Meninjau Pembangunan Ekonomi Berbasis Energi di Tengah Pandemi

Keterlibatan PLN pada pembangunan ekonomi di bidang energi memiliki kemajuan ditunjukkan dengan bauran kerjasama antar perseroan yang meninjau ekonomi hijau terhubung pada program pembangunan berkelanjutan serta mempercepat proses pemulihan ekonomi Indonesia di tengah pandemi.

Kementerian ESDM RI - Berita Unit - Directorate General EBTKE - Inovasi Teknologi Kunci Pengembangan EBT Menuju Transisi Energi
Sumber gambar: esdm.go.id

Dilansir dari petrominer.com, Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) kembali hadir untuk memfasilitasi diskusi-diskusi mengenai transisi energi di Indonesia. Difokuskan pada peranan transisi energi berbasis energi terbarukan untuk mendorong pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19, sekaligus memodernisasi sistem energi menuju dekarbonisasi sistem energi Indonesia pada pertengahan abad ini, Senin (30/11).

Meski dilaksanakan secara virtual, Fabby memastikan IETD 2020 justru bakal lebih spektakuler dari sebelumnya. Kualitas dialog tetap menjadi prioritas utama dalam IETD 2020, seluruh aspek pun akan dibahas secara luas dan mendalam. Puluhan pembicara yang hadir juga telah melewati proses kurasi ketat dengan mempertimbangkan kapabilitas, kredibelitas, serta track record dari masing-masing pembicara.

Di tahun ketiga ini, penyelenggaraan IETD diperpanjang dari 2 hari menjadi 5 hari berturut-turut dan dari 8 sesi menjadi 12 sesi untuk memfasilitasi lebih banyak dialog. Dihadirkan juga lebih banyak pembicara terkemuka, mulai dari provinsi, nasional hingga internasional. Totalnya nanti akan lebih dari 20 pembicara yang hadir baik dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Indonesia Clean Energy Forum (ICEF). Melalui tema ‘Transisi Energi: Kunci Membangun Kembali Sistem Ekonomi dan Energi yang Lebih Baik’, IETD 2020 akan mengusung tiga isu utama.

  1. Pertama, mendukung konsep transisi energi, termasuk penggerak dan konsekuensinya serta peluang dan tantangan tekno-ekonomi bagi para pemangku kepentingan di sektor energi di Indonesia.
  2. Kedua, memfasilitasi diskusi mengenai tantangan dan peluang transisi energi Indonesia, khususnya pascacovid-19.
  3. Ketiga, mempromosikan wacana transisi energi dengan membangun pendekatan sistematis untuk memastikan kelancaran transisi energi di Indonesia.

Ketika pulih dari pandemi Covid-19, penting bagi kita untuk membangun kembali dengan lebih baik. Memiliki agenda pemulihan ekonomi hijau akan membantu Indonesia membangun ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan, sekaligus mempercepat transisi energi di Indonesia untuk mencapai bauran 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi primer pada tahun 2025, jelas Fabby.

Menurutnya, Indonesia perlu segera mungkin menyusun paket pemulihan dengan bijak dan inovatif. Kerangka investasi untuk energi terbarukan juga perlu ditingkatkan guna menarik modal swasta yang lebih tinggi. Tentunya, hal ini pun nantinya akan sangat membantu mendukung pemulihan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat ICEF, Kuntoro Mangkusubroto, menambahkan bahwa peluang serta ancaman gelombang transisi energi global juga harus mampu diantisipasi sedini mungkin oleh Pemerintah.

Sangat penting pula dipersiapkan tahapan-tahapan sistematik yang matang dalam melakukan transisi energi. Sebab proses transisi energi harus mempertimbangkan banyak hal, mulai dari aspek ekologi, ekonomi, sosial, hingga regulasi dan kebijakan, ujar Kuntoro.

Sumber gambar: Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Pada kesempatan lain, dalam sesi webinar diadakan oleh INDEF bertemakan proyeksi Ekonomi Indonesia 2021 banyak melibatkan para tokoh senior di bidangnya. Salah satunya hasil pemaparan dari Direktur Riset INDEF, Berly Martawardaya menjelaskan Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II mengalami penurunan sebesar 5,32%, akan tetapi disebutkan kuartal III membaik dengan mencapai -3,49%.

Sumber gambar: Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Selanjutnya, dijelaskan pula beberapa daftar dari potensi energi terbarukan (EBT) diantaranya: energi surya, air, bayu/angin, bioenergi, panas bumi, dan samudera. Jika di bandingkan secara potensi dan manfaat terfokus dua sumber energi yakni surya memiliki potensi sebesar 207,8 GW sedangkan panas bumi memiliki pemanfaatan sebesar 8,9%.

Sumber gambar: Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Dalam capaian bauran EBT ditargetkan tahun 2025 mencapai 23%. Dilihat dari realisasi pada tahun 2019, pemanfaatan energi terbarukan mencapai 9,15% yang masih jauh dari target kebijakan energi nasional.

Sumber gambar: Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Penjelasan berly lainnya,ditunjukkan posisi Indonesia kedua terbesar dengan hasil negatif kontribusi kadar hijaunya yang itu disebabkan berbagai faktor. Dan itu sebagai alat ukur untuk melihat potensi energi terbarukan integrasi ekonomi hijau yakni lingkungan.

Dikarenakan Indonesia sedang menanggapi pandemi yang itu menganggu aktivitas perekonomian menjadi memburuk. Hal ini perlu gebrakan menyeluruh pada pemulihan ekonomi berlangsung.

Sumber gambar: Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Berly menambahkan terkait perencanaan dari realisasi energi baru terbarukan untuk pemulihan ekonomi Indonesia yang mengadaptasi ekonomi hijau pada program pembangunan berkelanjutan meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.

PLN Gandeng Perhutani dan PTPN Sediakan Biomassa Bagi PLTU | Republika Online
Sumber gambar: republika.co.id

Dalam proses lanjutan , dikutip dari wartaekonomi.co.id menunjukkan PT PLN (Persero) terus berupaya memanfaatkan co-firing biomassa sebagai pengganti batu bara di pembangkit listriknya. PLN telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama PTPN III Holding (Persero) dan Perum Perhutani terkait Penyediaan Biomassa untuk PLTU.

Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini mengatakan bahwa pihaknya bakal terus melakukan terobosan dalam penggunaan biomassa untuk co-firing PLTU batubara yang dikelola perseroan. Selain karena hemat energi, pemakaian biomassa sebagai pengganti batu bara pun akan sangat mengurangi pengeluaran modal atau capital expenditure (capex) dalam menyalurkan energi listrik.

Zulkifli menuturkan, anggaran penggunaan biomassa dalam melakukan operasi perusahaan atau operating expenditure (opex) juga tergolong jauh lebih terjangkau. Namun, dia belum merinci berapa besar potensi capex yang dapat dihemat PLN.

ia turut menggarisbawahi pelaksanaan co-firing antar BUMN yang akan memberikan dampak perekonomian yang besar. Baik bagi semua yang terlibat maupun kepada masyarakat luas.

“Jadi ini sesuatu titik awal yang luar biasa dari kemungkinan kerja sama ke depan yang bisa kita tindaklanjuti secara konkret dan sustain,” tuturnya.

Lebih Dekat Dengan Pelanggan, PLN Luncurkan Aplikasi New PLN Mobile
Sumber gambar: web.pln.co.id

Melalui pilar Green dalam transformasinya, PLN terus berupaya meningkatkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Komitmen tersebut kembali tercermin melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Perum Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III tentang kerjasama penyediaan biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada Jumat (22/1).

Diselenggarakan secara virtual, agenda ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Dirjen EBTKE KESDM), Dadan Kusdiana, “Kerjasama ini merupakan agenda yang strategis, pengembangan biomassa sebagai sumber energi baru terbarukan dari sinergitas para perusahaan BUMN,” tutur Dadan Kusdiana. Dirinya mengatakan, Kementerian ESDM akan siap memfasilitasi inisiatif ini agar dapat berjalan baik dalam waktu dekat.

Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini menambahkan, melalui kerjasama ini, maka upaya untuk memenuhi target bauran energi EBT 23% pada 2025 akan difokuskan pada inisiatif strategis green-booster berupa co-firing biomassa. Menurutnya, co-firing biomassa selain dapat memenuhi target bauran energi, juga dapat memenuhi keekonomian penyediaan tenaga listrik dan dilakukan dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Perlu diketahui, inisiatif cofiring sudah PLN mulai sejak 2017 dengan ujicoba yang telah dilaksanakan pada 2019. Pada tahun 2020, PLN telah mengidentifikasi sebanyak 52 lokasi PLTU yang berpotensi untuk dilakukan co-firing dengan biomassa.

Secara bertahap, implementasi co-firing PLTU milik PLN akan berjalan sampai dengan 2024. Diprediksikan, kebutuhan biomasa yang berasal dari hutan tanaman energy dan sampah tersebut dapat mencapai 9 Juta Ton dalam setahun.

Sumber:

Berly Martawardaya, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021: Jalan Terjal Pemulihan Ekonomi (INDEF), 30 Nov 2020

Mochamad Rizky Fauzan, 2021, https://www.wartaekonomi.co.id/read324221/pln-bakalan-hemat-modal-besar-lewat-pemanfaatan-biomassa-untuk-pltu

Prismono. 2020, https://petrominer.com/ietd-2020-peluang-transisi-energi-pascapandemi/

Press Release, 2021, https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2021/01/gandeng-perhutani-n-ptpn-iii-pln-optimistis-tingkatkan-bauran-ebt-melalui-penggunaan-biomassa

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Dicky Wahyudi
Dicky Wahyudi

Mahasiswa Magister ALB Minat Ekonomi Islam. Pengalaman dalam analisis dan penelitian: merancang dan melaksanakan eksperimen dan kegiatan sukarelawan di bidang sosial, pemasaran dan pendidikan.

Artikel: 15

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

84 + = 93