Kompetensi? Bukan, Inilah Taktik Keterampilan Sosial yang Dibutuhkan dalam Promosi Jabatan

Promosi jabatan atau jenjang karir merupakan hal yang umum terjadi di sebuah perusahaan. Jika kita menempati suatu posisi jabatan dan dinilai bertanggung jawab, memiliki inisiatif tinggi, produktif, dan bekerja keras dibandingkan dengan karyawan lainnya, tentu hal yang mungkin untuk kita dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi. Namun, itu hanyalah situasi ideal yang seharusnya terjadi. Pada kenyataannya banyak kita jumpai seorang pekerja keras dan bertanggung jawab yang tidak berhasil menempati jabatan yang tinggi di perusahaan. Sebaliknya, orang-orang yang kita anggap tidak berkompeten justru memiliki jenjang karir yang bagus.

Lalu adakah penjelasan mengenai hal tersebut? Bagaimana mungkin seorang yang tidak cukup baik dalam memimpin justru mendapatkan promosi jabatan dan seseorang yang baik dalam memimpin justru ditinggalkan?

Terdapat sebuah penelitian sosial mengenai kompetisi di dalam sebuah kelompok. Pada penelitian tersebut masing-masing orang dalam kelompok diharuskan untuk berkompetisi satu sama lain, berdebat, dan membuktikan siapa yang paling berkompeten untuk menjadi pemimpin di sana. Seperti layaknya berada pada sebuah partai politik dimana mereka adalah satu tim tapi saling berkompetisi untuk menentukan siapa pemimpinnya. Pada akhirnya yang terjadi adalah para kandidat pada kelompok tersebut saling berdebat, menyampaikan pidato masing-masing, dan bahkan menggunakan taktik marketing untuk memperoleh suara dan menjatuhkan kandidat lain.

Coba pikirkan, dalam situasi tersebut apakah menjadi seorang pemimpin ditentukan dari kompetensi? Sudah ada berapa banyak politisi yang terpilih bukan karena kompetensi mereka melainkan hanya karena kemampuan berdebat, kepercayaan diri yang tinggi, dan kepandaian menyampaikan visi dan misi yang menarik?

Sama halnya dengan hasil penelitian tersebut, dalam promosi jabatan pun terkadang hal-hal selain kompetensi tersebutlah yang menentukan. Untuk menjadi seorang pemimpin atau seseorang dengan jabatan tinggi yang dibutuhkan hanyalah reputasi kita di dalam sebuah kelompok yang mana dimunculkan dari keterampilan politik, karisma, kemampuan mempengaruhi, dan juga kepercayaan diri, bukan kompetensi. Kenyataannya, hal-hal yang diperlukan untuk menang melawan rekan-rekan kita dalam promosi jabatan justru malah kebalikan dari apa yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang baik itu sendiri. Untuk dipromosikan pada suatu jabatan dibutuhkan kemampuan mempengaruhi, kepercayaan diri yang tinggi, dan karisma. Sedangkan seorang pemimpin yang baik seharusnya justru memiliki sikap yang rendah hati, tenang, dan realistis akan visi misinya.

Hal-hal semacam itu bisa saja menjadi halangan bagi orang-orang rendah hati yang murni mengandalkan kompetensinya untuk mendapatkan promosi jabatan dan memajukan karirnya. Beberapa hal berikut merupakan taktik yang dapat dilakukan untuk menunjukkan integritas dan keterampilan sosial yang kita miliki agar tidak diragukan dalam kompetisi persyaratan promosi jabatan:

  1. Cobalah untuk lebih merperhatikan dan fokus pada reputasi yang kita miliki

Terdapat dua aspek yang dalam kepribadian seseorang, yaitu identitas dan reputasi. Pada hal ini identitas bukanlah hal yang penting karena itu hanya berkaitan dengan bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Sedangkan reputasi adalah tentang bagaimana orang lain memandang diri kita. Pikirkan bagaimana orang lain memandang diri kita. Coba bayangkan diri kita dari sudut pandang orang lain atau mintalah orang yang kita percayai untuk berkata jujur mengenai diri kita. Cari tahu sikap kita yang mana yang baik dan sebaliknya yang dapat memperburuk reputasi kita. Perhatikan dan mulai ubah cara kita bersikap dalam keseharian di tempat kerja. Perhatikan cara bicara kita, kendalikan emosi, hindari pertengkaran dengan rekan kerja, hindari drama rekan-rekan kerja yang tidak menyukai kebijakan perusahaan. Sebisa mungkin hindari hal-hal yang dapat memperburuk reputasi kita di tempat kerja.

  1. Menjadi lebih karismatik

Karismatik sebenarnya adalah sesuatu yang dapat dilatih karena ini lebih kepada apa yang orang lakukan bukan siapa orang itu sendiri. Karisma mungkin saja memang kecenderungan yang berasal dari dalam diri seseorang tapi penilaiannya tetap dari orang lain. Bagaimana seseorang itu dianggap karismatik dan tidak itu tergantung dari observasi dan penglihatan orang lain. Beberapa hal ini bisa merubah kita dari pribadi yang membosankan menjadi pribadi yang lebih menarik dan mengesankan di tempat kerja:

  • Saat berbicara dengan orang lain, biasakan gunakan bahasa yang sopan dan sederhana agar mudah dipahami,
  • Buatlah penjelasan yang menarik selayaknya orang marketing yang sedang menjual produknya ketika mempresentasikan proyek yang sedang kita kerjakan,
  • Tunjukkan semangat dan keyakinan nilai-nilai moralitas seperti kejujuran, ketulusan, dan kepedulian kepada rekan kerja kita,
  • Ajukan pertanyaan retoris saat sedang berdiskusi atau berdebat,
  • Ambil kelas public speaking untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum jika perlu.
  1. Gunakan kekuatan untuk mempengaruhi orang lain

Seperti layaknya politisi, kemampuan untuk mempengaruhi orang lain ini juga penting untuk dapat dikenal dan dihargai di tempat kerja kita. Seseorang yang memiliki kemampuan mempengaruhi dinggap layak dan mampu menjadi seorang pemimpin. Robert Cialdini dalam bukunya, Influence: The Psychology of Persuasion mengidentifikasi enam teknik dasar dalam mempengaruhi orang lain, yaitu:

Pertama, reciprocity: Istilah ini didasarkan pada konsep memberi untuk menerima. Ketika kita memberi bantuan kepada orang lain, maka orang lain akan cenderung memberi kita bantuan juga saat kita minta. Cobalah untuk konsisten memberi bantuan kepada orang lain, maka orang lain juga akan mudah memberi apa yang kita minta.

Kedua, scarcity: Jangan menjadi seseorang yang bersedia melakukan apapun setiap saat karena bisa jadi kita akan dianggap lemah dan terlalu patuh terhadap orang lain. Ciptakan urgensi terhadap keberadaan kita. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan harga diri kita di tempat kerja.

Ketiga, authority: Hanya karena keterampilan sosial penting, bukan berarti kompetensi kalah penting. Jadilah seseorang yang ahli dan memahami pekerjaan kita melebihi orang lain dan tunjukkan. Kemampuan mengerjakan sesuatu dengan lebih efektif dan memiliki insiatif tinggi dalam menangani masalah adalah dua hal penting untuk menunjukkan kompetensi yang kita miliki. Jika kita yakin akan kompetensi kita, tunjukkan bahwa kita memang mampu dan jangan hanya berdiam diri.

Keempat, consistency: Buat komitmen-komitmen kecil dan terus tingkatkan seiring waktu. Konsistensi memiliki dua alasan penting dalam hal ini. Orang yang konsisten cenderung lebih dapat dipercaya dan juga dipandang lebih karismatik oleh orang lain karena tindakan mereka sejalan dengan apa yang mereka katakan atau setujui sebelumnya.

Kelima, liking: Tidak ada hal yang lebih baik untuk mempengaruhi orang lain selain menjadi disukai. Menjadi disukai lagi-lagi juga berhubungan dengan mudah dipercaya. Ketika seseorang menyukai kita mereka akan percaya dan cenderung mengatakan ‘ya’ kepada kita. Bersikaplah lebih ramah dan tunjukkan rasa hormat kepada orang-orang di lingkungan kerja. Selain itu, kemampuan berempati juga salah satu hal yang dapat meningkatkan karisma kita untuk disukai orang lain.

Keenam, consensus atau pembuktian sosial: Terkadang dalam melakukan suatu hal kita membutuhkan validasi dari orang lain seperti apakah yang kita lakukan sudah benar atau apakah kita tidak membuat kesalahan dalam pekerjaan. Hal ini juga berlaku untuk menjadi orang yang dapat mempengaruhi orang lain. Ketika kita meminta orang lain untuk mengerjakan sesuatu, tunjukkan bahwa apa yang kita minta orang lain untuk melakukannya itu adalah hal yang benar. Buktikan kepada orang lain bahwa setiap keputusan dan inisiatif yang kita buat adalah langkah yang tepat untuk dilakukan.

Sumber: Cialdini, R. (1984). Influence: The Psychology of Persuasion. New York: Harper Collins.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rach
Rach

Seorang freelance writer yang aktif belajar, melakukan research dan juga menulis berbagai psychological issues.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *