang jauh berada di dalam hutan, atau para sentinel. Memang kejam, tetapi tulisan ini hanya berusaha memandang sejauh hal-hal yang bisa dipahami dan dialami oleh kebanyakan umat manusia moderni ini.

Digitalisasi merujuk kepada proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Data-Data yang berhubungan dengan kehidupan manusia, atau salah satu komponen penyusunnya, dikumpulkan, dan disimpan ke dalam suatu server yang berpusat. Hal ini membawa keuntungan sebab mempermudah masing-masing individu untuk mengakses data-data bukan sensitif yang dianggap perlu.

Pendidikan adalah salah satu unsur yang mengalami digitalisasi saat ini. Hal ini seharusnya menguntungkan. Akses menuju pendidikan dibuka lebar, dan setiap kalangan berpotensi untuk memanfaatkannya demi tujuan yang baik.

Pembelajaran tidak lagi mesti difokuskan kepada figur guru, atau figur dosen bagi pendidikan tinggi. Para pencari ilmu bisa memanfaatkan digitalisasi untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Kreativitas masing-masing individu menjadi kunci utama untuk berkembang lebih pesar di era ini. Sekali lagi, siapapun berpotensi untuk mendapatkan akses menuju informasi-informasi kependidikan.

Digitalisasi membuka peluang bagi daerah-daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T) untuk menghapus labelisasi berkonotasi jelek tersebut. Peran aktif negara, berupa pemberian insentif dana dan pengadaan infrastruktur merupakan salah satu bukti bahwa bidang ini memang dikampanyekan dalam skala besar. Tujuannya tentu mulia, dan telah disiratkan di beberapa kalimat sebelumnya, yaitu memperluas jangkauan masyarakat Indonesia terhadap pendidikan. Dengan demikian, anak-anak daerah 3T diberi kesempatan besar untuk mengejar ketertinggalan mereka, bahkan melejit dan mendahului kualitas anak-anak di daerah lain, seperti halnya prinsip “backwardness advantage” di dalam prinsip ekonomi pembangunan.

Keuntungan ini tidak semata diarahkan kepada mereka yang berada di daerah 3T semata, tetapi mereka yang berada di daerah yang lebih berkembang. Setidaknya, jumlah pemakai internet di Indonesia (disebut juga ‘netter’) mencapai angka 171,71 juta jiwa. Fakta yang lebih menarik, bahwa segmen pengguna terbesar berada di rentang usia 15-19 tahun, yaitu sebesar 91 persen. Di luar konteks pendidikan, digitalisasi jelas mempenetrasi kalangan Indonesia emas dengan kesuksesan besar. Hal ini mesti dibarengi dengan tingkat penetrasi digitalisasi pendidikan yang sama suksesnya.

Kemudahan pembelajaran daring harus dimanfaatkan sedemikian rupa oleh kalangan “Indonesia emas”. Berbagai aplikasi daring menawarkan lebih dari cukup penawaran untuk belajar dan memahami dunia melalui gawai semata. Jika ingin memahami lebih banyak bahasa, banyak pilihan aplikasi gawai yang bisa dimanfaatkan, seperti Duolingo, Rosetta Stone, atau Bahaso. Jika ingin memahami pembelajaran sekolah secara lebih mendalam, maka didapati ragam pilihan aplikasi seperti Ruangguru atau Zenius. Jika ingin mengakses buku elektronik secara legal, maka didapati pilihan berupa Amazon Kindle atau Google Play Book. Bagi yang tidak menyukai aplikasi, kalaupun ada, maka cukup dengan mengakses informasi yang melimpah melalui berbagai internet browser. Secara eksplisit, tidak ada alasan bagi mereka yang memiliki akses untuk tidak memanfaatkan kekuatan digitalisasi pendidikan ini.

