Menjadi Guru Profesional di Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 dalam sektor pendidikan menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan berbagai teknologi cyber. Revolusi industri 4.0 dalam dunia pendidikam merupakan lompatan dari era pendidikan 3.0 yang mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan teknologi digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi. Perangkat keras dan perangkat lunak, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan jaringan internet.

Pendidikan era revolusi 4.0 jauh di atas dari era 3.0 dalam beberapa hal yaitu, pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan munculnya revolusi industri keempat. Dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru. Menurut Muhadjir Efendy (Mendikbud) bidang pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi dalam menghadapi era revolusi industru 4.0, yakni:
– Diharapkan peserta didik memiliki kemampuan berfikir kritis;
– Diharapkan peserta didik memiliki kreativitas dan memiliki kemampuan yang inovatif;
– Perlu adanya kemampuan dan keterampilan berkomunikasi yang dimiliki peserta didik;
– Bekerjasama dan berkolaborasi, dan
– Peserta didik harus memilikikepercayaan dalam dirinya.

Gelombang industri 4.0 mampu mengubah beberapa hal dalam pendidikan diantaranya, On Demand munculnya jasa-jasa pendidikan dan keterampilan, aplikasi-aplikasi yang mobile dan responsif, layanan konten tanpa batas. Pembelajaran di era teknologi mampu merubah cara pandang hidup dan mampu membawa kita pada intraksi dunia yang positif dan bahkan juga negatif (Rahmawati, 2018).

1.Memahami karakteristik peserta didik yang dilayaninya secara baik.
Pendidikan karakter di era revolusi industri 4.0 yang sangat bergantung pada internet. Tantangan ke depan, pendidikan karakter akan dihadapkan pada internet yang mana para peserta didik sudah sangat ketergantungan terhadap internet,maka dengan fenomena tersebut seharusnya masyarakat atau peserta didik harus lebih di tingkatkan dalam spritualital sebagai generasi berakhlak dan berkarakter, perlu bantuan orang tua untuk mengawasi putra/putrinya dalam penggunaan internet.

2.Mempunyai kemampuan berinovasi dan berkreativitas
Sebagai pengajar dituntut menguasai substansi bidang studi dan metodelogi keilmuannya serta mampu mengemasnya ke dalam materi pembelajaran sesuai dengan amanat kurikulum dan karakter peserta didik, mampu merancang pembelajaran beserta perangkat pembelajarannya, dengan menerapkan model-model pembelajarn inovatif yang dapat meningkatkan kemampuan soft skill seperti critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention.

3. Pembelajaran yang berbasis pada masalah dan kolaboratif
Mengimplementasikan rancangan program pembelajaran dengan memanfaatkan tehnologi informasi dan komunikasi, serta mengembangkan sistem evaluasi proses dan hasil belajar. Teknologi boleh ditonjolkan, namun jangan sampai kehilangan jati diri karena sekarang banyak peserta didik yang terjebak hal-hal negatif, Dalam kaitannya dengan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, guru di sekolah mempunyai peran yang penting dalam memantau dan memberi pengarahan kepada peserta didik agar lebih bijak dalam penggunaan teknolog.

3. Mengembangkan kualitas guru
berusaha untuk memutahirkan pengetahuan dan keterampilan pendidikan dalam rangka meningkatkan kwalitas pembelajaran, berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan peserta didik, orang tua murid, sesama pendidik, tenaga kependidikan dan masyarakat. Cara dan strategi yang dapat dilakukan menurut Junaidi (2015) yaitu dengan melalui pendidikan formal, pendidikan dan pelatihan, bimbinganatasan, bimbingan teman sejawat, workshop, lokarya, seminar, dan sosialisai program, magang, tukar menukar tenaga dalam bentuk kerjasama, dan, studi banding, outbond, dan atau rekreasi. Di antara cara-cara tersebut yang dapat dengan cepat dalam menghadapi kebutuhan revolusi industri 4.0 yaitu dengan melakukan pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan kualitas guru.

4. Meningkatkan kemampuan interpersonal
Pada revolusi industri 4.0, guru tidak lagi berfungsi sebagai sentral dalam pembelajaran atau teacher centered, namun berubah menjadi students centered dimana guru menjadi fasilitator bagi penyediaan kebutuhan belajar peserta didik sehingga dituntut untuk memiliki sikap, nilai, dan kebiasaan berfikir produktif yang perwujudannya kebiasaan berfikir kritis, kreatif, mandiri, serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik.

5. Berkontribusi dalam lingkungan kerja yang progresif
Memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan di sekolah dan masyarakat. berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di tingkat lokal, regional, nasional, dan global. di era revolusi industi 4.0, peran guru tidak lagi dituntut hanya bertugas mentrasnfer ilmu di depan kalas, dan tugas guru tidak lagi hanya sebatas membuat peserta didik menjadi pintar, namun juga memberi motivasi, membangun karakter sehingga mejadi insan atau pribadi yang berintegritas. Dalam dunia digital yang sedang berjalan sekarang, peran guru masih sangat penting meski pengetahuan kini sudah bisa diakses dari banyak sumber.

Dalam era revolusi industri ini,dituntut agar guru mampu melahirkan peserta didik yang kreatif, inovatif, mampu menjawab tantangan dengan sumber-sumber yang kredible, sesuai dengan aturan ilmiah dan juga menjunjung tinggi etika sebagai pusat belajar dalam menuntut ilmu.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Frimawati
Frimawati

Frimawati,kelahiran Makassar 4Juni 1989 Pribadi yang menarik, profesional,supel,pekerjakeras,aktif sebagai pendidik dan motivator menyukai dan
tertarik pada bidang pertanian maju,perkembangan teknologi digital,manajemen dan bisnis digital

Artikel: 10

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 2 =