Tasawuf Era Revolusi Industri 4.0 dan Peranannya dalam Kehidupan

Masyarakat modern merupakan suatu himpunan manusia yang telah hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan dan aturan-aturan tertentu yang sifatnya mutakhir dengan ciri-ciri yang disebutkan Deliar Noer yang pertama bersifat rasional, mengutamakan akal dalam situasi apa pun daripada emosional atau ego. Yang kedua berpikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang sifatnya sementara namun lebih melihat pada dampak sosialnya secara lebih jauh ke depan. Yang ketiga menghargai waktu dan bersikap terbuka dengan mau menerima kritik, saran, masukan, gagasan serta mau memperbaiki diri sendiri. Yang terakhir bersifat objektif yaitu melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat sekitarnya.

Masyarakat modern sejauh ini memiliki problematika atau permasalahan yang hampir sama. Revolusi teknologi secara tidak langsung dapat meningkatkan kontrol manusia terhadap materi, ruang dan waktu, yang dapat menimbulkan evolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir serta sistem rujukan. Problematika tersebut di antaranya disintegrasi ilmu pengetahuan, kepribadian yang terpecah, penyalahgunaan IPTEK, pendangkalan Iman, pola hubungan materialistik, menghalalkan segala cara, stress dan frustasi.

Mengenal Apa itu Tasawuf

Sebelum membahas menuju topik lebih dalam, alangkah baiknya jika kita mengenal pengertian Tasawuf secara sekilas. secara etimologi menurut Haidar Bagir, kata sufi berasal dari Bahasa Arab yang merujuk kepada beberapa di antaranya Shaff / barisan dalam Solat, sebab dianggap kaum sufi berada pada shaff pertama; Shuf yaitu bahan wol atau bulu domba yang kasar yang biasa mencirikan pakaian kaum sufi; Ahli as-Shuffah yaitu para zahid atau pezuhud dan abid atau ahli ibadah yang tak memiliki rumah dan biasanya tinggal di serambi masjid Nabi. 

Pengertian secara terminologinya menurut Ibnu Khaldun mendefinisikan bahwa Tasawuf ‘adalah semacam ilmu syar’i yang kemudian timbul agama asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah hanya menghadap kepada Allah semata. Menolak hiasan hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda dan kemegahan serta menyendiri menuju jalan Tuhan khalwat dan ibadah. menurut Imam Junaidi dari Baghdad mendefinisikan bahwa Tasawuf sebagai pengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah atau keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada yang terpuji. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa Tasawuf adalah suatu ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Tentu saja Tasawuf ini tidak hanya berorientasi secara spiritual namun juga dalam hal moral. dapat disimpulkan juga bahwa basis dalam ilmu Tasawuf adalah penyucian hati dan penjagaannya dari setiap cedera dan produk akhirnya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Tuhan.

Peranan Tasawuf dalam Kehidupan Modern

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa yang akan datang nampak nya akan terus berkembang serta industrialisasi akan terus berlangsung sehingga secara tidak langsung akan sangat menentukan peradaban umat manusia. namun, semakin majunya perkembangan iptek itu dapat memicu masalah terhadap etika dan moral sehingga akan ikut terpengaruh. maka dari itu diperlukannya strategi dalam mengembangkan peradaban di masa depan dan ada juga beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada corak keberagaman umat Islam yang akan sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang saling menarik misalnya kekuatan internal atau faktor dinamik ajaran agama Islam dengan kekuatan eksternal. perkiraan corak agama yang akan menjadi mental masyarakat di masa depan yang pertama ialah kecenderungan bahwa Islam akan menjadi agama yang semakin kuat, Ulama tetap memegang peran penting dalam rangka menjaga kemurnian agama dan karena itulah memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Islam yang sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah. 

