Berinvestasi di Masa Muda bagi Golongan Milenial

Trend Investasi di masa sekarang sedang naik daun, terutama bagi kaum milenial. Dengan modal yang minim. Perkembangan tektonolgi digital memberikan kemudahan bagi mereka. Dengan adanya teknologi digital mereka bisa menanamkan modal mereka secara virtual tanpa harus datang langsung ke perusahaan emiten (penerbit efek) maupun bursa saham.

Kemajuan teknologi yang semakin cepat membuat berbagai terobosan muncul, tak terkecuali di bidang investasi. Hanya melalui handphone kita bisa ikut berinvestasi. Saat ini banyak aplikasi- aplikasi reksadana yang menawarkan untuk berinvestasi dengan aman, mudah, serta tidak memerlukan banyak modal. Sebelum berinvestasi, kita diharuskan untuk memasukkan sejumlah deposito dana untuk berinvestasi, biasanya berkisar 150-200 ribu rupiah. Tentu jumlah tersebut tidak terlalu besar untuk berinvestasi.

Dengan modal yang minim tersebut tidak mungkin kita bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Agar memperoleh keuntungan besar diperlukan pula modal yang besar saat berinvestasi. Namun, semakin tinggi keuntungan yang akan kita peroleh maka semakin tinggi risikonya. Oleh karena itu, sebagai pemula lebih baik untuk menanamkan modal kecil terlebih dahulu. Dari sana kita akan belajar investasi dan semakin memahami investasi. Di saat sudah yakin dan mahir, barulah kita bisa berinvestasi dengan modal yang besar.

Dalam masa seperti generasi milenial bisa memiliki penghasilan yang bisa dikerjakan di rumah. Dengan berinvestasi uang akan tetap berputar dan menghasilkan. Investasi bisa menjadi alternatif utama untuk menabung bagi para milenial.

Pengertian reksadana

Reksadana adalah wadah untuk mengelola dana/ modal dari investor- investor dengan cara membeli unit penyertaan reksadana.

Macam- Macam Reksadana

  1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund)

Reksadana Pasar Uang misalnya sertifikat deposito, deposito berjangka, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), dan lain sebagainya.

  1. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund)

Jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek utang atau obligasi untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Memiliki risiko lebih besar daripada reksadana pasar uang.

  1. Reksadana Campuran (Balance Mutual Fund)

Merupakan jenis reksadana yang mengalokasikan dana investasinya dalam portofolio yang bervariasi, dapat berbentuk saham dan dicampur dengan obligasi.

  1. Reksadana Saham (Equity Fund)

Menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Memiliki risiko tinggi namun return juga tinggi. Seperti semboyan “High risk high return”.



Memulai investasi

Tips investasi bagi pemula

  1. Pilih aplikasi reksadana yang aman dan terpercaya

Dalam memilih aplikasi reksadana yang baik perlu kehati- kehatian ekstra, pasalnya bukan tidak mungkin kita bisa terjebak di aplikasi sekuritas yang menipu dan merugikan kita. Bukannya modal bertambah malah menjadi rugi. Oleh karena itu, kita perlu memilih aplikasi yang benar- benar aman, pastikan sudah digunakan oleh banyak orang dan cari testimoni orang yang telah sukses menggunakannya. Selain itu cari pula legalitasnya, pastikan sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

  1. Siapkan akun dan perlengkapan yang lain

Perlu akun untuk mendaftar di aplikasi reksadana. Untuk mendaftar kita perlu menggunakan KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebagai identitas diri. Perlu juga menyiapkan dana sebagai deposito untuk berinvestasi di aplikasi reksadana.

  1. Pilih perusahaan emiten

Perusahaan emiten yang terpercaya adalah perusahaan emiten yang sudah terdaftar dalam OJK. Namun, perusahaan emiten yang aman belum tentu memberikan keuntungaan, terkadang keadaan membuat efek turun nilainya. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya pilihlah perusahaan besar dan sudah terkenal di kalangan masyarakat, serta memperhatikan kemampuan perusahaan tersebut. Agar lebih mudah, bisa pula meniru orang- orang yang telah sukses berinvestasi. Biasanya mereka berbagi info melalui sosial media mereka mengenai investasi dan pasar modal.

  1. Pantau terus perkembangan pasar modal

Aktif  dalam mengikuti perkembangan pasar modal, belajar memahami keadaan, mengetahui perusahaan yang sedang naik dan sedang turun nilai efeknya. Kita bisa mengetahui berbagai informasi penting dari sosial- sosial media.

Risiko berinvestasi

  1. Risiko likuiditas

Risiko ini merupakan akibat dari penjualan kembali (redemption) terhadap unit yang dimiliki. Manajer investasi akan kesulitan mengembalikan dana tersebut, mengingat dana sedang diinvestasikan. Dengan begitu, perusahaan bisa koleps.

  1. Risiko berkurangnya nilai efek

Hal ini dipengaruhi oleh nilai efek (saham, obligasi, dan lain sebagainya). Ketika nilanya turun maka investasi kita akan turun.

Dengan mengikuti tips- tips tersebut. Para generasi milenial bisa berinvestasi dengan aman. Tetap pantau perkembangan pasar modal agar investasi kita menghasilkan dan mengurangi risiko kerugian.

Banyak para anak muda yang telah sukses dalam beinvestasi. Bukan perjuangan yang mudah untuk berinvestasi. Dalam berinvestasi ada kalanya pula merugi. Namun, kerugian tersebut bukanlah akhir dari perjuangan. Hal tersebut merupakan pembelajaran dalam berinvestasi. Hal tersebut bisa menjadi pengalaman untuk mengatasi kemungkinan terburuk dari investasi.

Referensi :

https://www.bareksa.com/berita/reksa-dana/2018-07-17/pengertian-reksadana-jenis-keuntungan-dan-risikonya

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube https://www.youtube.com/channel/UCDYl55gmR97drxxI_61d-ew

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

WahyuF
WahyuF

Saya merupakan seorang pelajar SMA yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, pekerja keras, dan ingin mencoba hal baru di masa muda. Saya ingin menuangkan ide dan pikiran saya di sini agar dapat lebih bermanfaat.

Artikel: 14

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 63 = 73