Reframe All Negative Thoughts: 6 Strategi Ampuh Mengatasi Pemikiran Negatif

Seorang pria pendiri perusahaan berskala internasional di bidang otomotif, yakni Henry Ford, tidak hanya mampu memukau banyak orang di seluruh dunia atas keberhasilannya dalam mendirikan Ford  Motor Company. Lebih dari itu, banyak kata-kata mutiara yang beliau ciptakan dan mampu menginsiprasi siapa saja yang membacanya. Salah satunya adalah kutipan ini,

“Whether you think you can or you think you can’t, either way, you are right!”

Mungkin pada awalnya kita akan sedikit kebingungan dalam memaknai maksud kalimat di atas. Bagaimana mungkin hal yang dipikirkan seseorang, meskipun dalam konteks positif dan negatif sekali pun, semuanya dapat dibenarkan? Apa makna yang ingin ditekankan oleh Henry Ford dari kalimat tersebut?

Sumber: Freepik.com

Jika kita sedikit menelaah apa yang diutarakan Henry Ford, pada dasarnya, setiap mahluk hidup—tidak terkecuali manusia—berusaha untuk bertahan hidup dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara berpikir. Bahkan, ada beberapa momen ketika seseorang mempunyai pikiran negatif karena dirinya berpendapat bahwa hal tersebut mampu menyelesaikan masalah.

Meskipun ada beberapa hal yang dapat diselesaikan secara negatif, tapi apa pun alasannya, hal tersebut tidak dapat dibenarkan.

Saat ini, banyak sekali orang-orang di luar sana—tidak menutup kemungkinan bahwa pihak tersebut adalah diri kita sendiri­—saat dilanda perasaan dan pikiran negatif, merasa tidak mempunyai kuasa dan kendali penuh untuk menghilangkan hal tersebut.

Bahkan, rasa ketidakberdayaan yang dirasakan menjadikan banyak orang mempercayai hal negatif yang dikatakan oleh pikiran diri sendiri. Padahal, tidak semuanya itu benar adanya, bukan?

Seorang Psikolog asal Australia, yakni Dr. Russ Harris, menyatakan dalam buku karangannya yang berjudul The Happiness Trap: How to Stop Struggling and Start Living bahwa evolusi yang dialami manusia hingga saat ini, terutama dalam perkembangan otak, mampu menjadikan seseorang merasakan “penderitaan secara mental”

Memang, pikiran manusia mampu menjadikan suatu hal yang dipersepsikan melalui panca indera dapat berbeda dari keadaan aslinya.

Melanjutkan apa yang dinyatakan oleh Dr. Russ Harris, beliau menambahkan bahwa otak manusia secara otomatis melakukan aktivitas seperti melakukan perbandingan, evaluasi dan mengkritik diri sendiri terkait dengan keterbatasan yang dimiliki, terus menerus merasakan perasaan tidak puas hingga menciptakan skenario paling menakutkan tentang berbagai macam hal.

Sumber: Freepik.com

Betapa dahsyatnya otak manusia dapat melakukan hal seperti itu, sehingga menjadikan siapa saja merasakan kesulitan untuk memperoleh kebahagiaan. Lalu, bagaimana cara agar pemikiran negatif tersebut dapat kita kontrol?

Dikutip dari buku Declutter Your Mind: How To Stop Worrying, Relieve Anxiety, And Eliminate Negative Thinking, ada enam strategi yang bisa kita terapkan dengan mudah dan singkat. Namun, untuk memulai strategi tersebut, kita harus melakukan reframe all negative thoughts, yakni membingkai kembali pikiran-pikiran negatif yang ada di otak kita.

Tujuan utama dari proses reframe all negative thoughts adalah untuk membedah satu per satu pikiran negatif tersebut dan menganalisis mengapa dapat muncul di pikiran kita. Setelah proses analisis selesai dilakukan, terdapat beberapa hal sederhana untuk mengantisipasi—setidaknya mengatur pemikiran negatif ketika muncul lagi di dalam otak kita— dengan menerapakan enam strategi di bawah ini.

1. Be the Watcher

Sumber: Freepik.com

Sadari bahwa kita sedang mengalami pemikiran negatif. Jangan mencoba untuk menyangkalnya dan amati apa yang sedang otak kita pikirkan (be a watcher). Hal ini merupakan strategi dasar untuk mengetahui, ketika otak kita berpikir negatif, apa saja hal yang divisualisasikan terhadap diri kita, sehingga memunculkan rasa takut dan cemas.

Misalnya saja, kita bertemu dengan Ondel-Ondel saat sedang jajan di pinggir jalan. Karena kita mempunyai pengalaman tidak menyenangkan terkait dengan Ondel-Ondel, pikiran kita mulai memikirkan hal-hal negatif, yang bahkan di luar nalar.

Saat hal tersebut terjadi, kita harus memahami bahwa pemikiran tersebut muncul karena kita berpapasan dengan Ondel-Ondel. Biarkan otak kita membayangkan skenario terburuk yang dapat terjadi, seperti Ondel-Ondel tersebut akan mengejar bahkan menculik kita. Cukup amati tanpa harus melemahkan pikiran dan mengembangkan emosi yang sedang kita rasakan saat itu.