Perkiraan yang kedua adalah kecenderungan bahwa Islam akan berfungsi sebagai ajaran etika akibat dari proses modernisasi dan sekularisasi yang secara perlahan-lahan hanya memberikan peluang yang sangat kecil sebagai penghayatan keagamaan. Yang ketiga kecenderungan Islam dihayati dan diamalkan sebagai sesuatu yang bersifat spiritual yang nantinya timbul sebuah reaksi terhadap perubahan masyarakat yang cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta industrialisasi.

Spiritualisme baik dalam bentuk Tasawuf, akhlak maupun ihsan akan menjadi kebutuhan rohani sepanjang hidup setiap manusia dalam tahap perkembangan sebagai masyarakat. untuk masyarakat yang masih terbelakang, spiritualisme wajib menjadi fungsi pendorong untuk meningkatkan etos kerja mereka dan bukan menjadi pelarian ketidak berdayaan masyarakat untuk mengatasi semua tantangan dalam hidupnya. berbeda bagi masyarakat maju industrial, spiritualisme ini berfungsi sebagai tali penghubung mereka dengan Tuhan mereka.

Namun perlu untuk diingat bahwa Tasawuf ini tidak bisa dipisahkan dari kerangka pengalaman agama. karena itulah harus berorientasi kepada Al Quran dan Sunnah. Inilah yang mungkin disebut oleh Hamka sebagai “Tasawuf Modern”, yakni Tasawuf yang membawa suatu kemajuan, bersemangat dalam tauhid dan jauh dari kemusyrikan, bid’ah serta kifarat. namun demikian, dalam kehidupan nyata mungkin saja terjadi bahwa dalam satu aspek ajaran Islam yang ditekankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada zaman tersebut. Bagi masyarakat terbelakang, Islam digambarkan sebagai ajaran yang mendorong kemajuan namun bagi masyarakat maju industrial, Islam diartikan sebagai ajaran spiritual dan moral. di situlah letak perbedaannya.

Tasawuf Modern

Sebenarnya Tasawuf modern itu tidak jauh berbeda dengan ajaran Tasawuf itu sendiri, hanya saja yang lebih diprioritaskan di sini adalah bagaimana ajaran Tasawuf ini mengaplikasikan seluruh ajaran Al-Quran dalam kehidupan kita sehari-hari serta bagaimana kita bertingkah dalam kehidupan ini sehingga tidak adanya kesenjangan sosial masyarakat. 

Di era modern ini diketahui telah muncul gejala baru yang berbeda dari masa masa sebelumnya yakni Tarekat kesufian yang bermunculan di tempat yang tak terduga seperti Manhattan, New York yang lengkap dengan toko bukunya. Tidak hanya itu, di Indonesia sendiri media massa sering melaporkan misalnya literatur sufisme termasuk berbagai bukunya telah laris di pasaran dan masih banyak lagi. Kehidupan sufistik ini juga bahkan merambah ke dunia syair (Noer, 2003).

Dimensi Tasawuf dalam Islam merupakan sebuah terapi dalam mengatasi problema masyarakat modern yang sangat perlu untuk digali dan dikembangkan serta dimasyarakatkan. Ajaran Tasawuf juga melatih manusia untuk memiliki ketajaman batin dan kehalusan dalam budi pekerti (Noer, 2003). Tujuan Tasawuf modern sendiri untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat dengan seimbang. Tokoh Tasawuf modern yang perlu diketahui di antaranya Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), Hossein Nasr, dan Fazlur Rahman.

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf merupakan suatu mendekatkan diri dengan Allah dan proses pendekatan diri pada zaman modern yang tidak mudah sehingga terciptanya keseimbangan dunia dan akhirat. Kita sebagai manusia terlebih dalam ajaran Islam pasti memerlukan ilmu Tasawuf guna memperbaiki spiritual dan moral pribadi untuk menjadi lebih baik dan memiliki kehidupan yang tertata untuk ke depannya. 

Rujukan: Maryam Nabila, diakses pada 12/3/2021 ; Herry Dharmawan, diakses 12/2/2021.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Desiwy
Desiwy

Mahasiswi yang Menyukai Dunia Tulisan :)

Artikel: 18

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *