Bentuk Support bagi Penderita Penyakit Mental di Tempat Kerja

Stigma adalah sikap dan kepercayaan negatif mengenai seseorang atau sebuah kelompok minoritas, misalnya penderita penyakit mental. Beberapa orang mungkin berpikir itu hanyalah persepsi semata dan tidak akan berdampak apapun, tetapi hal ini bisa memperburuk kondisi orang dengan penyakit mental, terutama di tempat kerja. Stigma ini bisa melahirkan perilaku diskrimasi. Di lingkungan kerja misalnya, alih-alih membantu mereka mengurangi beban mentalnya justru malah menjauhi dan mengecualikan mereka dari proyek kerja tim atau justru mempertanyakan apakah mereka benar-benar memiliki penyakit mental atau hanya membuat alasan untuk bermalas-malasan dan lepas dari tanggung jawabnya.

Beban atau kesulitan yang dihadapi orang dengan penyakit mental di tempat kerja menjadi bertambah karena hal-hal tersebut. Mereka tidak hanya berjuang melawan penyakit mental mereka tetapi juga berusaha menyembunyikan gejala-gelaja yang mereka alami untuk menghindari stigma dan diskriminasi dari rekan kerjanya. Mereka juga merasa takut untuk melaporkan apa yang sedang ia alami kepada atasan mereka karena bisa jadi itu akan membuat mereka kehilangan pekerjaan.

Pada kenyataannya, orang dengan penyakit mental bukanlah orang-orang yang tidak bisa bekerja dan hanya menjadi beban tim. Mereka masih bisa bekerja secara produktif jika diperlakukan dengan baik. Terkadang mereka sebenarnya hanya membutuhkan dukungan dan pemahaman dari lingkungannya serta teman untuk diajak berbicara.

Untuk itu dibutuhkan kerja sama baik dari pihak pemerintah, organisasi hingga para karyawan itu sendiri untuk memperbaiki budaya kerja yang penuh stigma ini agar kesejahteraan dan produktivitas orang dengan penyakit mental di tempat kerja tetap terjaga.

Hukum yang melindungi pekerja dengan penyakit mental

Agar perlindungan kesejahteraan karyawan dengan penyakit mental tetap terjaga, tentunya diperlukan hukum yang menjamin akan hal tersebut. Di Kanada misalnya, Mental Health Commission of Kanada memiliki Psychological Health and Safety in the Workplace yaitu standar nasional pedoman dan kebijakan yang mengatur mengenai promosi kesehatan mental di tempat kerja serta cara untuk mencegah bahaya psikologis di tempat kerja. Pedoman tersebut akan membantu organisasi membenahi budaya stigmatisasi menjadi budaya kerja yang lebih sadar akan kesehatan mental sehingga dapat meningkatkan produktivitas karyawan di tempat kerja. Organisasi memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang memiliki penyakit mental untuk sembuh dan tidak boleh memperlakukan mereka dengan semena-mena, misalnya pemecatan sepihak.

Sayangnya di Indonesia sendiri, hukum yang spesifik mengatur mengenai hal tersebut belum ada. Saat ini hanya ada satu Undang-undang yang mengatur mengenai orang dengan penyakit mental di tempat kerja, yaitu UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Itu pun hanya dalam pasal mengenai upaya promosi kesehatan jiwa. Pada Undang-undang tersebut disebutkan bahwa upaya promosi kesehatan jiwa di lingkungan tempat kerja dilaksanakan dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai Kesehatan Jiwa, serta menciptakan tempat kerja yang kondusif untuk perkembangan jiwa yang sehat agar tercapai kinerja yang optimal. Oleh karena itu, hukum atau kebijakan yang secara spesifik mengatur mengenai hal ini masih dibutuhkan untuk menjamin kesejahteraan penderita penyakit mental di tempat kerja.

Hal-hal yang bisa kita lakukan jika memiliki rekan kerja dengan penyakit mental

Setiap gangguan mental memiliki gejala yang berbeda-beda, setiap orang pun melaluinya dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin berhasil menyembunyikan gejalanya, beberapa orang mungkin bisa bekerja dengan baik tanpa masalah, dan beberapa orang lainnya merasa kesulitan menanganinya. Jika kita melihat ada perubahan yang terjadi pada rekan kerja kita, alih-alih membuat asumsi yang tidak-tidak lebih baik kita mengungkapkan kekhawatiran kita secara langsung dan dengan cara yang baik.

Jika kita memiliki rekan kerja yang memiliki penyakit mental, jangan memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada orang lain. Biarkan mereka yang memutuskan sendiri apa dan seberapa banyak mereka akan memberi tahu orang lain di tempat kerja. Namun, tetap beri dukungan kepada mereka. Katakan jika kita akan mendengarkan tanpa menghakimi jika mereka ingin bercerita, jadilah setidaknya tempat bagi mereka merasa aman dan nyaman untuk bercerita kepada kita. Buat mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri dan masih bagian dari tim. Jika merasa bingung dengan situasi ini, beberapa cara ini mungkin dapat membantu:

  1. Tanyakan kepadanya bagaimana cara kita bisa membantu, beberapa orang mungkin senang menerima bantuan dan beberapa lainnya bisa saja tersinggung jika ditawari bantuan. Oleh karena itu, tanyakan dulu.

Jangan katakan:

  • Bagaimana kesehatanmu?
  • Kamu mungkin akan kesulitan dengan ini, biar aku saja.
  • Cobalah untuk berpikir lebih positif!
  • Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti!
  • Itu bukan masalah besar.

Cobalah untuk mengatakan:

  • Apa yang bisa kubantu untukmu?
  • Kamu ingin mengatakan tentang hal yang mengganggumu?
  • Aku mungkin tidak punya solusi untukmu, tapi aku disini untuk mendengarkanmu.
  1. Terus sertakan rekan kerja kita dalam aktivitas biasa di tempat kerja. Jangan mengecualikan mereka dari suatu pekerjaan. Hal itu tidak membantu sama sekali dan hanya membuat mereka merasa lebih buruk.
  2. Ketika rekan kerja kita kembali bekerja setelah mengambil cuti karena masalah kesehatan mentalnya, buat mereka merasa diterima dan dihargai. Menahan diri untuk tidak mengatakan apapun karena takut menyinggung perasaan mereka justru membuat mereka merasa buruk. Jika merasa khawatir dan peduli, katakan saja.

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan atau organisasi

National Mental Health Association dan National Council for Behavioral Health Amerika Serikat merekomendasikan tujuh hal yang dapat dilakukan organisasi atau perusahaan dalam menghilangkan stigma mengenai orang dengan penyakit mental demi terciptanya lingkungan kerja yang lebih kondusif dan produktif, yaitu:

  1. Educate: pembelajaran merupakan hal yang penting dalam hal ini. Pembicaraan yang rutin mengenai kesehatan mental, gejala-gejala penyakit mental, hingga langkah-langkah untuk menilai situasi dan dimana kita bisa mencari bantuan ketika diperlukan adalah hal yang penting bagi karyawan di tempat kerja. Dengan memahami hal-hal dasar semacam ini membuat karyawan yang sebelumnya menganggap bahwa penyakit mental adalah hal yang tabu untuk dibicarakan menjadi lebih sadar sadar jika penyakit mental itu nyata, bersifat medis, dan dapat dikelola. Ini adalah langkah pertama yang baik untuk menghilangkan ketakutan dan ketegangan mengenai masalah kesehatan mental.
  2. Encourage: Dorong karyawan untuk lebih nyaman berbicara mengenai beban kerja, stres, masalah keluarga, dan hal-hal lainnya. Dorongan ini bisa dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang bijaksana misalnya, “Kamu tampak tidak seperti biasanya, apa butuh bantuan atau sekadar bercerita?” serta mengingatkan bahwa tidak masalah untuk mencari bantuan jika mereka membutuhkannya.
  3. Communicate: Bicarakan bahwa penyakit mental itu hal yang nyata, umum, bisa terjadi pada siapa saja, dan dapat diobati. Hal ini sejalan dengan poin pertama tadi. Beri tahu karyawan bahwa mereka tidak sendiri. Organisasi berada di pihaknya dan siap membantu jika mereka membutuhkan bantuan.
  4. Discourage: Cegah dan hindari pemberian label-label negatif pada orang dengan penyakit mental seperti istilah “gila” misalnya. Bahasa adalah hal yang sangat penting dalam mengurangi stigma. Ingat bahwa bisa jadi apa yang kita ucapkan menyakiti perasaan orang lain dan membuat mereka merasa lebih buruk. Secara tidak langsung penggunaan label atau istilah-istilah negatif inilah yang membuat stigma semakin sulit terkendali.
  5. Invest: Berinvestasi pada manfaat kesehatan mental. Jika perusahaan memiliki karyawan yang memiliki kesehatan mental baik tentunya akan berdampak pada produktivitas dan efektivitas kerja yang menunjang keuntungan bagi perusahaan. Berbagai program seperti layanan kesehatan mental, asuransi kesehatan, pelatihan kepemimpinan, jadwal yang fleksibel, hingga pelatihan manajemen keuangan bisa berkontribusi pada kesehatan mental karyawan.
  6. Help: Membantu transisi karyawan setelah mengambil cuti. Kesalahan paling umum mengenai penyakit mental adalah keyakinan bahwa ini tidak dapat disembuhkan. Pada kenyataannya, 85% orang dapat sembuh dari penyakit mental dan kembali beraktivitas seperti biasa. Pemberian konseling dan beberapa akomodasi setelah cuti dapat membuat mereka pulih lebih cepat dan bekerja lebih efektif.
  7. Consult: Beberapa perusahaan di Indonesia saat ini sudah mulai ada yang menawarkan program bantuan karyawan atau yang biasa disebut Employee Assistance Program (EAP). Program ini dirancang untuk membantu karyawan menyelesaikan masalah-masalah umum seperti perkawinan, manajemen keuangan, rencana karir, dan juga masalah kesehatan mental. Program ini biasanya ditawarkan secara gratis bagi karyawan dan dikelola oleh pihak ketiga untuk menjaga kerahasiaan. Pemberian layanan ini bisa menjadi bentuk komitmen organisasi dalam mendukung kesehatan mental di lingkungan kerja.

Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberi dukungan bagi orang-orang yang memiliki penyakit mental di tempat kerja. Semoga informasi ini bermanfaat dan stigma buruk mengenai orang-orang dengan penyakit mental dapat berkurang.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rach
Rach

Seorang freelance writer yang aktif belajar, melakukan research dan juga menulis berbagai psychological issues.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *