Mengenal Tanaman Kopi, Si Minuman Penghilang Rasa Kantuk

Jaman sekarang minum kopi bukan lagi hanya untuk menghilangkan rasa kantuk, minum kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kopi bukan lagi diminum karena nilai gizinya, tetapi karena cita rasanya. Sebagai minuman, kopi adalah hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk.

Kata kopi atau dalam bahasa Inggris coffee, berasal dari bahasa Arab “qahwah” yang berarti kekuatan. Kemudian kata kopi yang kita kenal saat ini berasal dari bahasa Turki “kahveh” yang kemudian belakangan menjadi “koffie” dalam bahasa Belanda. Kata tersebut pada akhirnya diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “kopi”.

Kopi (coffea sp) merupakan suatu jenis tanaman tropis.  Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua spesies pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu Kopi Robusta (Coffea canephora) dan Kopi Arabika (Coffea arabica).

Tanaman kopi termasuk dalam genus Coffea dengan famili Rubiaceae. Genus Coffea mencakup hampir 70 spesies, dari yang berukuran seperti semak belukar hingga pohon yang tinggi. Tetapi hanya dua spesies yang ditanam dalam skala luas di seluruh dunia, yaitu kopi arabika (Coffea Arabica) dan kopi robusta (Coffea canephora var. robusta). Sementara itu, sekitar 2% dari total produksi dunia dari dua spesies kopi lainnya, yaitu kopi liberika (Coffea liberica) dan kopi ekselsa (Coffee excelsa) yang ditanam.

Tanaman kopi berasal dari dataran tinggi di Ethiopia, yang pada saat itu merupakan tanaman liar. Pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan. Seluruh biji kopi dihancurkan, lalu ditambahkan minyak. Lalu adonan ini dibentuk berbentuk bundar dan menjadi makanan. Sampai saat ini, beberapa suku di Afrika masih memakan kopi dalam bentuk seperti itu.

Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh penggembala-penggembala kambing jazirah Arab dimana mereka memperhatikan bahwa ternaknya selalu menunjukkan gejala gembira setelah menggigit biji dan daun suatu tanaman hijau berbunga dan berbuah merah kecil, di area tersebut. Karena khasiat ini mereka mencoba biji tanaman tersebut dan merasakan efek semangat serta gembira.

Akhirnya penemuan ini menyebar dari mulut ke mulut, sejak itu diberdayakanlah kopi. Menjadikan kopi  terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat.

Karena khasiatnya, kopi pun mulai diperdagangkan oleh orang-orang Afrika dan Arab kepada orang orang Eropa, dimana kopi mulai digunakan sebagai pengganti minuman anggur yang saat itu banyak digunakan sebagai minuman yang memiliki khasiat remedis selain minuman sosialisasi. Kopi digunakan sebagai minuman yang cukup nikmat dengan ditemukannya mesin penggiling biji kopi yang memudahkan produksi kopi sebagai minuman.

Khasiat kopi pun mulai digunakan juga sebagai obat. Biji kopi dibuat sebagai minuman yang mirip anggur dengan manfaat dari kandungan kafein-nya yang memberikan semangat. Beberapa orang membuat minuman seperti ini dengan menuangkan air mendidih ke biji kopi yang sudah dikeringkan.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa ada 4 jenis tanaman kopi yang ditanam dalam skala luas di seluruh dunia, yaitu arabika, robusta, liberika, dan ekselsa. Kelompok kopi yang dikenal memiliki nilai ekonomis dan diperdagangkan secara komersial adalah jenis arabika dan robusta, sisanya dianggap kurang ekonomis dan kurang komersial.

Kopi Arabika

Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Kopi ini juga yang pertama kali dikembangkan di dunia. Kopi jenis ini yang paling banyak diproduksi, yaitu sekitar lebih dari 60 persen produksi kopi dunia, tidak heran jika sebagian besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis ini. Kopi ini berasal dari Ethiopia dan sekarang telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India, dan Indonesia.

Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau subtropis. Tanaman kopi arabika baik dibudidayakan pada ketinggian 700-1500 m dpl. Tinggi pohon kopi Arabika adalah 4,6 meter. Tanaman ini cocok tubuh di daerah beriklim kering atau bulan kering 3 bulan/tahun dengan suhu idealnya 16-20 derajat celcius. Umumnya tanaman kopi ini berbuah sekali dalam setahun dengan rendemen sekitar 18%. Biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap. Bentuk daun tanaman ini mirip dengan bentuk daun tanaman kopi robusta. Kandungan kafeinnya tidak lebih dari 1,5% serta memiliki kromosom sebanyak 44. Walaupun tanaman kopi arabika tidak tahan terhadap panas dan penyakit, nilai ekonomisnya lebih tinggi dari biji kopi lainnya, mengingat juga kesulitan produksinya.

Kopi arabika diproduksi juga sebagai speciality coffee yang dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu (1) Colombian milds; (2) Others milds; dan (3) Brasilian and others arabicas (B&OA). Colombian milds dan Others milds diolah secara basah, sedangkan B&OA diolah dengan cara kering sehingga disebut juga unwashed arabicas.

Kopi Robusta

Pohon kopi yang juga cukup banyak diproduksi sebagai produk kopi adalah Coffea canephora yang sering dikenal sebagai kopi robusta. Tanaman kopi ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 400-700 m dpl., temperatur 21-24 derajat celcius, dengan bulan kering 3-4 bulan secara berturut-turut dan 3-4 kali hujan kiriman. Tinggi tanaman kopi robusta dapat mencapai 12 meter dan memiliki bentuk daun yang bulat telur dengan ujung agak meruncing yang tumbuh berhadapan pada batang-batang, cabang, dan ranting. Tanaman kopi ini memiliki sifat tahan terhadap panas dan lebih tahan terhadap penyakit daripada tanaman kopi arabika, menjadikan nilai ekonomisnya lebih murah. Kopi robusta banyak ditumbuhkan di Afrika Barat, Afrika Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan.

Profil kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa lebih ringan serta aroma kopi yang lebih kuat, dengan rasa pahit yang dominan. Kadar minyak didalam biji kopinya pun lebih banyak sehingga menghasilkan cream pada espresso yang lebih banyak. Kopi robusta lah juga yang biasanya digunakan sebagai kopi instant atau kopi cepat saji. Kopi robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi, mencapai 2,8% serta memiliki jumlah kromosom sebanyak 22 kromosom. Produksi kopi robusta saat ini mencapai sepertiga produksi kopi seluruh dunia.

https://asiacom.vn/robusta-coffee-and-arabica-coffee-whats-difference/

Selain kopi arabika dan robusta, masih terdapat spesias kopi lainnya yang dapat dikonsumsi, yaitu kopi jenis liberika dan ekselsa. Kedua jenis kopi tersebut tidak begitu populer sebab volume yang beredar di dunia sangat kecil.

Kopi Liberika

Kopi jenis liberika memiliki bentuk biji yang unik, yaitu lebih besar dan runcing dari umumnya serta mempunyai epicarp yang tebal. Dengan ukuran biji kopi mencapai 17 mm dan lebarnya 9 mm, menjadikan biji kopi liberika berukuran terbesar dibandingkan biji kopi spesies lainnya. Tanaman kopi ini tumbuh di dataran rendah dan tinggi tanamannya bisa mencapai 30 meter. Tanaman kopi liberika berbuah sepanjang tahun dengan ukuran buah yang tidak seragam. Konon, kopi liberika banyak terdapat di hutan pedalaman Kalimatan dan sudah menjadi minuman tradisional suku Dayak sejak dahulu.

Kadar kafein kopi jenis liberika yang tertinggi dibandingkan jenis Robusta dan Arabika, hingga mencapai 3.2%. Kopi jenis ini didapati terutama di Asia: Malaysia, Phillipina, dan dalam jumlah yang sangat kecil di India dan Liberia di Afrika. Total produksinya hanya 1% dari total produksi kopi dunia. Keunikan dalam profil rasa kopi liberika adalah rasa yang dihasilkannya adalah strong dan sweet after taste (rasa manis pasca rasa pahit).

Kopi Ekselsa

August Chevalier, seorang ahli botanis dan taksonomi dari Perancis, pada tahun 1905 menemukan tanaman kopi ekselsa disekitar aliran Sungai Chari, dekat dengan Danau Chad di Afrika Barat. Kopi ekselsa seringkali tidak dianggap sebagai spesies tanaman kopi tersendiri, karena dikelompokkan sebagai varietas kopi liberika atau Coffea liberica var. dewevrei. Bahkan hingga kini, nama ilmiah dari tanaman ini masih diperdebatkan.

Ekselsa merupakan jenis kopi yang ideal tumbuh pada ketinggian 0 hingga 750 mdpl. Kondisi iklim yang sesuai adalah iklim tropis dengan curah hujan sedang. Jika ditanam pada daerah dengan curah hujan yang tinggi maka produktvitas akan menurun karena pertumbuhan akan berfokus pada kayu. Tanaman ini mampu tumbuh dan beradaptasi pada lahan gambut yang memiliki kadar asam tinggi dan dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 8 meter. Dalam waktu 3,5 tahun tanaman kopi ini telah dapat dipanen. Aroma dan rasa kopi jenis ini cenderung kuat dan pahit.

https://pihattcoffee.com/coffee-360/coffee-excelsa/

Uniknya tanaman kopi adalah, di daerah tertentu akan menghasilkan kopi tertentu pula yang khas hanya diproduksi di daerah tersebut. Produk kopi jenis ini disebut speciality coffee, seperti antara lain Java Coffe (Jawa), Toraja Coffee (Sumatra), Moka (Yaman), Kilimanjaro Coffee (Tanzania), Kona Coffee (Hawaii), dan sebagainya. Speciality Cofee tersebut mempunyai harga yang tinggi di pasaran dunia, sebab rasanya khas dan jumlah produknya terbatas.

Salah satu jenis kopi lain yang populer adalah Kopi Luwak asli Indonesia. Jenis kopi ini merupakan turunan atau subvarietas dari kopi arabika dan robusta. Kopi luwak merupakan kopi dengan harga jual tertinggi di dunia. Proses terbentuknya dan rasanya yang sangat unik menjadi alasan utama tingginya harga jual kopi jenis ini. Pada dasarnya, kopi ini merupakan kopi jenis arabika. Biji kopi kemudian dimakan oleh luwak atau sejenis musang. Akan tetapi, tidak semua bagian biji kopi ini dapat dicerna oleh luwak. Bagian dalam biji ini kemudian akan keluar bersama kotorannya. Karena telah bertahan lama di dalam saluran pencernaan luwak, biji kopi telah mengalami fermentasi singkat oleh bakteri alami di dalam perutnya yang memberikan cita rasa tambahan yang unik.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Kopi\

Coffee Handbook, Materi Training Coffe Pod Technologi PT.DRI

Rahadjo, Pudji. Kopi: Paduan Budi Daya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta. Depok: Penerbar Swadaya. 2012.

Gardjito, Murdiajati dan Dimas Rahardian A.M, Kopi, Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2016

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Edyta Putri Sunarya
Edyta Putri Sunarya

Penggemar karya-karya John Grisham. Sangat suka menulis sejak kecil, walaupun tidak pernah berani mempublish. Beberapa tahun ke depan ingin bisa sehebat Dr. Spencer Reid.

Artikel: 11

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *