Hasil Sensus Penduduk 2020: Merebaknya Milenial dan Generasi Z di Indonesia

Akhir-akhir ini banyak media yang menyebutkan istilah “milenial” dan “Generasi Z”. Seiring berjalannya waktu, istilah-istilah tersebut yang sebelumnya asing di pendengaran masyarakat, kini menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia. Milenial merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996 yang memiliki perkiraan rentang usia 24 hingga 39 tahun. Adapun Generasi Z merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 yang memiliki perkiraan rentang usia 8 hingga 23 tahun.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 menunjukkan bahwa struktur umur penduduk di Indonesia didominasi oleh milenial dan Generasi Z. Sensus penduduk merupakan salah satu sensus yang diadakan di Indonesia yang dilakukan setiap 10 tahun sekali dan diadakan di tahun yang berakhiran angka 0. Berdasarkan hasil sensus tersebut menunjukkan bahwa persentase penduduk milenial di Indonesia sebesar 25,87 persen sedangkan persentase penduduk Generasi Z di Indonesia sebesar 27,94 persen. Jumlah penduduk milenial dan Generasi Z yang mendominasi negeri ini merupakan suatu hal yang menggembirakan. Hal ini dikarenakan penduduk milenial dan Generasi Z merupakan penduduk yang akan atau masih berusia produktif dan memiliki tenaga yang lebih.

Ketika penduduk masih berusia produktif, penduduk tersebut masih mampu bekerja dengan berbagai macam jenis pekerjaan sehingga menghasilkan pendapatan yang layak dalam memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang berpeluang dalam menghadapi bonus demografi.

Bonus demografi dapat diartikan sebagai suatu kondisi di suatu wilayah yang apabila jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk usia tidak produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Bonus demografi diperkirakan akan terjadi di 100 tahun Indonesia merdeka, tepatnya tahun 2045 dengan jumlah penduduk mencapai 309 juta jiwa. Dari jumlah penduduk ratusan tersebut, didominasi oleh penduduk usia produktif. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masih dapat memiliki penghasilan dan diperkirakan mampu mendorong pendapatan per kapita mencapai US $30.000 per tahun (finance.detik.com, 2017).

Mempersiapkan bonus demografi di Indonesia bukanlah perkara mudah. Hal ini dikarenakan kondisi bonus demografi diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Apabila momentum bonus demografi dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan baik, maka Indonesia memiliki bibit-bibit yang unggul yang dapat mendongkrak kemajuan negeri ini. Adapun apabila momentum bonus demografi tidak dimanfaatkan dengan baik, maka impian negeri ini menjadi negara yang lebih maju akan menjadi lebih lambat. Hal ini dikarenakan akan berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan sehingga akan terjadi masalah-masalah sosial seperti meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Belum ada kata “terlambat” dalam mempersiapkan momentum bonus demografi di negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan peran berbagai pihak dalam mempersiapkannya. Kebutuhan dasar seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan harus dinikmati oleh seluruh masyarakat terutama penduduk yang berusia produktif. Hal ini dikarenakan masih banyak ditemukan masyarakat yang kurang dalam mendapatkan fasilitas pendidikan maupun kesehatan. Bahkan di beberapa wilayah di Pulau Jawa, masih ditemukan suatu wilayah yang kesulitan dalam memperoleh air bersih. Selain itu, masih juga ditemukan anak-anak yang menempuh perjalanan ke sekolah yang cukup jauh ketika dalam kondisi normal, tepatnya sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Hal ini cukup memilukan pasalnya berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 sebesar 56,10 persen (151,6 juta jiwa) penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat dalam mempersiapkan momentum bonus demografi melalui aspek pendidikan, kesehatan, maupun aspek-aspek lainnya.

Covid-19 yang mulai melanda negeri ini pada Maret tahun 2020, bukanlah suatu alasan untuk bermalas-malasan dalam mempersiapkan bonus demokrasi. Pandemi Covid-19 telah mengubah pola kehidupan menjadi hal yang tidak biasa. Oleh karena itu, pandemi Covid-19 bukanlah suatu momentum milenial dan Generasi Z untuk selalu rebahan dan bermalas-malasan sehingga menjadi penduduk yang tidak produktif. Namun, maanfaatkan waktu luang yang lebih banyak tersebut dengan berkarya dan belajar sehingga menjadi bekal dalam menghadapi masa depan maupun kondisi pandemi Covid-19.

Referensi:
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3738924/sri-mulyani-bicara-soal-keuntungan-bonus-demografi-ri-di-2045

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Dyah Makutaning Dewi, S.Tr.Stat.
Dyah Makutaning Dewi, S.Tr.Stat.

Saya memiliki hobi menulis sejak SMA. Semoga karya-karya saya yang dibantu Allah tersebut dapat bermanfaat meskipun saya telah tiada nantinya.

Artikel: 12

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *