MRP

Mengelola Persediaan Bahan Baku dengan Metode Material Requirement Planning (MRP)

Setiap perusahaan yang memproduksi suatu barang pastilah memerlukan yang namanya bahan baku. Persediaan bahan baku merupakan suatu faktor penting pada perusahaan dalam menunjang kelancaran kegiatan proses produksi, baik dalam perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil. Metode yang digunakan dalam manajemen persediaan bahan baku ada bermacam-macam dan setiap perusahaan tentunya mempunyai manajemen yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Material Requirement Planning (MRP).

Material Requirement Planning (MRP) dapat didefinisikan sebagai suatu alat atau set prosedur yang sistematis dalam penentuan kuantitas serta waktu dalam proses pengendalian kebutuhan bahan terhadap komponen-komponen permintaan yang saling bergantungan (dependent demand items). Permintaan dependent adalah komponen barang akhir seperti bahan mentah, komponen suku cadang dan sub perakitan dimana jumlah persedian yang dibutuhkan tergantung (dependent) terhadap jumlah permintaan item barang akhir.

MRP
Ilustrasi: modula.eu

Sistem ini digunakan untuk menghitung kebutuhan bahan baku yang bersifat dependent (berdasar permintaan) terhadap penyelesaian suatu produk akhir. Dengan sistem MRP, dapat diketahui jumlah bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu produk dimasa yang akan datang sehingga perusahaan dapat mengoptimalkan persediaan bahan baku yang diperlukan agar jumlah persediaan tidak terlalu banyak tetapi juga tidak terlalu sedikit. Tujuan yang ingin dicapai dalam sistem MRP ini yaitu:

  • Menjamin tersedianya material, item atau komponen pada saat dibutuhkan untuk memenuhi skedil produksi dan menjamin tersedianya produk bagi konsumen.
  • Menjaga tingkat persediaan pada kondisi minimum.
  • Merencanakan aktivitas pengiriman, penjadwalan dan aktivitas pembelian.

Penilaian Persediaan Bahan Baku

Persediaan yang dimiliki perusahaan akan dapat ditentukan harga perolehan persediaan dan nilai persediaan akan disajikan di neraca. Dalam menghitung nilai persediaan setiap perusahaan menggunakan metode pencatatan persediaan disesuaikan dengan jenis usaha. Menurut (Hermawan, 2008) ada tiga metode yang digunakan yaitu:

  1. Metode First In First Out (FIFO)
    Barang yang pertama kali masuk (dibeli) menjadi barang yang pertama kali keluar (dijual). Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli. Metode FIFO merupakan metode penilaian persediaan yang sangat realistis dan cocok digunakan untuk semua sifat produk. Realistisnya terletak pada barang yang pertama kali dibeli, maka barang itulah yang pertama kali dijual. Jika perusahaan menggunakan metode FIFO dalam menilai persediaan dengan asumsi telah terjadi peningkatan harga barang atau inflasi.
  2. Metode Last In First Out (LIFO)
    Barang yang terakhir kali masuk (dibeli) menjadi barang yang pertama kali keluar (dijual). Metode LIFO menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah. Metode LIFO bisa saja realistis apabila didukung oleh kondisi fisik produk yang dijual. Produk yang kualitasnya semakin lama disimpan maka semakin bagus, tentu akan cocok menggunakan metode ini. Namun apabila produknya merupakan barang yang cepat rusak seperti pabrik roti, maka menggunakan metode LIFO bukanlah pilihan yang tepat.Metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih besar kalau dihitung dengan metode LIFO. Metode LIFO akan menghasilkan laba tahunan menjadi lebih besar/dan pajak yang semakin besar.Penggunaan metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan akhir yang paling kecil, harga pokok penjualan yang paling besar dan laba kotor serta laba bersih yang paling kecil.
  3. Metode Rata-rata (Average)
    Metode ini tidak memperdulikan waktu barang masuk dan keluar. Penentuan harga diperoleh didasarkan pada rata-rata harga perolehan semua barang. Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor. Hasil perhitungan nilai persediaan dengan menggunakan metode rata-rata selalu berada ditengah-tengah antara perhitungan FIFO dan LIFO. Metode rata-rata termasuk metode yang praktis untuk digunakan.

Jenis Pembelian Bahan Baku

  1. Forward Buying
    Forward buying biasanya selama setahun yang tergantung pada ketersediaan barang, kebijakan keuangan, kuantitas pesanan ekonomi, diskon kuantitatif, dan pengiriman terhuyung, komitmen masa depan diputuskan. Jenis pembelian ke depan berbeda dengan pembelian spekulatif dimana motifnya adalah membuat modal keluar dari perubahan harga, dengan menjual barang yang dibeli. Organisasi manufaktur biasanya tidak menikmati pembelian tersebut. Namun, beberapa organisasi melakukan ‘Hedge‘, terutama di pasar komoditas dengan menjual atau membeli kontrak.
  2. Pembelian Tender
    Organisasi sektor swasta mengadopsi pembelian tender jika nilai pembelian lebih dari batas yang ditentukan. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah membuat daftar peserta tender, mengumpulkan tawaran dengan membandingkan kutipan dan menempatkan pesanan dengan penawar terendah. Namun, agar penawar terendah dapat dipilih maka perlu upaya yang dapat menjamin terpenuhinya jadwal pengiriman dan persyaratan kualitas. Sistem tender terbuka atau iklan di koran umum terjadi pada organisasi sektor publik karena tawaran iklan mahal dan memakan waktu sehingga sebagian besar organisasi sektor swasta hanya meminta tender dilakukan hanya dari pemasok terkenal yang mampu memasok bahan-bahan tersebut.
  3. Oder Blanket System
    Sistem ini meminimalkan biaya administrasi dan berguna untuk item jenis ‘C’, atau kesepakatan untuk menyediakan jumlah barang tertentu yang dipersyaratkan, dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun, dengan harga yang disepakati. Pengiriman dilakukan tergantung pada kebutuhan pembeli; sistem ini mengurangi pembeli dari pekerjaan rutin, memberikan lebih banyak waktu untuk memusatkan perhatian pada barang bernilai tinggi; lazimnya jika pesanan pembelian lebih sedikit sehingga dapat mengurangi pekerjaan juru tulis; mencapai harga yang lebih rendah melalui potongan harga dengan mengelompokkan persyaratan.
  4. Zero Stock
    Biasanya, perusahaan pembeli dan penjual saling berdekatan sehingga bahan baku satu adalah produk jadi dari produk lain; penjual sebagai pemegang inventaris; kedua belah pihak dapat berkoordinasi yang erat. Namun, harga per item dalam sistem ini akan sedikit lebih tinggi karena pemasok akan memasukkan biaya tercatat persediaan dalam harga. Dalam sistem ini, modal pembeli tidak beku sehingga rutinitas pembelian berkurang. Hal ini juga secara signifikan mengurangi keusangan persediaan, waktu tunggu dan pembukuan sehingga penjual dapat fokus pada usaha pemasaran kepada pelanggan lain dan penjadwalan produksi menjadi mudah.
  5. Tarif Kontrak (Rate Contract)
    Sistem tarif kontrak lazim terjadi pada organisasi sektor publik dan departemen pemerintah. Setelah negosiasi, penjual dan pembeli menyetujui tarif barang. Penerapan tarif kontrak telah membantu banyak organisasi untuk mengurangi waktu tunggu administrasi internal karena masing-masing perusahaan harus melalui departemen pembelian utama dan dapat memesan secara langsung dengan pemasok. Namun, pemasok selalu meminta harga yang lebih tinggi untuk pengiriman yang cepat untuk memastikan pengiriman jumlah minimum dengan tarif yang disepakati. Prosedur penetapan minimum disebut kontrak yang sedang berjalan dan dipraktikkan oleh perkeretaapian. Pembeli juga memiliki opsi untuk meningkatkan kuantitas sebesar 25% lebih banyak dari jumlah yang disepakati berdasarkan prosedur tersebut.
  6. Timbal Balik (Reciprocity)
    Pembelian timbal balik berarti membeli dari seorang pelanggan yang lebih menyukai pembeli lain (purchasing from one’s customers in preference to others). Namun, eksekutif pembelian tidak boleh melakukan tindakan timbal balik atas inisiatifnya bila syarat dan ketentuannya tidak sama dengan pemasok lainnya. Karena hal ini cenderung menghambat kompetisi dan dapat menyebabkan proses yang lebih tinggi dan lebih sedikit pemasok, timbal balik harus dipraktekkan secara selektif.
  7. Sistem Kontrak
    Prosedur untuk membantu pembeli dan penjual mengurangi biaya administrasi dan pada saat yang sama memastikan kontrol yang sesuai. Indent asli disetujui oleh pihak yang berwenang; dikirim kembali dengan barang-barang; menghindari dokumen seperti pesanan pembelian, permintaan bahan, surat ekspedisi dan ucapan terima kasih, prosedur harga pengiriman dan prosedur faktur. Sistem ini sangat sesuai untuk item harga satuan rendah dengan konsumsi tinggi.

Referensi:

  • Hermawan, Sigit. 2008. Akuntansi Perusahaan Manufaktur.Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Liestyana, Yuli. et al. 2008. Faktor-faktor Kritis dalam Penerapan Material Requirement Planning. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta: Karisma, 2(2): 155-174.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Reva Almalika
Reva Almalika

Seorang mahasiswa Agribisnis yang sedang berada pada tahun terakhir perkuliahan. Suka menuangkan pemikiran ke dalam suatu tulisan.

Artikel: 27

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

59 + = 68