Pertanian-berbasis-konservasi-lingkungan

Pertanian Konservasi, Wujud Pelestarian Sumber Daya Pertanian untuk Generasi Mendatang

Lingkungan dengan segala kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati sangatlah penting bagi makhluk hidup terutama manusia. Sumber daya alam itu sendiri berada pada suatu ekosistem yang membentuk siklus atau hubungan timbal balik. Untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam kita haruslah menjaga keseimbangan ekosistem, karena apabila salah satu komponen ekosistem itu punah atau rusak maka akan mempengaruhi komponen yang lainnya.

Kerusakan ekosistem dan kepunahan sumber daya alam dapat disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia, tetapi terkadang lebih banyak kerusakan ekosistem dan kepunahan sumber daya alam diakibatkan oleh aktivitas manusia. Seperti misalnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri yang belakangan ini marak terjadi, yang mana pemanfaatannya lebih mengarah ke degradasi daripada konservasi.

Konservasi lingkungan sangatlah menjadi perhatian, hal ini dikarenakan ke depannya kebutuhan lahan pertanian akan semakin meningkat karena kebutuhan pangan yang terus meningkat juga seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sementara hasil panen semakin menurun. Sehubungan dengan hal ini maka nantinya akan terjadinya penyempitan lahan pertanian karena dialihfungsikan menjadi pemukiman warga. Penurunan produktivitas juga terjadi karena menurunnya kemampuan dan kapasitas lahan dalam mengubah hara dan sumber daya lainnya menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Menyelamatkan keanekaragaman hayati dan melindungi fungsi ekosistemnya telah menjadi kesepakatan dunia (PBB) dan menetapkannya sebagai salah satu misi dalam Sustainable Develpoment Goals (SDG’s), untuk melestarikan dan memanfaatkan sumberdaya alam baik di daratan, dan lautan secara berkelanjutan, berlangsungnya kehidupan sekarang, besok hingga nanti generasi selanjutnya, serta meningkatkan perekonomian atau kesejahteraan hidup masyarakat. Konsep pembangunan berkelanjutan berbasis pertanian konservasi sebagai upaya menjaga ketahanan lingkungan diharapkan akan mampu membantu persoalan lingkungan dan keberlangsungnya kehidupan.

Prinsip-prinsip Pertanian Konservasi

Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), pertanian konservasi merupakan sistem pertanian yang menerapkan 3 prinsip yakni pengolahan lahan terbatas, penutupan permukaan tanah, dan rotasi tanaman. Dalam dunia pertanian, istilah konservasi sudah lama dikenal oleh petani. Akan tetapi, pertanian konservasi pada praktiknya tidak dapat langsung diterima oleh petani. Umumnya, petani ingin melihat terlebih dahulu hasil pertanian konservasi dan diyakinkan dengan contoh berupa demplot. Ini karena dalam pertanian konservasi, terdapat prinsip-prinsip yang berbeda dari pertanian konvensional. Apabila dirasa hasilnya mendekati sistem pertanian konvensional, petani baru mau menerapkan pertanian konservasi.

Manfaat Konservasi Lingkungan

Dari segi ekologi, konservasi merupakan pemanfaatan sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Kegiatan konservasi lingkungan (sumber daya alam hayati dan ekosistemnya) berasaskan pelestarian dan kemampuan, serta pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Asas tersebut merupakan landasan untuk mencapai tujuan, yaitu mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta ekosistemnya dan selanjutnya dapat mendukung peningkatan kesejahteraan serta mutu kehidupan manusia. Tiga kegiatan pokok konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yaitu:

  • Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan.
    Perlindungan sistem penyangga kehidupan meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air, tebing, tepian sungai, danau, dan jurang, pemeliharaan fungsi hidrologi hutan, perlindungan pantai, pengelolaan daerah aliran sungai, perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam, dan lain-lain.
  • Pengawetan Keanekaragaman Jenis Flora dan Fauna beserta Ekosistemnya.
    Pengawetan merupakan usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur tersebut dapat berfungsi dalam alam dan senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.
  • Pemanfaatan Secara Lestari Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
    Pemanfataan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara terus menerus pada masa mendatang. Kegiatan yang dilakukan adalah pemanfaatan kondisi lingkugan kawasan pelestarian alam dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan dan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dengan tetap memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.

Manfaat dari konservasi lingkungan sendiri yaitu:

  1. Untuk melindungi kekayaan ekosistem alam serta memelihara proses-proses ekologi serta keseimbangan ekosistem dengan berkelanjutan.
  2. Untuk melindungi spesies flora dan juga fauna yang sudah langka atau juga hampir punah.
  3. Untuk melindungi ekosistem yang memiliki keindahan, keunikan dan juga menarik.
  4. Untuk melindungi ekosistem dari kerusakan yang juga dapat disebabkan oleh faktor alam, mikro organisme, zat-zat kimia, serta yang lainnya.
  5. Untuk menjaga kualitas lingkungan yang ada supaya dapat tetap terjaga.

Konservasi Berbasis Pertanian Berkelanjutan

Sistem usahatani tradisional sebagian terbukti berkelanjutan, akan tetapi sistem ini dipandang terlalu lamban untuk dapat memenuhi perkembangan kebutuhan pangan dan kebutuhan masyarakat lainnya yang sejalan dengan proses pembangunan dan kemajuan yang makin cepat. Modifikasi dan peningkatan sistem tradisional ini diperlukan dengan input unsur teknologi unggul hasil penelitian tanpa mengabaikan sifat keberlanjutan.

Sistem pertanian berkelanjutan bukan merupakan sistem usahatani tradisional yang stagnan tanpa input dari luar, melainkan dengan menggunakan input luar secara arif mendasarkan pada produktivitas tinggi jangka panjang dengan pertimbangan sosio-ekonomi, budaya dan pemeliharaan sumber daya alam serta lingkungan. Oleh karena itu dalam menerapkan pertanian berkelanjutan diperlukan dukungan sumber daya manusia, pengetahuan dan teknologi, permodalan, hubungan produk dan konsumen, serta masalah keseimbangan misi pertanian dalam pembangunan.

Untuk menunjang pertanian berkelanjutan yang menggunakan faktor-faktor penunjang produksi (pupuk dan pestisida) dalam jumlah minimal, maka diperlukan suatu perbaikan sistem pengadaan benih ditingkat petani menuju pada sistem benih unggul lokal yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Oleh karena itu ditingkat petani perlu diarahkan untuk dapat mengelola sumber daya genetik yang dimiliki (varietas unggul lokal) dengan sebaik-baiknya, baik dalam hal konservasi varietas, penanganan, maupun penyimpanan benih hingga benih siap digunakan.

Konservasi semacam ini sangat penting dilakukan sebagai suatu pendekatan yang berorientasi pada petani dalam memasok benih. Suatu pendekatan yang dapat diupayakan dalam pengelolaan sumber daya genetik adalah pembentukan unit-unit suplai benih yang dibuat dengan cara membentuk unit-unit pertanian kecil untuk memproduksi benih unggul yang cukup memadai untuk kebutuhan lokal. Tentu saja para petani tersebut memerlukan arahan dari unit-unit inspeksi benih terpusat. Jika petani telah terbiasa dengan teknik tersebut, mereka dapat mengambil alih perawatan penangkaran hingga akhirnya menjadi yayasan benih yang bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Pengadaan benih dapat dilakukan pada tingkat desa dengan teknik-teknik yang bersifat padat karya sehingga mengurangi biaya transportasi, yang sekarang menjadi bagian utama yang menentukan harga benih. Apabila sistem ini telah berjalan dengan baik maka kebutuhan petani terhadap 4 tepat benih (tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat harga) dapat terpenuhi.

Konservasi Berbasis Pertanian Terpadu

Penerapan pertanian terpadu dalam hal konservasi pada dasarnya adalah mengoptimalkan pemanfaatan seluruh potensi sumber daya yang ada sehingga terjadi hubungan timbal balik secara langsung antara lingkungan biotik dan abiotik dalam ekosistem lahan pertanian. Penerapan sistem pertanian terpadu lebih ramah lingkungan karena bahan kimia yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan sebisa mungkin ditekan penggunaannya.

Upaya konservasi lingkungan dalam sistem pertanian terpadu dilakukan baik secara teknis melalui penataan fisik lapangan, maupun secara vegetatif melalui penataan tanaman. Salah satu contoh upaya konservasi lingkungan yaitu pemanfaatan lahan marginal dengan faktor kendala lahan miring disesuaikan dengan kegiatan pertanian yang ada di daerah tersebut.

Seperti yang diketahui bahwasanya lahan marginal merupakan lahan dengan mutu rendah dimana potensi produktivitas dan kesuburan tanah baik secara fisik, kimia, maupun biologi adalah rendah. Rendahnya mutu lahan marginal ini disebabkan oleh topografi yang miring, dominasi bahan induk, kandungan unsur hara dan bahan organik yang sedikit, kadar lengas yang rendah, pH yang terlalu rendah atau terlalu tinggi sehingga apabila tidak dimanfaatkan dengan cara yang tepat dan memperhatikan aspek lingkungan di dalamnya maka akan semakin membuat lahan marginal tersebut rusak dan tidak memiliki nilai yang berarti.

Kegiatan usaha tani pada lahan marginal dapat memadukan berbagai komponen, seperti integrasi tanaman-ternak antara tanaman buah rumput (cover crop) dengan ternak. Untuk mengatasi kendala di lahan miring dapat dipilih langkah-langkah, sebagai berikut:

  1. Penghijauan lahan miring yang mempunyai tutupan lahan rendah dianjurkan untuk menanam tanaman berupa tanaman buah atau tanaman industri yang tidak berukuran besar dengan kombinasi rumput sebagai penutup lahan. Tanaman buah berupa pisang, jambu, dll. Untuk tanaman industri dapat berupa kopi, cengkeh, vanili dengan kombinasi lamtoro.
  2. Pengembangan peternakan sapi, dengan sumber pakan berasal dari rumput yang di tanam.
  3. Pengembangan instalasi biogas yang berfungsi mengolah limbah berupa kotoran ternak menjadi biogas sehingga bisa menjadi kawasan mandiri energi.
  4. Pengembangan pupuk organik yang berasal dari biogas ternak sebagai upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus sebagai penguat teras.

Konsep pengembangan lahan marginal pada lahan dengan tutupan yang rendah yaitu dengan memperhatikan kesesuaian komponen biotik dan abiotik. Pengembangan dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman yang berfungsi sebagai tutupan lahan dan dapat bernilai ekonomi tanpa menebang pohon, atau tanaman hutan dengan hasil bukan kayu. Pada konsep ini dapat dipadukan untuk pengembangan pertanian lainnya secara terpadu yaitu dengan memanfaatkan tanaman untuk makanan ternak, pengolahan biogas dari kotoran ternak, pemanfaatan kotoran ternak untuk pupuk tanaman, dan pemanfaatan tanaman tinggi untuk konservasi air.

Dari aspek lingkungan, pertanian terpadu akan memberikan beberapa keuntungan yaitu:

  • Adanya daur ulang hara akan dapat menghindari efek pencemaran lingkungan dan menurunnya kesehatan tanah, karena input luar dalam bentuk pupuk organik ditekan, sehingga pada aspek input dapat mengurangi nilai pembelian pupuk.
  • Penggunaan biopestisida dengan menggunakan bahan alami dari internal usahatani juga akan menghindari efek pencemaran lingkungan dan menurunnya kesehatan tanah, sekaligus juga mengurangi nilai pembelian pestisida.
  • Penggunaan prinsip konservasi air dengan menggunakan air secara efektif dan efisien, sisa air dari komponen satu dimanfaatkan lagi untuk komponen lainnya secara bersiklus, dapat mengurangi unit pembiayaan untuk sistem pengelolaan air dan efisiensi penggunaan air oleh tanaman, hewan atau ikan yang diusahakan akan meningkat.
  • Penerapan pola tanam ganda dengan diversifikasi unit usaha secara vertikal dan horizontal dengan mempertimbangkan interaksi antar tanaman, hewan, dan ikan beserta lingkungannya yang saling menguntungkan dapat meningkatkan pendapat petani, menurunkan resiko kegagalan, dan sekaligus mengurangi penggunaan input luar dalam bentuk pestisida maupun herbisida serta meningkatkan nilai serta lahan pada hasil panen dan produksi biomassanya.
  • Melalui upaya konservasi lingkungan berbasis agroekologi ini, tentunya diharapkan mampu menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada pada saat ini agar di masa yang akan datang nanti masih dapat bermandaat bagi anak cucu kita nantinya.

Pada hakikatnya kehidupan manusia di bumi sangat bergantung pada alam dan lingkungan, kebutuhan pokok seperti oksigen, pangan, sandang dan papan bersumber dari alam maka sudah sepatutnya manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga ketahanan lingkungan dan mempertahankan kehidupan hayati. Selain dapat dimanfaatkan untuk generasi mendatang, sumber daya hayati juga akan berdampak positif untuk bumi. Oleh karena itu lingkungan penting dipelihara agar dapat mendukung tingkat hidup masyarakat.

Referensi:

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Reva Almalika
Reva Almalika

Seorang mahasiswa Agribisnis yang sedang berada pada tahun terakhir perkuliahan. Suka menuangkan pemikiran ke dalam suatu tulisan.

Artikel: 27

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 2 =