Memperingati Hari Lahan Basah Internasional, Yuk kenali 7 situs Ramsar Indonesia

Sebagai upaya dalam melindungi ekosistem lahan basah dunia, pada tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran di tetapkan hari lahan basah dunia atau yang biasa disebut konvensi Ramsar. Nama lain dari Konvensi Ramsar adalah Convention on Wetlands of International Importancem Especially as Waterfowl Habitat. Penadatangan Konvensi tersebut diikuti oleh 35 Negara yang terdiri dari 13 Negara berkembang dan 21 berasal dari negara-negara di Eropa. Indonesia menjadi anggota dalam konvensi ini tertulis pada Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tanggal 19 Oktober 1991.

Seperti yang termaktub dalam Isi Konvensi Ramsar Pasal 1 ayat (1) bahwa definisi dari lahan basah meliputi daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan alami atau buatan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut.

Mengapa lahan basah menjadi penting dalam menjaga pelestarian ekosistem? Ekosistem lahan basah bisa dikatakan ekosistem peralihan antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Lahan basah bisa menjadi lahan yang penting bagi lingkungan hidup, sebab di sini dapat ditemukan berbagi macam keanekaragaman hayati dimana berbagai macam tipe vegetasi (masyarakat tetumbuhan), seperti hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lain. Salah satu ekositem lahan gambut juga dikenal dapat menyimpan cadangan air, biodiversity serta stok karbon. Disisi lain, lahan basah memiliki tekstur tanah yang subur sehingga kerap dibuka, dikeringkan, dan dikonservasi sebagai lahan pertanian, persawahan, dan pertambakan.

Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya, mulai dari yang khas lahan basah seperti buaya, kura-kura, biawak, ular, aneka jenis kodok, dan pelbagai macam ikan, hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia, termasuk pula harimau dan gajah. Itulah mengapa lahan basah juga dikatakan sebagai wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem lain.

Begitu pentingnya lahan basah sehingga menjadi lahan yang dilindungi dalam perjanjian dunia, Konvensi Ramsar maka Ada beberapa kriteria atau syarat dalam mengidentifikasi kawasan lahan basah yang mempunyai nilai universal untuk dapat tercatat di Daftar Situs Ramsar atau Ramsar Listed Sites antara lain:

  1. Keterwakilan, langka atau unik. Lahan basah menjadi contoh keterwakilan, langka atau unik dari tipe lahan basah atau bisa dikatakan mendekati alami.
  2. Konservasi keanekaragaman hayati. Lahan basah mendukung aneka macam spesies yang rentan, langka atau hampir punah.
  3. Kriteria khusus burung air. Secara teratur lahan tersebut mendukung dan dihuni oleh 20.000 atau lebih jenis burung air dan juga dihuni oleh individu dari satu spesies atau sub spesies burung air sebanyak 1% dari total populasi burung air.
  4. Kriteria khusus ikan. Secara teratur lahan tersebut mendukung dan dihuni oleh proporsi yang nyata dari spesies atau sub-spesies atau famili ikan asli dan juga sebagai tempat makan yang sangat penting bagi ikan.
  5. Kriteria khusus untuk jenis–jenis lain. Lahan basah secara teratur mendukung 1% individu dari satu spesies/sub-spesies bukan burung yang bergantung pada lahan basah.

Atas dasar kriteria dan syarat diatas, Indonesia mendaftarkan 7 situs lahan basah ke dalam Situs Ramsar diantaranya sebagai berikut :

  1. Taman Nasional Berbak di Provinsi Jambi

Source : Facebook TN Berbak dan Sembilang

Taman nasional ini memiliki luas 142.750 hektare. Keunikannya berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa air tawar dan hutan rawa gambut yang terbentang luas di pesisir Timur Pulau Sumatra serta Taman Nasional Berbak adalah bagian dari Bentang Alam Hutan Gambut Berbak yang luas 238.000 hektare.

Di Tahun 2018, Balai TN Berbak dan Sembilang yang didukukng oleh Tiger Project GEF-UNDP Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Sumatera Priority Landscape mendorong pengelolaan konservasi Burung Air/Pantai Migran yang merupakan destinasi wisata Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan melakukan monitoring Burung Air/Pantai Migran di Pantai Cemara kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur,  Balai KSDA Jambi, Balai Taman Nasional Berbak Sembilang, dan masyarakat (Kelompok Pemerhati Burung di Jambi).

Hasil pengamatan lapangan dijumpai 514 individu burung migran yang berasal dari Myanmar, Mongolia dan dari Sumatera sendiri yang pernah dilakukan pemasangan cincin”. Terdapat 19 species yang dijumpai pada saat pengamatan antara lain jenis burung Cerek, White, Gajahan, Biru Laut, Trinil dan Dara Laut Kuntul Besar, untuk Burung Dara Kuntul Besar  merupakan spesies lokal/menetap.

2. Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat

Source : https://en.wikipedia.org/wiki/File:Danau_Sentarum_2006.jpg

Danau Sentarum adalah danau musiman yang berada di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Danau ini dipenuhi air selama 10 bulan setiap tahunnya, dan sisanya akan surut, membentuk kolam-kolam kecil yang berisi ikan-ikan kecil. Saat kemarau, Air Danau Sentarum memasok setengah dari aliran air Sungai Kapuas. Luas keseluruhan danau ini 132.000 Ha. Beberapa jenis ikan melewati danau ini dalam siklus reproduksinya, antara lain jelawat (Leptobarbus hoevenii), menyadin (Osteochilus triporos), belantau (Macrochirichthys macrochirus), dan tapah (Wallago leeri). Burung dara laut (Sterna spp.) juga bermigrasi dari pantai ke Taman Nasional Danau Sentarum untuk bertelur.

3. Suaka Margasatwa Pulau Rambut di DKI Jakarta

Source : https://www.khatulistiwa.info/2012/11/wisata-lingkungan-ke-pulau-rambut.html

Pulau Rambut merupakan salah satu pulau yang berada dalam gugusan Kepulauan Seribu. Secara administratif termasuk dalam wilayan kabupaten Kepulauan Seibu provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Pulau Rambut terkenal juga dengan nama Pulau Kerajaan Burung. Luasnya mencapai 45 hektare. Pulau ini banyak di tumbuhi hutan bakau  yang rimbun serta terumbu karang  yang sangat indah. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Nidelberg. Pada keadaan biasa, diperkirakan sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Di bulan Maret  sampai September , jumlah itu meningkat menjadi hingga 50.000 burung. Burung-burung itu diperkirakan datang dari Australia.

Source : https://www.khatulistiwa.info/2012/11/wisata-lingkungan-ke-pulau-rambut.html

Burung-burung air banyak bertebaran di sekitar pantai teluk Jakarta. Ada yang menyebar hingga Tanggerang  yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pulau Rambut. Ada juga yang terbang dan mencari makan di sekitar hutan bakau di pesisir utara Jakarta. Tapi ada juga burung yang terbang hingga Marunda dan Muara Gembong di Bekasi.

4. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara

Source : https://www.menlhk.go.id/site/single_post/1078

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai adalah taman nasional yang terletak di provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1989, dan memiliki wilayah seluas 1.050 km². Ketinggian taman ini bervariasi dari di atas permukaan laut hingga ketinggian 981 m. Taman ini memiliki beragam vegetasi, seperti hutan mangrove. Di taman nasional ini juga terdapat babi, rusa, anoa dan 155 spesies burung, 37 di antaranya endemik. Selain itu, di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai terdapat 323 spesies tanaman.

Tipe ekosistem Rawa Aopa merupakan tipe vegetasi rawa gambut terluas di daratan Sulawesi. Kombinasi unsur lingkungan yang terdapat pada Rawa Aopa meliputi penutupan badan air oleh vegetasi yang lebih dari 90%, material dasar rawa yang bergambut dan topografi disekitarnya yang berupa gugusan perbukitan, secara akumulatif telah menciptakan kondisi pengendalian tata air (hidrologi) yang sempurna bagi keseimbangan ekosistem daratan Sulawesi Tenggara secara umum. Kondisi tersebut juga merupakan habitat ideal bagi berbagai jenis burung air dan burung migran yang berjumlah 23 spesies.

5. Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan

Source : Tribun Sumsel/Agung Dwipayana

Taman Nasional Sembilang adalah taman nasional yang terletak di Kabupaten Banyuasin, pesisir Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Taman Nasional ini memiliki luas sebesar 2.051 km². Taman Nasional Sembilang merupakan habitat bagi harimau sumatra, gajah Asia, tapir Asia, Siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar dan berbagai spesies burung. Taman Nasional Sembilang terdiri dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar dan hutan riparian di Provinsi Sumatra Selatan.

6. Taman Nasional Wasur di Papua

Source : http://www.tamannasionalwasur.com

Taman Nasional Wasur merupakan bagian dari lahan basah terbesar di Papua  dan sedikit terganggu oleh aktivitas manusia, ini disebabkan oleh adanya masyarakat adat yang bertempat tinggal di dalam kawasan dan merupakan pemilik hak ulayat hutan adat. Biodiversitasnya membuat taman ini dijuluki sebagai “Serengeti Papua”. Sekitar 70% dari luas wilayah ini terdiri dari sabana, sementara vegetasi lainnya merupakan hutan rawa-rawa, hutan monsoon, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan sagu. Tanaman yang dominan meliputi  spesies Mangrove, Terminalia dan Melaleuca.

7. Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah

Source : Kompasiana.com

Taman Nasional Tanjung Puting adalah sebuah taman nasional  yang terletak di semenanjung barat daya provinsi Kalimantan Tengah. Tanjung Puting pada awalnya merupakan cagar alam dan suaka margasatwayang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda  pada tahun 1937. Selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1996 tanggal 25 Oktober 1996, Tanjung Puting ditunjuk sebagai Taman Nasional dengan luas seluruhnya 415.040 ha.

Taman Nasional ini memiliki beberapa tipe ekosistem, yaitu hutan tropika dataran rendah, hutan tanah kering (hutan kerangas), hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau atau mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder.

Sumber :

id.wikipedia.org/

https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/konvensi-ramsar-beserta-penjelasannya

https://www.menlhk.go.id/

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rizka Nurfadillah
Rizka Nurfadillah

Seorang lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedang asik menulis dan wara-wiri baik di dunia nyata maupun maya.

Artikel: 11

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *