Peluang-usaha-budidaya-maggot-BSF-pengurai-sampah

Mengintip Peluang Usaha Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF), Si Agen Pengurai Sampah Organik

Larva atau belatung sering kali dianggap sebagai makhluk pengganggu yang menjijikkan dan menggelikan. Anggapan tersebut tidaklah salah jika mengingat larva atau belatung sering ditemukan di bahan-bahan makanan yang telah busuk. Namun, lain halnya dengan larva dari lalat hitam yang dikenal dengan sebutan maggot.

Maggot (Hermetia illucens) adalah jenis larva dari lalat black soldier fly (BSF) yang berasal dari Amerika dan kemudian tersebar ke wilayah subtropis dan tropis di dunia. Lalat BSF banyak ditemukan pada limbah kelapa sawit. Larva Hermetia illucens memiliki kandungan nutrisi protein yang mencapai 45-50% dan lemak yang mencapai 24-30%, sehingga dapat dijadikan sumber pakan bernutrisi tinggi. Hermetia illucens dalam siklus hidupnya tidak hinggap dalam makanan yang langsung dikonsumsi manusia.

Lalat BSF bukan merupakan lalat pembawa penyakit, sehingga tidak menyebarkan penyakit seperti lalat hijau. Menariknya lagi, lalat ini mampu mengurangi populasi lalat hijau dengan cara mengeluarkan sinyal kimia di lingkungan sekitarnya untuk mencegah lalat rumah bertelur di daerah tersebut.

Umumnya, maggot dikenal sebagai organisme pembusuk karena kebiasaannya mengkonsumsi bahan-bahan organik. Maggot mengunyah makanan dengan mulutnya yang berbentuk seperti pengait (hook). Maggot dapat tumbuh pada bahan organik yang membusuk di wilayah temperate dan tropis. Maggot yang telah berubah menjadi lalat tidak akan makan, tetapi hanya membutuhkan air untuk minum karena nutrisi hanya diperlukan untuk reproduksi selama fase larva saja.

Maggot BSF mempunyai kemampuan bertahan hidup dalam lingkungan yang ekstrim, seperti dapat hidup dalam toleransi pH yang cukup tinggi serta dalam media yang banyak mengandung garam, alkohol, asam dan amonia. Mereka hidup di suasana yang hangat, dan jika udara lingkungan sekitar sangat dingin atau kekurangan makanan maka maggot akan vakum atau tidak aktif sementara waktu sampai cuaca menjadi hangat kembali atau makanan sudah kembali tersedia. Mereka juga dapat hidup di air.

Karakteristik dari maggot ini yaitu mereduksi sampah organik, tidak membawa gen penyakit, mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi (40-50%), masa hidup sebagai larva cukup lama (± 4 minggu), dan mudah dibudidayakan.

Peluang Usaha Budidaya

Saat ini, maggot menjelma menjadi suatu organisme yang tadinya tidak bernilai menjadi memiliki nilai ekonomis tinggi. Seiring dengan tingginya kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah, maggot hadir sebagai solusi dari pengelolaan sampah itu sendiri. Selain itu, maggot juga banyak dijadikan sebagai alternatif pakan ternak (ikan dan unggas) karena memiliki protein yang tinggi.

Manfaat yang bisa diambil dari maggot BSF ini yaitu mendukung environmental sustainability. 60-70% sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik, dimana sampah-sampah ini kebanyakan berasal dari rumah tangga. Apabila kita membudidayakan maggot, maka kita bisa mendegradasi sampah-sampah organik dari rumah tangga yang ada di sekitar kita. Berikut ini dua manfaat utama yang diperoleh ketika membudidayakan maggot.

1. Agen Pengurai Sampah Organik

Sampah menjadi permasalahan yang akan selalu menghantui lingkungan semesta ini. Salah satu upaya pengurangan sampah organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan makhluk pengurai diantaranya adalah memanfaatkan maggot. Menurut Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), maggot BSF ini mampu mengurangi sampah organik seperti sisa makanan hingga 56% menjadi massa tubuhnya dengan cara meletakkan telur atau meletakkan maggotnya. 15-20 kg sampah organik membutuhkan setidaknya 1 kg maggot untuk dapat diuraikan dalam kurun waktu 1 jam. Sampah organik yang tidak terurai tetap dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk organik ini kemudian dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Pada tahap pertumbuhan larva, mereka akan memakan sampah organik di sekitar mereka dan menyimpan cadangan lemak serta protein yang akan digunakan untuk berpupa menjadi lalat. Kemampuan maggot mengurai sampah organik dalam waktu 14-20 hari sangat berpotensi bagi pengembangan ekonomi berbasis laut atau ekonomi biru.