2. Name That Thought

Sumber: Freepik.com

Terdengar sederhana, akan tetapi masih banyak yang belum menyadari bahwa segala pikiran negatif yang kita pikirkan itu hanya sekedar “pikiran” saja. Kita pasti sering mengalami suatu momen ketika mengkhawatirkan sesuatu hal secara berlebihan, akan tetapi pada akhirnya hal yang kita takutkan malah tidak terwujud.

Kita harus berani mengakui bahwa pemikiran negatif itu bukan bagian dari realita kehidupan yang sesungguhnya. Kita hanya merasa takut dengan hal yang belum terjadi, atau beranggapan kita akan merasakan rasa sakit yang sama seperti di masa lalu.

Sebagai contoh, misalnya saja kita besok menghadapi ujian sekolah yang menentukan apakah dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau tidak. Kita sudah berusaha, mulai dari belajar, berlatih bahkan berkonsultasi dengan para pengajar ahli. Namun, kita masih merasa takut, dipikiran kita “Apakah saya bisa mengerjakan soal-soal yang akan diujikan esok hari? Apa jangan-jangan saya tidak dapat lulus? Bagaimana kalau saya gagal?.”

Kita harus tahu betul bahwa rasa cemas itu sebenarnya wajar, akan tetapi jika dibiarkan begitu saja akan mempengaruhi pola pikir kedepannya. Untuk mengantisipasinya, kita bisa memberikan “nama” pada pemikiran negatif tersebut. Contohnya seperti ini “Baiklah, saya mempunyai pikiran bahwa saya tidak mampu lulus dalam ujian”

3. Just Say “No”

Sumber: Freepik.com

Kata “tidak” selamanya buruk, termasuk untuk menerapkan salah satu dari enam strategi reframe all negative thoughts. Saat menerapkan strategi ini, kita harus menciptakan visualisasi di dalam pikiran ketika mengatakan “tidak”.

Contoh sederhananya seperti ini. Ketika kita mengalami perasaan ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu, ucapkan kata “tidak” dan visualisasikan rasa takut tersebut menghilang sesuai dengan versi imajinasi diri kita sendiri. Misalnya, ketika mengucapkan kata “tidak”, pikiran kita memvisualisasikan sebuah lubang besar dan membuang pemikiran negatif yang kita takutkan ke dalam lubang tersebut.

4. Try the Rubber Band Trick

                        Sumber: Yandex.com

Gelang karet merupakan benda yang sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Penggunaan gelang berbahan dasar karet juga menjadi bagian dari strategi untuk meminimalisir pemikiran negatif.

Caranya sangat mudah. Kita menggunakan gelang karet di salah satu tangan (kita ambil contoh menggunakannya di tangan kanan). Ketika kita merasa emosi terhadap sesuatu, seperti disenggol hingga jatuh oleh orang asing hingga bertengkar dengan adik, hal yang perlu dilakukan adalah memindahkan gelang karet tersebut ke tangan sebelah kiri.

Cara sederhana ini mempunyai makna bahwa kita memberikan interupsi kepada otak untuk lebih menyadari emosi apa yang sedang dirasakan pada saat itu. Kesadaran terhadap emosi dapat membantu mencegah otak berpikir negatif secara terus menerus.

5. Know Your Triggers

Sumber: Freepik.com

Saat kita mengalami pemikiran negatif, pasti ada pemicu (triggers) yang menjadikan otak mengalami hal tersebut. Pemicunya bisa bermacam-macam, mulai dari kondisi, objek, bahkan manusia pun bisa memancing seseorang untuk berpikir negatif.

Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan hal pemicu yang menjadikan kita mengalami pemikiran negatif, cemas hingga ketakutan secara berlebihan. Dengan menulis, kita bisa memahami bahwa ada beberapa hal yang menjadikan otak kita merespon secara berlebihan, sehingga kita hanya perlu mengetahui bagaimana cara mengantisipasi rasa takut tersebut ketika terpicu oleh hal-hal yang kita takutkan.

6. Distract Yourself

Sumber: Freepik.com

Pemikiran negatif sering dialami karena kita hanya berdiam diri dan tidak melakukan aktivitas apa pun. Dorong diri sendiri untuk aktif dan jangan biarkan ada celah sedikit pun dalam otak untuk berpikir negatif.

Tenggelamkan diri kita pada suatu aktivitas yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi tinggi. Selain kita menjadi lebih produktif, melakukan aktivitas juga meminimalisir diri kita untuk tidak merasa cemas atas pemikiran negatif yang bisa muncul kapan saja.

Pemikiran negatif memang tidak dapat dihilangkan dan akan selalu menjadi bagian dari hidup kita. Namun, kita mempunyai kendali penuh untuk mengatur, apakah kita yang akan mengontrol pemikiran negatif tersebut atau sebaliknya. Jangan biarkan rasa takut menjadikan kita tidak dapat menikmati hidup dengan baik oleh perasaan khawatir yang belum tentu terwujud di dunia nyata.

 

 

 

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Lia Rahma Pradhita
Lia Rahma Pradhita

Drowned sun.

Artikel: 8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + = 5