(Sumber: Kompasiana.com)

Mengenal Feminisme Sosialis

Feminsime lahir beriringan dengan lahirnya teori Hubungan Internasional pada abad ke-20 ketika berakhirnya perang dunia pertama, lebih tepatnya pada munculnya keberhasilan dari tuntutan hak-hak pilih perempuan di Inggris dan di Amerika Serikat. Feminisme sosialis menyatakan tidak akan ada sistem yang sosialisme apabila tanpa ada kebebasan bagi kaum perempuan. Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide yang dicetuskan oleh Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.

Feminisme sosialis muncul sebagai bentuk kritik terhadap gerakan feminisme Marxis yang menjelaskan bahwa patriarki sudah ada sejak sebelum kapitalisme serta tetap tidak akan berubah apabila kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender guna pemahaman mengenai penindasan perempuan. Feminisme marxis memiliki paham yang sama bahwa kapitalisme adalah sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuangan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.

Para tokoh feminis mengakui bahwa nilai ekonomi kerja rumahan yang tidak dibayar memberi kontribusi pada kapitalisme, sehingga membuka jalan teoretis bagi pemahaman sosialis feminis dalam hubungan patriarki kapitalisme. Dalam pandangan keras Karl Marx, kerja rumahan tidak menciptakan nilai. Dalam konteks ini kaum feminis sosialis meresponnya dengan menyatakan bahwa kerja tidak perlu dikomodifikasi (dibayar oleh upah di pasar kerja) supaya dapat memproduksi nilai. Dalam hal ini ditegsakan bahwa kapitalisme memerlukan kerja tak berupah supaya kapitalisme dapat berfungsi (Aminah, 2012). Menurut Scott dan Andrew dalam buku Teori-teori Hubungan Internasional (Burchill & Linklater, 2009) teori feminisme ini muncul untuk mengkritik studi laki-laki guna mentransformasikan tekanan structural dimulai sejak kita (kaum perempuan) menyadari tekanan-tekanan sebagai seorang perempuan.

Teori feminisme terbagi menjadi dua cluster, yaitu yang pertama feminisme yang mengubah kodrat perempuan dan yang kedua adalah feminisme yang tidak mengubah atau melestarikan kodrat murni perempuan. Feminisme yang mengubah kodrat perempuan diantaranya adalah feminisme liberal, eksistensialisme, feminisme sosialis marxis, dan teologi feminisme. Sedangkan feminisme yang melestarikan kodrat perempuan juga memiliki dua jenis yaitu feminisme radikal dan ekofeminisme.

Menurut Megawangi, feminisme sosialis berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya. Kelompok ini menganggap posisi inferior perempuan berkaitan dengan struktur kelas dan keluarga dalam masyarakat kapitalis. Feminis sosialis mengadopsi teori praktis Marxisme yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas (Wibowo, 2011). Artinya, ada harapan besar agar para perempuan sadar bahwa kaumnya merupakan kelas yang dirugikan. Penyadaran ini dimaksudkan untuk membangkitkan emosional perempuan dan tegak untuk mengubah keadaan yang telah seperti itu. Upaya peruntuhkan system patriarki yang dainggap sangat menggangu kaum permpuan adalah dengan memuncakkan konflik antar kelas gender.

Di Inggris, Kelompok Kanan terbentuk kuat di kalangan perempuan pekerja. Mereka melaksanakan pemogokan untuk menuntut persamaan upah. Sementara itu kelompok kiri sangat dipengaruhi oleh paham Sosialis Marxisme. Namun dalam The British National Women’s Liberation Conference pada 1970, aliran kanan dan kiri di Inggris bersatu dan menyerukan satu feminisme (Suwastini, 2013). Sebenarnya, dalam upaya penyetaraan gender yang paling dibutuhkan adalah sikap saling menghormati, saling menghargai dan saling membutuhkan dari setiap relasi gender agar terciptanya hubungan yang harmonis bukan yang saling menentang dan penuh persaingan. Karena pada dasarnya aliran gender yang cocok ddi masyarakat adalah harus ada hubungan antar gender yang harmonis, dimulai dari tingkat keluarga hingga pada masyarakat, yaitu harus ada komunikasi dan perilaku saling menghargai, tanpa harus melalui aliran-aliran spesifik seperti diatas.

Feminisme sosialis adalah turunan dari pikiran Marx. Marx memiliki banyak hal untuk ditawarkan pada feminisme baik dari segi pendekatan khusus untuk keluarga dan penindasan, dan dari segi metodenya untuk memahami masyarakat (Gayatri, 2017). Marx juga menyampaikan pendapatnya tentang peran kaum perempuan dalam berjuang dengan kapitalisme selama hari kerja. Masuknya perempuan dalam angkatan kerja, terutama dengan diperkenalkannya mesin-mesin pada pabrik (dalam konteks buruh) menciptakan kesulitan sekaligus kemungkinan baru bagi gerakan buruh. Di satu sisi, hal ini menciptakan kesulitan-kesulitan karena peremuan dibayar lebih murah daripada laki-laki, dan hal ini cenderung membelah serta melemahkan gerakan (Gayatri, 2017). Perempuan yang masuk kedalam dunia kerja juga akan menambah kemungkinan-kemungkinan baru dalam upaya pengahncuran penindasan patriarki.

Feminisme sosialis-marxis adalah gerakan feminisme yang lahir pada gelombang pertama dimana berargumen bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki. Proyek teoritis feminis sosialis dikembangkan di seputar tiga tujuan: (1) mencapai kritik yang distingtif dan saling berkaitan terhadap penindasan patriarki dan kapitalisme dari sudut pandang pengalaman perempuan; (2) mengembangkan metode yang eksplisit dan memadai untuk analisis sosial yang berasal dari materialisme historis yang diperluas; dan (3) menggabungkan pemahaman terhadap signifikan ide dengan analisis materialis atas determinasi persoalan manusia (Ritzer & Goodman, 2004). Feminisme berpendapat bahwa pembebasan hanya  dapat diakhiri dengan penindasan kaum perempuan dan sumber ekonomi.

Feminisme marxis/sosialis menggambarkan posisi rendah perempuan dalam struktur ekonomi, sosial, dan politik dari sistem kapitalis, serta adanya analisis patriarki (pemusatan pada laki-laki). Fokusnya adalah kapitalisme dan patriarki menempatkan perempuan pada posisi yang tidak istimewa. Mereka berpendapat bahwa penghapusan sistem kapitalis merupakan cara agar perempuan mendapat perlakuan yang sama. Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya, sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaan pribadi (private property) kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Feminisme sosial muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme, dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Feminisme sosial menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. (Karim, 2014)

Dalam feminsime sosialis sangat menekankan bahwa tempat perempuan adalah dalam keluarga, dimana perempuan dianggap oleh masyarakat adalalah laki-laki meminta pelayanan kepada pihak perempuan. Dalam system perekonomin ini, laki-laki memerlukan orang lain sebagai tawanan, budak, istri dan anak sebagai generasi penerus atau pemelihara property yang dimiliki.  Marx dan Engels di dalam buku Teori-teori Sosiologi Modern (Ritzer & Goodman, 2004) menyimpulkan bahwa hanya dengan menghancurkan hak-hak property laki-laki dengan melalui revolusi kelas maka perempuan akan memperoleh kebebasan sosial, politik, ekonomi dan personal.

Menurut perspektif feminisme sosialis faktor-faktor seperti kesadaran, motivasi, gagasan, definisi sosial tentang situasi, pengetahuan, ideology keinginan bertindak menurut kepentingan sendiri atau menyetujui kepentingan orang lain adalah faktor yang mempengaruhi kepribadian dan tindakan manusia. Maka setiap tindakan yang terjadi dinilai oleh feminisme sosialis sebagai objek yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diatas.

Di buku Teori Sosiologi Modern karangan Ritzer dan Goodman, terdapat tiga penekanan yang berbeda di dalam feminsime sosialis, yang pertama adalah feminis materialis, relasi kekuasaan, dan materialisme kultural. Feminis materialis adalah yang meletakkan relasi gender dalam lingkup kapitalis kontemporer, seperti system yang berlaku secara global. Dalam kapitalis global perempuan yang bekerja akan mendapatkan upah yang lebih rendah dibandingkan dengan upah para pria, karena system patriarki yang menempatkan status perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Relasi kekuasaan di dominasi oleh praktek patriarki kapitalis melalui kontrol interdependen seperti system ekonomi, Negara dan juga profesi yang terfokus pada kegiatan perempuan sehari-hari. Relasi kekuasaan dalam kehidupan sehari-hari terlihat jelas pada teks, seperti formulir asuransi kesehatan, kalender kegiatan sekolah, iklan atau brosur tentang rumah yang ideal dan bagaimana tubuh perempuan yang ideal. Sedangkan materialisme cultural bertujuan untuk mengeksplorasi banyak cara bagaiana kebijakan public, ideology sosial, serta media massa berhubungan dengan manusia, membuat pola, mengontrol suatu pemikiran dan dipolakan oleh pikiran.

Feminisme sosialis menerima analisis relasi kelas kapitalisme dari Marx sebagai penjelasan salah satu struktur penindasan. Namun, merela menolak analisis Marxian tentang patriarki sebagai efek samping dari produksi ekonomi yang sama. Dalam hal ini mereka justru mendukung penjelasan feminis radikal dan terbukti bahwa patriarki ketika berinteraksi dengan kondisi ekonomi merupakan struktur penindasan yang independen. Kemudian, feminisme sosialis menyatukan dua pengetahuan ini, yakni: pengetahuan penindasan di dalam kapitalisme dan patriarki kedalam penjelasan lengkap dan memadai tentang semua bentuk dari penindasan social. (Aminah, 2012)

Feminisme Marxis lebih diarahkan untuk menghilangkan penindasan ekonomi perempuan dengan menghapus sistem pemilikan pribadi, yang ditempuh dengan cara mengajak perempuan untuk memasuki sektor politik, sehingga menjadi produktif (menghasilkan materi/uang). Kelompok ini juga berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami oleh wanita bukan disebabkan oleh tindakan individu secara sengaja, tetapi akibat dari struktur soaial, politik dan ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem kapitalisme. (Faizain, 2007)

Pada intinya, program feminis sosialis adalah untuk menyerukan solidaritas global di kalangan kaum perempuan agar memerangi kesenjangan sosial akibat sistem kapitalis yang menindas kehidupan kaumnya, komunitas serta merusak lingkungan. Sudut pandang perspektif feminisme sosialis tidak melibatkan atau menyertakan kaum laki-laki serta dinilai banyak meninggalkan kondratnya sebagai perempuan. Feminis sosialis, sambil bersetuju bahwa terdapat hal yang universal dan tanpa batas waktu menyangkut penindasan perempuan, adanya penegasan bahwa hal itu memiliki berbagai bentuk berbeda dalam setting berbeda-beda, dan perbedaan itu adalah sangat penting. Proyek feminisme sosialis adalah dengan menggerakkan orang agar menggunakan Negara untuk redistribusi efektif sumber kemasyarakatan melalui pendanaan jaringan pengaman jasa publik seperti pendidikan yang didukung penuh oleh Negara, jaminan kesehatan, transportasi, perawatan anak, dan perumahan (mencakup struktur pajak progresif, sehingga mengurangi kesenjangan antara orang kaya dan miskin; garansi upah hidup untuk semua anggota komunitas). Penggerak feminisme sosialis yakin bahwa ini akan berhasil apabila orang-orang menyadari serta memperhatikan kondisi hidup masing-masing dan hidup orang lain disekitarnya. Ilmuwan-ilmuwan feminis sosialis adalah untuk memperlihatkan serta mengatasi kesenjangan materi riil yang berwujudkan kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, S. (2012). Gender, Politik, dan Patriarki Kapitalisme dalam Perspektif Feminis Sosialis. Politik Indonesia, 1(2), 53–57.

Burchill, S., & Linklater, A. (2009). Teori-teori Hubungan Internasional. (M. Sobirin, Ed.). Bandung: Penerbit Nusa Media.

Faizain, K. (2007). Mengintip Feminisme dan Gerakan Perempuan. Jurnal Egalita, 2(1), 70–79.

Gayatri, I. (2017). Mencari Jejak Feminisme dalam Marx, (February 2014), 1–30.

Karim, A. (2014). Sebuah Model Penelitian Kualitatif, 10, 83–98.

Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2004). Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam. (T. K. Santoso, Ed.) (6th ed.). Prenada Media.

Suwastini, N. K. A. (2013). Perkembangan Feminisme Barat Dari Abad Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme : Sebuah Tinjauan Teoretis. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 198–208.

Wibowo, D. E. (2011). Peran Ganda Perempuan dan Kesetaraan Gender. Gender, 3(1), 356–364.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

rizkimhrani
rizkimhrani

Rani, Master of Political Science.

Artikel: 4

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

88 + = 91