The Five Languages of Apology: Teknik Meminta Maaf Dengan Cara yang Baik dan Benar

Melakukan kesalahan merupakan hal yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali, perbuatan yang kita lakukan, baik sengaja ataupun tidak, melukai perasaan orang lain, sehingga salah satu cara yang harus dilakukan adalah meminta maaf.

Namun, ternyata dalam melontarkan kata “minta maaf” tidak hanya sekedar mengakui kesalahan apa yang telah  kita lakukan. Lebih dari itu, terdapat bahasa khusus yang diterapkan supaya permohonan maaf tersebut mampu tersampaikan dengan baik.

Wah, ternyata untuk minta maaf pun terdapat bahasa tersendiri, ya?

Iya, mungkin sebagian dari kita merasa bahwa untuk menyatakan maaf hanya dibutuhkan kesadaran diri untuk mengakuinya. Padahal, kenyataannya tidak semudah itu. Hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai hak untuk dihargai perasaannya, sehingga kita harus sadar diri ketika melakukan kesalahan dan bergegaslah minta maaf.

Menelisik dari beberapa sumber yang terpaku pada sebuah buku hasil karya Dr. Gary Chapman dan Jeniffer Thomas berjudul The Five Languages of Apology, para pembaca akan disuguhkan mengenai teknik “meminta maaf” dengan cara yang baik dan benar. Terdengar sederhana, akan tetapi efeknya sangat luar biasa.

Jika disebutkan secara singkat, The Five Languages of Apology menyatakan bahwa terdapat lima bahasa yang digunakan untuk mengutarakan kata maaf, di antaranya adalah seperti berikut:

Expressing Regret 

Dalam pembahasan expressing regret, kita tidak hanya sekedar menyatakan bahwa “Benar, saya melakukan kesalahan dan saya minta maaf”. Lebih dari itu, kita harus menjelaskan secara detail mengenai kesalahan apa yang telah dilakukan, sehingga menjadikan orang tersebut sedih dan terluka hatinya.

Contohnya saja, ketika kita melontarkan lelucon yang berhubungan dengan bentuk fisik seorang teman. Pada dasarnya kita hanya ingin bercanda tanpa ada maksud untuk melukai perasaannya. Namun, teman kita menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang serius dan bentuk penghinaan fisik terhadap dirinya.

Ketika kita sadar telah melakukan kesalahan, hal pertama yang dilakukan adalah mengakui kesalahan yang kita perbuatan. Kita bisa mengutarakan bentuk permohonan maaf seperti ini, anggap saja teman kita bernama Farhana.

“Farhana, sebelumnya saya minta maaf mengenai kejadian kemarin. Saya mengakui kesalahan ini karena saya sadar telah melukai hati kamu. Saya melontarkan lelucon dengan membahas bentuk badanmu. Rasanya tidak etis tertawa pada pembahasan yang ternyata menjadikan kamu sedih, marah dan kecewa. Saya minta maaf”

Accepting Responsibility

Mengakui kesalahan adalah bagian penting dari accepting responsibility. Namun, setelah melalui tahap tersebut, kita harus menyadari dan menerima bahwa memang kita melakukan kesalahan dan siap menerima fakta tersebut tanpa melakukan pembelaan terhadap diri sendiri.

Jika diperhatikan dengan seksama, baik diri sendiri maupun orang lain, terkadang saat mengucapkan kata maaf, sering diselipkan dengan kalimat,

“Saya minta maaf karena ingin berdamai dengan diri sendiri” atau “Saya minta maaf karena saya tidak ingin terus bertengkar dengan kamu”.

Pernah mendengar ataupun mengutarakan kalimat-kalimat tersebut? Iya, meskipun tujuannya baik, akan tetapi masih terselip “pembelaan terhadap diri sendiri” dan tidak mengakui kesalahan yang dilakukan secara utuh.

Making Restitution

Dalam making restitution, kita lebih diarahkan untuk melakukan aksi (take action) kepada pihak yang telah kita sakiti hatinya melalui sebuah perbuatan. Tujuannya adalah sebagai bentuk permohonan maaf setelah diutarakan secara lisan.

Misalnya, saat kita telat datang ke sebuah acara, lalu teman merasa sedih dan kecewa karena kita tidak mampu datang tepat waktu. Cara terbaik untuk menunjukkan making restitution adalah mengatakan kalimat seperti ini,

Baik, apa yang saya bisa lakukan untuk menebus kesalahan ini supaya kamu dapat merasa lebih baik?”

 Genuinely Repenting

Bahasa selanjutnya yang bisa dilakukan dalam meminta maaf adalah genuinely repenting. Jika sudah mengakui kesalahan, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukannya di lain waktu. Mungkin terdengar klise, karena pada dasarnya manusia sering melakukan kesalahan, bahkan pada kesalahan yang sama. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

Requesting Forgiveness

Kembali lagi ke niat awal untuk meminta maaf karena melakukan kesalahan. Namun, dalam requesting forgiveness, permohonan maaf ini lebih ditekankan kepada pihak yang tersakiti hatinya. Permintaan yang tulus dan fokus kepada orang tersebut dipercaya mampu mengurangi rasa sakit yang dirasakan atas perbuatan kita, sehingga menerapkan requesting forgiveness juga tidak kalah penting untuk dilakukan.

Menerapkan salah satu dari five language of apology ternyata mampu memperbaiki suatu hubungan sosial ke arah yang lebih baik, mulai dari keluarga, kerabat hingga pasangan. Oleh karena itu, dalam mengutarakan permohonan maaf, ada baiknya kita benar-benar menyadari bahwa terkadang tindakan yang kita lakukan mampu menyakiti orang lain.

Jadi, jangan sungkan untuk meminta maaf dan terapkan dengan cara yang baik dan benar, ya!

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Lia Rahma Pradhita
Lia Rahma Pradhita

Drowned sun.

Artikel: 8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *