Kondisi Ekonomi Jawa Timur Membaik 2021, Bagaimana Strateginya Dan Kemajuan Pembangunan Yang Dilakukan Oleh Pemerintah Daerah?

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 hingga saat ini menyebabkan penurunan di berbagai sektor, termasuk sektor ekonomi. Sektor ekonomi merupakan sektor yang paling krusial dibandingkan sektor yang lain. Sektor ekonomi bagaikan penggerak dan penyokong sektor-sektor lainnya. Adanya pandemi ini pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Indonesia terganggu. Perekonomian di masa pandemi dinilai menjadi yang paling sulit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hampir seluruh kegiatan terganggu akibat pandemi ini. Perubahan sistem bisa terjadi karena adanya pandemi Covid-19.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kebijakan Work From Home (WFH) cukup menyulitkan masyarakat beraktivitas. Perdagangan, pariwisata, dan UMKM semakin lesu dengan keadaan tersebut. Efek dari adanya pandemi virus corona ini tidak hanya memengaruhi Indonesia saja, tetapi juga negara-negara lain secara global. Hampir tidak ada negara yang menerima dampak positif dari adanya pandemi ini. Perekonomian global sekarang ini sangat buruk. Bank Dunia mencatat bahwa perekonomian global saat ini dalam kondisi terburuk sejak Perang Dunia II. Tak tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Indonesia mengalami resesi kembali terhitung sejak 22 tahun silam. Sebuah catatan buruk bagi perekonomian Indonesia. Namun, nampaknya Indonesia tak perlu berkecil hati, sebab negara adikuasa seperti Amerika Serikat pun mengalami resesi akibat pandemi ini.

Dampak Pandemi Covid-19 Dalam Perekonomian Di Jawa Timur

Pandemi COVID-19 mengakibatkan kinerja penyaluran kredit di Jawa Timur (Jatim) mengalami perlambatan. Selama triwulan III 2020, perbankan di Jatim hanya mampu mengucurkan kredit sebesar Rp562,49 triliun. Angka turun dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp573,34 triliun. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, penyaluran kredit perbankan pada triwulan III 2020 yang melambat utamanya akibat kredit investasi. Perlambatan pertumbuhan kredit investasi terjadi pada sektor Industri Pengolahan, Perdagangan, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, Pertanian serta Perikanan. Berdasarkan sektor ekonomi secara umum, perlambatan kredit disebabkan oleh sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan Eceran. Melambatnya kredit sektor Industri Pengolahan disebabkan oleh subsektor Industri Semen, Kapur dan Gips, Barang-barang dari Semen, dan Kapur (turun dari 12,79% menjadi -19,69%).

Sementara itu di sektor Perdagangan Besar dan Eceran, mengalami perlambatan penyaluran kredit didorong oleh subsektor Perdagangan Dalam Negeri Rokok. Dari 252,80 menjadi -53,02%. Lalu subsektor Perdagangan Ekspor Tembakau, turun dari 88,47% menjadi -19,73%. Data BI Jatim juga menunjukkan, sebesar 62,81% kredit, disalurkan di Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Kelima pusat penyaluran kredit tersebut mayoritas merupakan sentra industri dan perdagangan, serta daerah dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Hal ini mengindikasikan permintaan kredit lebih didominasi oleh daerah yang menjadi pusat-pusat perekonomian di Jatim. 

Dari kelima daerah tersebut, penurunan pertumbuhan kredit paling dalam terjadi di Kota Gresik dan Surabaya. Penyebab melambatnya pertumbuhan kredit di Kota Gresik disebabkan oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta perikanan, konstruksi. Sementara di Kota Surabaya perlambatan kredit terutama disebabkan oleh sektor perdagangan besar dan eceran serta real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan.

Strategi Jawa Timur Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Mengusung semangat ”Jatim Bangkit” pada 2021, ada begitu banyak kebijakan strategis di sejumlah bidang yang menjadi prioritas pemprov. Muaranya adalah memulihkan perekonomian serta mengembangkan sumber daya manusia. Salah satu yang jadi target utama adalah mengembangkan UMKM dan industri halal di Jatim. Saat ini sebuah kawasan industri UMKM seluas 410 hektare di Kabupaten Sidoarjo telah siap dibangun. Di dalam area tersebut, juga akan dibangun kawasan industri halal seluas 148 hektare. Selain itu, pemprov menyiapkan support tambahan bagi para pelaku UMKM di Jatim. Yakni, berupa restrukturisasi kredit dan penyaluran kredit program dana bergulir. Kebijakan itu nanti mendukung program-program yang sudah digulirkan pemerintah pusat bagi pelaku UMKM di provinsi ini. Mulai kredit usaha rakyat (KUR), pemulihan ekonomi nasional (PEN), hingga BANPUM.

Lewat program-program tersebut, ada cukup banyak target perbaikan yang mampu mendorong Jawa Timur untuk bangkit pada 2021. Di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi (bisa tumbuh di kisaran 5,56 hingga 5,58 persen), penurunan pengangguran terbuka (ditarget turun dari 5,02 persen jadi 4,82 persen), hingga penurunan angka kemiskinan. Angka tersebut tentu sudah terkonfirmasi dengan kondisi perkembangan Covid-19 dan pengaruhnya di perekonomian serta impact di kesejahteraan masyarakat, baik daya beli, penurunan kemiskinan, penurunan pengangguran, maupun peningkatan IPM. Selain itu, sektor indeks pembangunan manusia (IPM) masih jadi prioritas. Sebab, meski kenaikan selama 2019 dan 2020 jadi yang tertinggi, IPM Jatim masih harus dinaikkan lagi.

Ada cukup banyak kebijakan yang ditetapkan. Salah satunya, proporsi anggaran pendidikan di APBD 2021 tetap jadi yang tertinggi (lebih dari 50 persen). Selain itu, tokoh yang juga ketua PP Muslimat NU tersebut punya terobosan untuk memelesatkan IPM. Yakni, menjadikan lulusan pesantren memiliki ijazah formal. Pemprov telah mengusulkan penyetaraan atau assessment dalam bentuk kejar paket singkat

Kemajuan Perekonomian Jawa Timur di Tahun 2021

Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak akan mendorong sektor potensial agar perekonomian Jatim kembali membaik. Sejumlah sektor yang perlu didorong adalah industri kertas, industri dan perdagangan, kimia dan investasi. Dia mengatakan, tahun 2021 perekonomian Jatim diprediksi akan kembali membaik dengan mengalami pertumbuhan sebesar 5,3% hingga 6,3%. Industri dan perdagangan akan menjadi motor penggerak pertumbuhan, namun harus tetap menjaga protokol kesehatan. Pasar PON mulai dibangun Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya sejak 10 Januari 2020 setelah rusak terbakar pada tahun 2018. Konstruksi bangunan pasar telah selesai 100% dan siap diserahkelolakan kepada Pemerintah Kabupaten Trenggalek untuk menjadi sarana pendorong percepatan pemulihan ekonomi lokal yang terdampak Pandemi COVID-19. Konsep revitalisasi Pasar PON disesuaikan dengan keselarasan lingkungan yang mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal dengan desain ikonik bergaya Eropa. Seluruh kegiatan mulai dari tahap perencanaan hingga pembangunan juga melibatkan Pemkab Trenggalek.

Konstruksi Pasar PON dibangun dengan konsep bangunan gedung hijau di atas lahan seluas 12.000 m2 dan luas bangunan 5.800 m2. Pembangunan yang bersumber dari APBN TA 2020 sebesar Rp 73,8 miliar meliputi pekerjaan persiapan (pembersihan dan K3), pekerjaan struktural (lantai 1, lantai 2, dan atap), arsitektural pada lantai 1 dan 2, pekerjaan listrik dan mekanikal seperti trafo, kabel feeder, CCTV, genset, alarm, pemadam kebakaran, AC yang berada di lantai 1 dan 2, lift serta instalasi plumbing, lansekap, dan infrastruktur pendukung lainnya. Pasar yang berlokasi tidak jauh (900 meter) dari Alun-Alun Kabupaten Trenggalek ini juga sudah sudah mendapatkan konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH) dengan predikat Madya pada saat tahap perencanaan. Terbangunnya fasilitas Pasar Pon yang sehat dan higienis akan meningkatkan sarana perdagangan barang/jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Selanjutnya Pasar Legi yang sudah memasuki tahap akhir konstruksi, siap diresmikan atau diserahkelolakan kepada Pemda Ponorogo pada awal Februari 2021. Pasar Legi dibangun dengan anggaran APBN sebesar Rp 133,6 miliar sejak 05 Februari 2020 dengan konsep bangunan gedung hijau dengan pekerjaan meliputi bangunan Gedung A seluas 24.960 m2 untuk menampung 2.462 lapak, Gedung B seluas 7.005 m2, dan revitaliasi gedung penunjang seluas 207 m2. Revitalisasi dan pembangunan Pasar Legi merupakan bentuk perhatian Pemerintah kepada para pedagang, agar pemulihan ekonomi pasca Pandemi COVID-19 dapat berjalan lebih cepat. Sebelum terbakar, pasar ini memiliki luas bangunan 16.012 m2 setinggi 4 lantai untuk menampung 2.480 pedagang terdiri dari 1.449 kios dan 1.031 los/lapak. Artinya ada penambahan luas bangunan dalam rekonstruksi pasar dan konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH) dengan predikat utama pada tahap perencanaan.

Selain kedua pasar tersebut, di Jawa Timur juga telah diselesaikan revitalisasi Pasar Benteng Pancasila di Mojokerto seluas 3.400 m2 terdiri dari 248 unit kios. Kemudian juga tengah dilakukan revitalisasi Pasar Besar Ngawi yang berada di Jalan Sultan Agung, Kabupaten Ngawi. Dengan selesainya pasar di Jawa Timur tersebut menambah jumlah fasilitas publik selesai dibangun Kementerian PUPR pada TA 2020, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 43 Tahun 2019 tentang Pembangunan, Rehabilitasi, atau Renovasi Pasar Rakyat, Prasarana Perguruan Tinggi, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, dan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Total pembangunan dan rehabilitasi prasarana dan sarana pendidikan, olahraga, dan pasar selesai tahun 2020 sebanyak 463 unit dan akan dilanjutkan pada TA 2021 sebanyak 1.431 unit.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan III 2020 minus 3,75%. Kondisi tersebut lebih baik dari triwulan II yang minus 5,90%. Membaiknya ekonomi Jatim pada tersebut bersumber dari sektor utama seperti kinerja ekspor luar negeri, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Mantan bupati Trenggalek ini berharap, di triwulan IV 2020 kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan serta akomodasi diperkirakan menunjukkan perbaikan. Namun harus diimbangi dengan tingginya permintaan domestik. Emil mengungkapkan, Jatim memiliki daya tarik luar biasa bagi PMDN disaat pandemi. Sehingga sampai dengan triwulan III 2020, PMDN tumbuh 42,20%. Pertumbuhan tersebut, kata dia, diharapkan terus naik tetapi harus tetap menjaga agar kasus COVID-19 di Jatim juga tidak ikut naik.

 

 

 


Refrensi

https://www.jawapos.com/nasional/25/06/2020/dampak-covid-19-di-jatim-khofifah-pak-jokowi-6-924-pekerja-kena-phk/

https://daerah.sindonews.com/read/306508/704/dampak-covid-19-penyaluran-kredit-di-jawa-timur-melambat-1611039701

https://www.beritadaerah.co.id/2021/01/25/dukung-pemulihan-ekonomi-ditengah-pandemi-pupr-segera-sarahterima-2-pasar-di-jawa-timur/

https://www.jawapos.com/surabaya/01/01/2021/menuju-jawa-timur-sebagai-pusat-industri-halal/

https://daerah.sindonews.com/read/287698/704/dorong-pertumbuhan-ekonomi-jawa-timur-di-2021-ini-langkah-wagub-emil-dardak-1609552872?showpage=all

https://rri.co.id/surabaya/ekonomi/939885/ptbi-provinsi-jawa-timur-2020-pertumbuhan-ekonomi-jatim-2021-diperkirakan-tumbuh-positif

Loading

Dewi Zalfa Nabilla
Dewi Zalfa Nabilla

Freelance writer, pengalaman selama 3 tahun baik itu Content Writer, Article Writer, Copy Writer

Artikel: 7

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 68 = 76