Kalangan “Indonesia emas” janganlah hanya menyibukkan diri ke aktivitas hiburan dan permainan semata. Sebagai penegasan, tulisan ini tidak menolak peran penting sektir hiburan dan permainan. Akan tetapi, perlu diperhatikan durasi pemakaiannya agar tidak overuse. Jangan hanya bersemangat ketika diajak bermain daring bersama, atau diistilahkan dengan mabar. Tetapi, barengi juga dengan semangat yang sama untuk belajar melalui berbagai aplikasi dan kemudahan sebagai implikasi dari digitalisasi pendidikan, baik secara pribadi mau pun berkelompok bersama teman-teman.

Pandemi Covid-19 pada akhirnya memaksa setiap insan didunia pendidikan untuk belajar hal baru, mempelajari teknologi yang mungkin dahulu belum pernah mereka sentuh sama sekali. Siswa dan guru saat ini menjadi kaum-kaum yang mulai melek teknologi dikarenakan keadaan yang memaksa mereka untuk segera bertindak dan bergerak menyesuaikan apa yang telah diarahkan oleh zaman. Hasilnya sudah bisa diprediksi, hampir seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan mengaku kesulitan dengan sistem baru ini. Terlepas dari hal tersebut, bak kata pepatah “alah bisa karena biasa”, seiring berjalannya waktu tentu para guru dan siswa akan terbiasa dengan sistem pendidikan digital seperti saat ini. Bisa saja sistem ini akan menjadi sistem yang dipermanenkan, melihat bagaimana negara-negara luar sudah lebih dahulu melangkah jauh dengan teknologi, sedangkan negara kita yang baru saja ingin memulai melangkah menggunakan teknologi.

Keberhasilan program digitalisasi pendidikan di Indonesia tentu bergantung pada kesiapan setiap aspek pendukung. Aspek pendukung ini meliputi, sarana dan pra-sarana, pengajar, dan tentu para pelajar. Kesiapan dari setiap aspek pendukung akan menjadi penilaian apakah digitalisasi pendidikan di Indonesia akan dapat dilaksanakan dengan hasil yang baik, atau malah akan menimbulkan banyak problematika baru yang akan dihadapi kedepannya.

Tulisan ini tidak memungkiri bahwa masih banyak permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Permasalahan ini dihadapi oleh bangsa Indonesia, bukan pemerintah Indonesia semata. Hal yang paling jelas, bahwa tidak semua kalangan memiliki akses terhadap media-media digital. Miris, bahwa masih ada kalangan siswa yang dikabarkan tidak memiliki gawai, tetapi diharuskan melakukan kegiatan belajar daring. Ini adalah permasalahan serius. Negara Indonesia memiliki 171,71 juta pemakai internet, tetapi segmen yang belum disentuh, bahkan mengenal, dunia digital masih ada.

Peningkatan kesejahteraan menjadi solusi satu-satunya yang dapat diupayakan. Pun, jika orang-orang dermawan memberikan bantuan gawai, apakah ada jaminan bahwa kalangan marjinal yang tidak nampak ini bisa mempertahankan gaya hidup digital dalam waktu yang lama? Pun, jika memiliki cukup dana untuk menjalankan kehidupan digital secara medicore, apakah kalangan ini cukup beruang untuk membayar beberapa pembelajaran tambahan daring, walau dikampanyekan bahwa penawaran mereka jauh lebih murah daripada media pembelajaran tambahan konvensional? Bahkan, apakah kalangan ini memiliki akses menuju persediaan sarana pendidikan konvensional, seperti sekolah fisik dan perpustakaan fisik yang lengkap?

Digitalisasi pendidikan hanyalah salah satu solusi. Nilai praktis yang dimilikinya menawarkan janji peningkatan kualitas sumber daya manusia yang manis. Akan tetapi, permasalahan masih banyak dan perlu diselesaikan bersama. Permasalahan-Permasalahan yang disinggung di tulisan ini hanya secuil dari jumlah permasalahan yang ada. Semoga permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik oleh bangsa Indonesai ini. Bagaimanapun, kita adalah bangsa yang besar, namun belum sepenuhnya ‘besar’. Kita perlu bekerja keras lebih untuk mencapai tujuan mutlak tersebut. Digitalisasi adalah salah satu wadah penyelesaian yang tersedia bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 25 = 33