Resiliensi: Sebuah Seni untuk Bangkit dari Keterpurukan

Hidup ada tanpa petunjuk sehingga kita melaluinya dengan jalan yang berbeda-beda. Terkadang kita melewati jalan yang lurus tanpa hambatan, tetapi tak jarang juga kita disesatkan dan berakhir di jalan berliku tak beraspal. Semua orang pasti mengalami lika-liku dari setiap tantangan kehidupan yang kita jalani dan sering kali membuat kita terpuruk. Mulai dari kecelakaan, kehilangan pekerjaan, atau mungkin kehilangan orang yang kita cintai. Semua peristiwa akan berdampak pada setiap orang dengan cara yang berbeda-beda, memberi pemikiran tak biasa, emosi yang kuat, dan ketidakpastian. Namun, terlepas dari itu semua, biasanya orang akan pulih dan berdaptasi dengan perubahan yang ada. Pada bagian ini, resiliensi adalah kuncinya.

Jadi, apa itu resiliensi?

Resiliensi adalah suatu proses atau kemampuan dalam diri untuk berdaptasi dalam menghadapi trauma, tragedi, dan segala perbedaan yang terjadi dalam hidup. Dengan menjadi resilient, seseorang akan menemukan caranya untuk sembuh dari luka, mengubah arah, dan menemukan kembali tujuannya untuk tetap hidup. Resiliensi tidak hanya membantu kita bangkit dari situasi yang buruk tetapi juga membantu kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan meningkatkan kualitas hidup kita.

Menjadi resilient bukan berarti seseorang tidak akan menghadapi stress dan peristiwa buruk. Karena kemampuan resiliensi ini juga melibatkan kemampuan mengatasi rasa sakit dan penderitaan, jalan yang dibutuhkan untuk memiliki resiliensi itu sendiri kemungkinan besar akan melibatkan tekanan emosional hingga stress yang cukup besar.

Beberapa orang mungkin dipandang lebih ‘tangguh’ daripada yang lain saat menghadapi peristiwa buruk, tetapi resiliensi tidak seperti itu. Resiliensi bukanlah ciri kepribadian yang hanya dimiliki beberapa orang saja. Resiliensi ini akan melibatkan berbagai aspek yang dapat dipelajari dan ditingkatkan oleh siapa pun.

Aspek-aspek yang terkandung di dalam resiliensi

Menurut teori resiliensi oleh Wong (2012), untuk bisa menjadi pribadi yang resilient setidaknya seseorang harus melibatkan aspek-aspek berikut:

  1. Kognitif: Bagaimana seseorang menilai atau menafsirkan peristiwa buruk yang terjadi, apakah ia menilainya sebagai sesuatu yang bermakna negatif atau menjadikannya pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
  2. Perilaku: Bagaimana seseorang bersikap dan berperilaku dalam menghadapi situasi yang buruk. Hal ini bisa dilatih agar dapat memunculkan perilaku yang lebih adaptif setiap kali menghadapi situasi buruk.
  3. Motivasi: Motivasi dan komitmen seseorang dalam menjalani hidup sangat berperan dalam resiliensi. Ketika seseorang memiliki motivasi yang kuat ia akan mudah bangkit dalam keterpurukan.
  4. Spiritual: Sama halnya dengan motivasi, spiritualitas akan memberi alasan bagi seseorang untuk bangkit dari keterpurukan. Dengan adanya spiritualitas, seseorang bisa mengartikan situasi buruk sebagai cobaan dari Tuhan sehingga ia harus mampu menghadapinya.
  5. Relasi Sosial: Berhubungan dengan perasaan terhubung dengan lingkungan sosial kita. Kita mungkin akan kesulitan menghadapi situasi buruk sendirian tetapi jika kita memiliki seseorang yang memberi kita semangat, kita akan lebih mudah bangkit.
  6. Emosi: Berkaitan dengan kecerdasan emosi dan kemampuan kita menoleransi emosi atau perasaan negatif dan mempertahankan emosi positif yang ada.

Lalu, bagaimana kita bisa membangun resiliensi dalam diri?

Kita mungkin tidak terlahir sebagai pribadi yang tangguh, tapi kita tetap bisa menjadi pribadi yang resilient, dan beberapa hal berikut mungkin akan membantu:

  1. Dalami dan rangkul pikiran-pikiran yang lebih sehat

Jaga pikiran kita agar tetap dalam perpektif. Tahukan Anda jika semua yang kita pikirkan itu mempengaruhi banyak hal? Pikiran kita memiliki peran yang signifikan dalam menentukan apa yang kita rasakan dan bagaimana kita menghadapi sesuatu. Identifikasi pikiran-pikiran tidak rasional seperti, “Ini adalah akhir dari hidup Saya,” atau “Saya sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi,” dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih realistis. Misalnya ketika kita merasa sedang berada pada titik terendah kita, ingat bahwa hal ini tidak menentukan masa depan kita. Oleh karena itu kita harus bangkit.

Terima Perubahan yang terjadi. Terima jika semua hal tidak akan bisa selalu berakhir seperti apa yang kita inginkan. Menerima perubahan adalah bagian dari hidup. Dengan menerima keadaan yang tidak dapat diubah, kita akan fokus pada hal-hal yang mampu kita ubah.

Pertahankan harapan yang ada dalam diri. Ada saatnya kita boleh meresapi kesedihan kita, tapi ada saatnya pula kita harus kembali menghidupkan harapan yang kita miliki juga. Berlarut-larut dalam kesedihan pun tidak ada baiknya. Harapan ini akan memunculkan optimisme kita untuk kembali menjalani hidup.

Belajar dari masa lalu. Alih-alih berpikir bahwa peristiwa buruk adalah gangguan dalam hidup, kita bisa menjadikannya media pembelajaran untuk kedepannya. Dengan menghadapi peristiwa buruk tersebut kita jadi paham bagaimana cara menghadapinya sehingga kita bisa menemukan cara yang lebih baik untuk menghadapi kesulitan-kesulitan serupa di masa depan.

  1. Jaga dan tingkatkan kesehatan

Rawat tubuh kita. Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa kesehatan mental dan emosi mempengaruhi fisik kita, dan faktanya itu memang benar adanya. Dampak buruk tersebut dapat kita cegah jika kita memiliki pola hidup yang sehat. Dengan menerapkan prinsip hidup sehat, rajin berolahraga, makan makanan yang bernutrisi dapat memperkuat tubuh kita untuk beradaptasi ketika sedang menghadapi stress.

Hindari pelarian stress yang negatif. Tak jarang kita temui orang yang melarikan diri dari stress dengan meminum minuman beralkohol atau bahkan menggunakan obat-obatan terlarang. Alih-alih menghilangkan stress hal ini justru memberi dampak yang lebih buruk dari stress itu sendiri. Cobalah untuk fokus meningkatkan kekuatan dalam diri kita untuk menghadapinya, bukan melarikan diri dan menghindarinya.

Berlatih mindfulness. Meditasi atau yoga adalah cara paling umum bagi seseorang untuk menenangkan pikiran. Sudah banyak penelitian yang menjelaskan mengenai manfaat kedua hal tersebut seperti memulihkan pikiran negatif dan mengarahkannya untuk menghadapi situasi yang membutuhkan resiliensi.

  1. Temukan tujuan hidup

Bersikap lebih aktif. Setelah belajar tentang menerima apa yang terjadi, saatnya untuk bertanya pada diri kita, “Apa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah hidup Saya?” Jangan menjadi orang yang pasif yang hanya menerima apa yang terjadi tanpa melakukan apapun. Cobalah untuk lebih aktif dan berinisiatif dalam menemukan solusi atas segala permasalahan dalam hidup.

Fokus bergerak pada tujuan hidup. Cobalah untuk membuat dan mengembangkan tujuan-tujuan realistis dalam hidup. Tujuan-tujuan ini akan membantu memberikan motivasi bagi kita untuk tetap bertahan dalam hidup. Namun membuat tujuan pun tidak boleh asal, ingat buatlah serealistis mungkin. Alih-alih tujuan jangka panjang yang terasa sulit, coba tanyakan pada diri kita kira-kira hal apa yang bisa dikerjakan hari ini dan berdampak pada masa depan. Dengan konsistensi, tujuan kecil pun akan berdampak besar.

Jadikan peristiwa buruk sebagai peluang mencari jati diri. Sering kita dengar seseorang menjadi hebat karena melalui banyak kesulitan sebelumnya. Misalnya, setelah kehilangan pekerjaan seseorang menjadi sadar akan bakatnya menjadi seorang pengusaha yang kemudian membangun usahanya sendiri. Orang-orang tumbuh dan belajar dari hal buruk itu ada benarnya. Dari sana bisa jadi tercipta kekuatan yang sebelumnya tidak kita sadari.

Membantu orang lain. Terhubung dengan orang lain dan membantu mereka akan meningkatkan harga diri kita dan membantu kita menemukan tujuan hidup. Seperti yang kita ketahui, kita belajar tidak hanya dari pengalaman pribadi saja tapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan aktif menjadi relawan di panti asuhan misalnya, kita jadi paham kesulitan yang mereka hadapi dan cara mereka menghadapinya. Dari situ kita juga otomatis belajar cara orang lain menjadi resilient.

  1. Bangun koneksi dengan lingkungan sosial

Jaga hubungan sosial. Hubungan sosial akan membantu kita memahami jika kita tidak sendirian menghadapi situasi buruk. Peristiwa buruk dan cobaan adalah bagian dari hidup yang semua orang pasti mengalaminya. Pada keadaan ini kita akan membutuhkan orang lain untuk sekadar bercerita atau memvalidasi perasaan kita. Peristiwa buruk mungkin akan membuat beberapa orang cenderung mengisolasi diri dari orang lain, tetapi penting untuk meminta dan menerima bantuan.

Aktif dalam grup atau komunitas. Bagi beberapa orang melibatkan diri dalam suatu grup atau komunitas akan memberikan kebahagiaan tersendiri. Dengan bertemu banyak orang dan berinteraksi dengan mereka akan membantu kita menemukan kembali tujuan hidup kita.

  1. Kemampuan dan keinginan untuk mencari bantuan (Seeking for help)

Kemampuan kita untuk mencari bantuan ketika membutuhkan adalah hal yang sangat penting dalam resiliensi. Beberapa orang mungkin merasa mampu menghadapi semua hal buruk sendirian, tetapi hal yang lebih buruk bisa saja terjadi. Kita bisa saja terjebak dan merasa kesulitan untuk menemukan jalan menuju resiliensi dan saat itu terjadi kita membutuhkan orang lain.

Tidak apa-apa untuk meminta bantuan kepada professional jika kita membutuhkan. Ketika stress yang kita alami sudah berdampak pada keberfungsian diri kita, membuat kita sulit melakukan aktivitas sehari-hari, bantuan professional mungkin dibutuhkan. Ini bukan berarti kita lemah, tetapi justru sebaliknya. Kita paham akan kondisi kita dan mencoba untuk keluar dan menghadapinya adalah hal yang menunjukkan bahwa kita kuat dan resilient.

 

Sumber:

  • Wong, P. T., & Wong, L. C. (2012). A meaning-centered approach to building youth resilience. The human quest for meaning: Theories, research, and applications2, 585-617.
  • American Psychological Association

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rach
Rach

Seorang freelance writer yang aktif belajar, melakukan research dan juga menulis berbagai psychological issues.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 2 =