Gambar 1. Hasil Panen Ubi Porang (Sumber : dairipers.com)

Menggeluti Bisnis Porang dengan Omset Milyaran di Kala Pandemi

Menggeluti Bisnis Porang dengan Omset Milyaran di Kala Pandemi

Pada saat pandemi, kita harus memutar otak untuk bisa memenuhi kebutuhan di tengah kondisi yang serba terbatas ini. Memulai bisnis adalah salah satu yang dianjurkan untuk dijalani, namun adakah bisnis yang menghasilkan keuntungan dan prospek yang tinggi serta bermanfaat bagi masyarakat sekitar? Berikut akan diuraikan tentang bisnis budidaya tanaman porang yang saat ini sedang dibutuhkan untuk berbagai industri di dunia.

Gambar 1. Hasil Panen Ubi Porang (Sumber : dairipers.com)

Gambar 1. Hasil Panen Ubi Porang (Sumber : dairipers.com)

Tanaman porang (Amorphophallus muelleri) telah menjadi primadona di kalangan petani dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya di Pulau Jawa. Porang dikenal sebagai tanaman liar yang banyak tumbuh di hutan-hutan dan saat ini telah banyak dibudidayakan oleh petani. Sebelumnya banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana pemanfaatan porang dan bagaimana tanaman ini bisa bernilai ekspor yang tinggi. Faktanya, pemanfaatan ubi porang di luar negeri, terutama di Jepang dan China sangat besar dan menjangkau berbagai industri. Porang dapat diolah menjadi berbagai produk kecantikan, bahan makanan, obat-obatan, dan lain sebagainya. Karenanya permintaan akan tanaman ini meningkat drastis, sehingga menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Tanaman porang merupakan jenis tanaman ubi yang mempunyai potensi dan prospek besar untuk dikembangkan di Indonesia. Porang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kandungan glukomanannya. Glukomanan yang terkandung dalam porang telah digunakan sejak zaman kuno sebagai bahan makanan dan obat-obatan, terutama di China dan Jepang. Glukomanan merupakan karbohidrat serat yang khas ditemukan di tanaman porang. Terdapat 55% Kandungan glukomannan pada porang kuning. Glukomannan dapat dimanfaatkan pada berbagai industri, yaitu dalam industri pangan, farmasi, kimia, dan produk makanan seperti konnyaku, shirataki (berbentuk mie), bahan campuran pada produk kue, roti, es krim, permen, jeli, selai, bahan pengental pada sirup dan sari buah, bahan pengisi dan pengikat kabel, bahan pelapis (coating dan edible film), bahan perekat (lem, cat tembok), pelapis kedap air, penguat tenun dalam industri tekstil, media pertumbuhan mikrobia, dan bahan pembuatan kertas tahan air. Kadar glukomannan ditentukan dari umur tanaman saat panen, kadar akan meningkat saat dua dan tiga periode tumbuh (Saleh dkk, 2015).

Gambar 2. Hasil Olahan Porang (Sumber: Ilmupot.com)

Kandungan kalsium oksalat yang terkandung pada porang merupakan salah satu hambatan porang untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, namun hal ini dapat diatasi dengan perlakuan yang tepat sebelum pengolahan yaitu perendaman dalam larutan garam atau asam agar kalsium oksalat dapat dihilangkan.

Kisah Keberhasilan Petani Porang
Salah satu petani yang terkena dampak positif dari hasil budidaya porang adalah Bapak Paidi (37), yang tinggal di Kabupaten Madiun. Awalnya beliau berprofesi sebagai pemulung, dan tanpa disangka saat ini menjadi pebisnis porang yang sukses sekaligus menjadi tokoh yang ikut membantu petani di desanya untuk mengembangkan tanaman porang dengan memberikan modal bagi para petani di kampung halamannya. Pak Paidi saat ini juga melakukan ekspor porang, sehingga omsetnya meningkat drastis. Untuk omset yang didapatkan Bapak Paidi dari porang sudah mencapai angka di atas satu miliar.

Gambar 3. Hasil Ubi Porang yang dibudidayakan Bapak Paidi (Sumber: Kompas)

Gambar 3. Hasil Ubi Porang yang dibudidayakan Bapak Paidi (Sumber: Kompas)

Hasil manis yang diraihnya saat ini tidak semata-mata berjalan mulus, banyak kendala yang dihadapi Pak Paidi, diantaranya adalah teknik budidaya porang. Pada awalnya, penanaman porang harus ditanam dibawah naungan pohon tahunan dan pastinya menyulitkan petani yang hendak membudidayakan porang. Maka dari itu, Bapak Paidi mencoba menanam porang dari menggunakan teknologi konvensional hingga sistem pola tanam intensif untuk mendapatkan teknik terbaik yang dapat memberikan banyak keuntungan untuk petani.

Hasil panen dari pola tanam yang konvensional hanya sekitar 7-9 ton/ hektar, sedangkan jika menggunakan pola tanam intensif, dalam satu hektar lahan dapat memproduksi umbi porang hingga 70 ton, yaitu 7-10 kali lebih banyak. Selain itu, penggunaan pola tanam konvensional memakan waktu tercepat tiga tahun, sedangkan jika menggunakan pola tanam baru yang intensif waktu panen sekitar 6 bulan – 2 tahun. Untuk itu diperlukan pola tanam intensif untuk dapat memenuhi kebutuhan dunia, terlebih lagi total kebutuhan sehari bisa mencapai 200 ton yang dibutuhkan pabrik pengelola porang yang semakin lama makin banyak.

Selain itu, petani tertarik menanam porang karena harganya yang terus mengalami kenaikan dan cara penanamannya yang lebih mudah. Pada satu tahun, penjualan porang di satu desa bisa mencapai hingga Rp 4 miliar. Petani bisa meraih untung hingga Rp 110 juta untuk luasan lahan satu hektar (Dikutip dari Pak Tani Digital).
Menurut salah satu petani porang lainnya, yaitu Bapak Anggi memberikan keterangan pada penulis, bahwa sebelumnya beliau menanam tanaman padi, namun karena dari 2 tahun terakhir porang menjadi hits dan keuntungannya terlihat menggiurkan, maka beliau mengganti komoditas padi menjadi porang untuk dibudidayakan sendiri.

Gambar 4. Budidaya Porang oleh Bapak Anggi (Sumber : Bapak Anggi)

Gambar 4. Budidaya Porang oleh Bapak Anggi (Sumber : Bapak Anggi)

Deskripsi Tanaman Porang

Ciri-ciri dari tanaman porang adalah daunnya lebar, ujung daun runcing, dan berwarna hijau muda. Kulit batangnya halus, berwarna belang-belang hijau dan putih. Umbi porang berserat halus dan berwarna kekuningan, dan pada permukaannya tidak ada bintil. Pada setiap ketiak daun terdapat bubil/katak.
Porang memiliki dua fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Perkembangbiakan porang dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan bahan tanaman seperti ubi batang, ubi bagian batang, ubi daun (bubil atau katak), dan secara generatif menggunakan biji (Sumarwoto, 2012; Perhutani, 2013).

Perkembangbiakan dengan organ target ubi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu menggunakan umbi kecil atau menggunakan umbi besar yang telah dipotong-potong, dengan potongan masing-masing seberat 100 gram untuk mencapai pertumbuhan dan dan hasil yang baik. Pada potongan umbi diberikan abu dapur atau fungisida untuk menghindari pembusukan akibat infeksi jamur, selanjutnya ditiriskan hingga tunas tumbuh sekitar satu bulan, kemudian dapat dipindah tanam pada lahan. Namun untuk metode yang kedua menurut beberapa petani pertumbuhannya kurang baik jika dipotong-potong dibandingkan dengan yang dibiarkan utuh, jika ingin maksimal dalam hal produktivitasnya, maka bisa langsung menanam ubi yang berukuran besar, jika tetap ingin dipotong-potong dengan tujuan hemat tetap bisa dicoba asalkan selalu diperhatikan lingkungan tumbuhnya dan penggunaan fungisidanya. Katak atau bubil dikumpulkan pada saat panen, dipilih yang sehat saja, dan disimpan ditempat yang teduh dan kering. Bubil dapat ditanam langsung pada lahan tanam. Biasanya, dalam 1 kg bibit berisi kurang lebih 100 bubil.

Perkembangbiakan porang dapat menggunakan biji. Tanaman akan berbunga pada umur 3-4 tahun (Santosa et al, 2006). Jika telah berbuah, maka setiap tongkol buah akan menghasilkan biji sebanyak 250 butir. Biji harus dicuci terlebih dahulu sebelum ditanam di lahan tanam dengan tujuan untuk menghilangkan lendir. Lalu setelah bersih, biji direndam dalam air, dan dibuang biji yang mengapung. Kemudian biji disemai dengan media pasir di tempat yang teduh.

Pertumbuhan vegetatif pada porang berlangsung selama musim penghujan, dan pada musim kemarau mengalami dormansi. Pada awal musim hujan yaitu sekitar bulan November bibit porang ditanam, dan pada awal musim kemarau (Mei-Juni), daun mongering dan mati, dan ubi memasuki dormansi hingga 5-6 bulan. Kemudian pada bulan November berikutnya, ubi tumbuh kembali memasuki siklus pertumbuhan kedua. Porang memiliki kandungan antimikroba seperti saponin, flavonoid, fenol, dan asam oksalat yang terkandung diseluruh tanaman, yaitu pada daun, batang, dan ubinya. Kalsium oksalat sebagai unsur penting pada tanaman porang berperan sebagai antifungi (Prasad et al.,1994). Hasil buangan daun dan batang oleh petani dimanfaatkan untuk dibuat MOL, dan diduga dapat berpotensi untuk diolah menjadi pestisida nabati.

Teknologi Budidaya

Dalam beberapa tahun terakhir, porang menjadi daya tarik petani untuk beralih komoditas, pasalnya selain keuntungan yang menjanjikan, tanaman ini mudah dibudidayakan, toleran naungan, produktivitas tinggi, hama atau penyakit yang menyerang pun relatif sedikit, dan permintaan pasar yang tinggi. Dilihat dari segi budidayanya, untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang optimal, diperlukan teknik budidaya yang benar.

a. Pengolahan tanah
Bibit yang berasal dari umbi, maka perlu dibuat lubang tanah berukuran 60 x 60 x 45 cm dan jarak antar lubang tanam 90 x 90 cm pada tanah yang gembur dan subur. Sebelum poses penanaman, lubang tanam ditutup dengan lapisan tanah bagian atas (top soil) dan pupuk organik.

b. Jarak tanam dan Kedalaman tanam
Jarak tanam yang digunakan adalah 30 cm x 30 cm untuk panen pada 8 bulan pertama, apabila akan dipanen pada tahun kedua digunakan jarak 45 cm x 45 cm, dan 60 cm x 60 cm pada bila dipanen pada periode tahun ketiga. Untuk kedalaman tanah yang dgunakan jika menggunakan umbi katak adalah sekitar 5 cm, jika ubi kecil menggunakan kedalaman 10 cm, dan 15 cm untuk ubi yang lebih besar.

c. Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan menggunakan pupuk kandang sebanyak 5 ton/ha untuk menghasilkan hasil yang optimal, dan apabila menggunakan pupuk anorganik diaplikasikan 45 hari setelah tanam dengan perbandinagn dosis N: P2O5: K2O yaitu 40:40:80 kg/ha ata 40:60:45. Kemudian satu bulan kemudian dilakukan pemupukan kembali sebagai top dressing dengan dosis 40 kg N, 50 kg P2O5, 50 kg K2O/ha.

d. Penyiangan dan Penyiraman
Penyiangan gulma dilakukan 2 kali, yaitu pada umur dua dan empat bulan setelah tanam. Penyiraman dilakukan secara sering dan teratur.

e. Panen
Panen sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, yaitu sekitar bulan Mei-Juni. Cara panen adalah dengan menggali tanah di sekitar tanaman lalu mengambil ubinya, selain itu panen harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari luka pada ubi.

f. Penyimpanan
Setelah proses panen, sebaiknya ubi dibersihkan dan disimpan pada suhu dingin 10˚C dan ubi ini dapat disimpan hingga berbulan-bulan, namun jika disimpan di suhu ruang, maka pada bulan berikutnya ubi akan kehilangan berat sekitar 25 %. Jika ubi akan diproses menjadi poduk, sebaiknya disimpan dalam bentuk irisan tipis (chip) atau menjadi tepung.

Nilai ekonomi dan analisis usahatani

Ubi porang segar yang layak panen berkisar Rp. 10.000-13.000/kg, namun jika berbentuk chip harganya dari Rp. 35.000/kg pada tahun 2019 dan saat ini naik menjadi Rp. 55.000/kg, sedangkan jika telah diolah menjadi tepung glukomannan dihargai Rp. 600.000/kg. Harga bubil yang semula dihargai sebesar Rp. 25.000-30.000/kg, kini meningkat tajam menjadi Rp. 300.000/kg. Untuk bibit tanaman porang harganya berkisar Rp. 25.000 – Rp. 35.000 (1 kg isi 20 hingga 50 bibit dari umbi). Selain itu, untuk bibit porang siap tanam harganya adalah Rp 600.000 untuk 500 biji umbi, yaitu Rp. 1.200/biji (Panca, 2020).

Peluang yang dibuat dari bisnis porang ini sangat menjanjikan dan sangat terbuka, karena diperkirakan dibutuhkan 10.000 ton/ tahun untuk memenuhi ekspor porang ke Jepang, China, Australia, Sri Langka, Malaysia, Korea, Italia, dan New Zealand, dan untuk saat ini sudah terpenuhi sekitar 4.000 ton/tahun, sehingga dapat membuka peluang sebesar-besarnya bagi yang ingin berbisnis porang (Saleh dkk, 2015).
Dilihat dari aspek usahatani, petani dalam budidaya tanaman porang sudah bisa mendapat keuntungan yang cukup. Dalam aplikasi sistem budidaya porang sederhana dapat menyumbang 40-90% dari total pendapatan petani. Menurut Rocmatiah & Maharani (2011), usahatani ubi porang secara perusahaan dengan memperhitungkan biaya implisit maupun usahatani secara riil dengan memperhitungkan biaya eksplisit dalam kurun waktu 5 tahun keduanya termasuk menguntungkan dengan niali R/C masing-masing 1,44 dan 2,58.

Referensi :
Anonim. 2021. Kisah Paidi, Petani Porang Sekaligus Mantan Pemulung dengan Omzet Miliaran.
Dapat diakses dari https://paktanidigital.com/artikel/kisah-paidi-petani-porang/#.YDMxGehKjIX

Anggi. 2021. Petani Porang Jawa Tengah

Panca, A. 2020. Manfaat dan Info Terbaru Harga Porang per Kg (Basah dan Kering). Dapat diakses dari https://harga.web.id/manfaat-dan-harga-porang-per-kg-di-pasaran.info

Prasad, G., S.S. Sahay, A. Masood. 1994. Inhibition in aflatoxin biosynthesis by the extract of Amorphophallus campanulatus (OL) and calcium oxalate. Letters in Applied Microbiology,18 : 203-205.

Saleh, N., S. A. Rahayuningsih, B.S Radjit, E. Ginting, D. Harnowo, I.M.J Mejaya. 2015. Tanaman Porang Pengenalan, Budidaya, dan Pemanfaatannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan : Bogor.

Situmeang, H. 2020. Pengganti Beras di Masa Depan, Tanaman Porang Naik Daun. Dapat diakses melalui https://dairipers.com/pengganti-beras-di-masa-depan-tanaman-porang-naik-daun/

Wijanarko, S.B. 2009. Prospek pengembangan porang di kawasan hutan Jawa Timur.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

yolandaelsa
yolandaelsa

Hallo pembaca setia !! perkenalkan saya adalah mahasiswi tingkat akhir di Universitas Padjadjaran yang gemar mencari pengalaman baru, unik, dan menarik, sehingga bisa menginspirasi para pembaca. Salam hangat..

Artikel: 3

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 1 =