Pembelajaran Jarak Jauh dan Pendidikan Karakter: Bagaimana Melihat Pendidikan Karakter Pada Saat Pembelajaran Jarak Jauh

Pandemi Covid 19 perlahan-lahan mulai menemukan titik terang dalam pencegahannya. Memasuki tahun yang baru di 2021, kita sudah disambut dengan kabar pengadaan vaksinasi covid 19. Akan tetapi belum ada kepastian kapan wabah tersebut bisa berakhir. Pembelajaran di sekolah-sekolah diarahkan untuk tetap memakai pembelajaran jarak jauh (PJJ) guna meminimalisir penyebaran wabah tersebut. Tenaga pendidik ataupun tentor pada sebuah lembaga atau instansi dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengkondisikan pembelajaran yang kurang lebih sama seperti pada saat pembelajaran tatap muka. Salah satu yang menjadi tonggak penting dalam pendidikan yaitu pembangunan karakter (Character Buliding). Melalui pendidikan, bukan semata-mata gelar akademik yang diperoleh tetapi sikap, mental dan perilaku dibina pada saat mengikuti proses pembelajaran.

 

Model-model pembelajaran yang seringkali digunakan pada saat pembelajaran jarak jauh bervariasi tergantung dengan tingkat kematangan dan kreatifitas pengajar atau tentor. Sesuai data yang dirilis oleh kemendikbud, tentang pembelajaran jarak jauh yang terdapat pada surat edaran no. 4 Kemendikbud tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) menyatakan bahwa Proses Belajar dari Rumah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan;

b. Belajar dari Rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19;

c. Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah;

d. Bukti atau produk aktivitas Belajar dari Rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

 

Kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) berpacu dengan waktu menyiapkan kebijakan-kebijakan yang dapat memfasilitasi peserta didik, guru maupun orang tua agar mampu tetap menjangkau pendidikan karakter walaupun di masa pandemi.  Pada kemdikbud sendiri terdapat pusat penguatan karakter (PPK) yang memfasilitasi sekolah maupun masyarakat untuk dapat melihat pendidikan karakter baik di masa kondusif maupun pandemi. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kebijakan pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk mengimplementasikan Nawacita Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam sistem pendidikan nasional. Kebijakan PPK ini terintegrasi dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yaitu perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi lebih baik. Nilai-nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas. Nilai-nilai ini  ingin  ditanamkan  dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami, dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. PPK lahir karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan bangsa. Hal ini menuntut lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik secara keilmuan dan kepribadian, berupa individu-individu yang kokoh dalam nilai-nilai moral, spiritual dan keilmuan. Memahami latar belakang, urgensi, dan konsep dasar PPK menjadi sangat penting bagi sekolah maupun masyarakat agar dapat menerapkannya sesuai dengan konteks pendidikan di daerah masing-masing. Kualitas karakter merupakan salah satu aspek untuk membangun Generasi Emas 2045, disertai kemampuan dalam aspek literasi dasar dan kompetensi abad 21.

 

Program-program pemerintah dalam hal ini melalui kemdikbud telah diupayakan. Berdasarkan wawancara dengan bapak Ir. Hendarman, MSc.,PhD., selaku kepala pusat pengembangan karakter kementrian pendidikan dan kebudayaan (disiarkan melalui youtube medcom id), beliau mengungkapkan paradigma orang tua mendelegasikan anaknya ke sekolah untuk menjadi tanggung jawab sekolah diputar 180 derajat karena masa pandemi. Pada proses pembelajaran yang terjadi, guru memberikan tugas dan orang tua yang memfasilitasi siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini disebabkan, adanya otonomi yang dimiliki oleh sekolah untuk dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara optimal. Banyak sekolah yang menetapkan sesuai dengan target kurikulum. Berbagai “tragedi” timbul dari proses yang terjadi. Lebih lanjut beliau menuturkan, guru harus peka dalam menyikapi proses pembelajaran yang terjadi. Harus dilihat kondisi orang tua, kondisi anak, komunikasi dengan orang tua tidak bisa terlepas begitu saja. Orang tua berperan lebih besar, seperti berinteraksi dengan sosial, karakter yang baik, pendidikan diserahkan kepada orang tua.

 

Bagaimanapun karakter merupakan kehilangan koneksi batin antara guru dengan siswa. Waktu keseluruhan di rumah sehingga tafsirannya yang bertanggungjawab sepenuhnya adalah orang tua. Guru tetap bertanggungjawab mencari pembelajaran yang bisa nanti menguatkan anak dimana ada perubahan paradigma pada sikap. Mau tidak mau guru harus mengembangkan model pembelajarannya. Guru dapat memberikan kepada siswa atau dapat Berkomunikasi dengan orang tua. Misalnya guru ingin mengajarkan semua nilai karakter sekaligus, apakah semua nilai karakter bisa diajarkan sekaligus. Salah satu tawaran solusi untuk menyikapi ini maka PPK memfasilitasi pendidikan karakter dengan menggunakan media. Salah satu hal yang dibuat oleh pusat penguatan karakter sekarang ini adalah dengan menggunakan media dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat (ILM), infografis, museumgrafis, video, lagu dan sebagainya. Ada siswa yang jika terapkan kuliah maka siswa dapat terpengaruh dalam psikologis. Pusat penguatan karakter menyiapkan contoh-contoh yang dapat menginspirasi. Siswa sekarang sangat akrab dengan teknologi (audio dan visual) dan motiongrafis. Program tersebut Sudah disosialisasikan kepada guru-guru, orang tua, dan siswa. Bisa diakses seluruh sekolah di Indonesia melalui website cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id.

 

Untuk memahami 6 dimensi penguatan karakter siswa antara lain: berketuhanan yang maha esa, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, mandiri, beliau menuturkan salah satu contoh dibuat ILM (iklan layanan masyarakat) dengan durasi 2 menit dan figur yang digunakan adalah anak muda. Memadukan hari besar nasional dipadukan dengan nilai-nilai karakter. Contoh yang lain, mengadakan webinar yang diundang adalah praktisi, influencer dan pakar-pakar yang milenial. Selain itu dibuatkan lomba blog, lomba vlog yang dilihat selama webinar. Anak-anak sekarang aware dengan teknologi. Pola dari kementrian melibatkan komunitas karena lebih paham dengan situasi di lapangan sehingga dibuatkan mitra untuk mewujudkan 2 menit sehingga menjadi efektif dan optimal. Selanjutnya, untuk mengevaluasi proses yang terjadi dibuatkan survey kepada guru, orang tua dan siswa.

 

Berbasis masalah diatas, maka butuh kolaborasi antara guru dan orang tua untuk saling bersinergi membantu anak mencapai tingkat pendidikan baik pengetahuan maupun karakter secara optimal. Hal ini tentunya didukung dengan fasilitas serta media untuk optimalisasi. Titik utama yang menjadi perhatian adalah bicara soal karakter mengangkat nilai-nilai pancasila. Implementasi dalam pembelajaran membutuhkan waktu yang tidak singkat. Butuh perjuangan dan pendekatan yang berbasis individual. Dengan penyebaran pendidikan merambah sampai ke pelosok-pelosok daerah butuh suatu terobosan dan ide brilian untuk dapat memfasilitasi semuanya itu. Proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah menuntut guru untuk dapat memfasilitasi semua materi dengan baik kepada siswa. Terlebih lagi sistem pembelajaran pada saat ini yang mengedepankan daring/luring untuk itu dibutuhkan suatu ide yang kreatif oleh guru agar tetap melaksanakan pembelajaran dengan tetap diiringi dengan pembentukan karakter. Kerja sama antara guru dan orang tua harus ditingkatkan untuk dapat mengikuti proses perkembangan peserta didik.

 

Proses yang selama ini dijalani, mencerminkan bahwa peran guru maupun orang tua di masa pandemi ini menjadi krusial. Guru bertanggung jawab dalam proses pembelajaran serta penyerapan materi oleh anak dan orang tua mempunyai peran untuk mengawasi anak agar selalu mengikuti proses pembelajaran dengan baik  Itu baru materi yang diajarkan belum lagi ditambah dengan pendidikan karakter. Ada baiknya orang tua tetap bersinergis dengan guru agar dapat mengikuti tumbuh kembang siswa dalam mempelajari materi serta perkembangan pengetahuan maupun karakter. Berbagai platform yang telah disiapkan oleh pusat penguatan karakter agar dapat diberikan kepada siswa diawal, pertengahan pembelajaran maupun diakhir, sehingga penguatan karakter untuk generasi emas Indonesia pada 2045 dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Jaya Indonesiaku, Cerdas Berkarakter Bangsaku.

Sumber:

https://covid19.hukumonline.com/wp-content/uploads/2020/04/surat_edaran_menteri_pendidikan_dan_kebudayaan_nomor_4_tahun_2020-2.pdf

https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/?page_id=132

https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/

https://www.youtube.com/watch?v=LXWAJraBaPQ&t=140s

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Florianus Nay
Florianus Nay

Seorang pegiat literasi dan berkecimpung dalam dunia pendidikan serta penelitian. Sekarang mengajar pada sebuah kampus swasta di Kupang Nusa Tenggara Timur. Mempunyai spirit dalam bidang pendidikan matematika dan matematika serta passion dalam menulis.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 21 = 24