2. Sumber Protein bagi Ikan dan Unggas

Maggot jenis ini merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein. Maggot dari BSF ini dapat dijadikan pilihan untuk penyediaan pakan karena mudah berkembangbiak, dan memiliki protein tinggi. Maggot dapat dijadikan pilihan utama pakan ikan dan unggas pengganti pelet ataupun cacing. Biasanya, maggot ini dijual dalam bentuk kering ataupun basah.

Permasalahan yang timbul perihal pakan ternak saat ini seringnya terjadi peningkatan harga pelet yang membuat peternak harus memutar otak bagaimana mendapatkan alternatif pakan ternaknya. Rata-rata biaya pakan memakan 70-80% dari total biaya ternak. Pelet juga tidak 100% berasal dari bahan organik, sehingga bisa dikatakan tidak ramah lingkungan dan tidak menyehatkan bagi ternak. Perlu diketahui bahwa pelet hanya memiliki kandungan protein sekitar 30% saja, tentunya berbeda jauh dengan maggot yang bisa mencapai 40-50%.

Budidaya maggot BSF sendiri sebenarnya cukup mudah, dalam artian tidak ada teknik tertentu yang menyulitkan dan tidak perlu sering dilakukan pengontrolan karena perkembangbiakan dari maggot ini sangat cepat. Dari segi bahan pakan pun tidak harus membeli, cukup dengan sampah organik seperti sayuran, buah, sisa makanan, dan lain-lain. Jika hanya skala kecil, tentunya sampah organik masih bisa berasal dari sampah dapur. Namun, apabila maggot yang dibudidayakan berjumlah banyak maka langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mencari sampah dapur di sekitar ataupun sisa makanan dari tempat makan.

Untuk membudidayakan maggot, perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Larva sangat sensitif terhadap cahaya, dimana mereka akan selalu mencari lingkungan yang teduh dan tidak terkena matahari secara langsung. Apabila sumber makanan terpapar cahaya, larva akan berpindah menuju bagian yang lebih dalam untuk menghindari cahaya tersebut. Faktor-faktor yang harus diperhatikan antara lain:

  1. Suhu
    Maggot sangat sensitif terhada suhu. Idelanya, maggot dikembangkan pada suhu 30°C. Maggot BSF yang dikembangkan di media dengan suhu 27°C pertumbuhannya lebih lambat dan jika suhu media mencapai 36°C tidak akan ada maggot yang dapat bertahan hidup.
  2. Kelembaban
    Kelembaban sangat mempcngaruhi keberhasilan pembuatan pupuk organik. Kelembaban ideal berkisar antara 40% – 60% dengan tingkat yang terbaik adalah 50%. Jika gundukan terlalu lembab maka proses pembuatan pupuk organik akan terhambat. Maka dari untuk mengatasi gundukan yang terlalu lembab dapat ditambahkan bahan campuran lain pada proses pembuatan pupuk organik. Umumnya digunakan campuran serbuk gergaji, jerami, kulit padi, dedak padi, serta daun-daunan kering
  3. Ukuran Sampah
    Ukuran sampah sangat mempengaruhi dalam kecepatan dan tingkat efektivitas maggot dalam mengurai sampah organik. Maka dari itu dalam memaksimalkan penguraian sampah, sebaiknya dilakukan pengecilan ukuran pada pakan yang akan diberikan. Permukaan area yang lebih kecil akan memudahkan maggot dalam mengkonsumsi sampah, selain itu maggot lebih menyukai tekstur sampah yang lunak. Lebih maksimal lagi, sampah organik bisa digiling terlebih dahulu dan kemudian di fermentasi selama 4 hari guna bisa dicerna oleh maggot.
  4. Media Pertumbuhan
    Keberhasilan produksi dan kualitas maggot yang dihasilkan ditentukan melalui beberapa media pertumbuhan serta wadah perkembangbiakan maggot tersebut. Lalat BSF menyukai aroma media yang khas, maka tidak semua media dapat dijadikan tempat bertelur bagi lalat ini. Walaupun kandungan nutrien media cukup bagus namun jika aroma media tidak dapat menarik lalat untuk bersarang maka tidak akan dihasilkan maggot.

Alam semesta dan segala isinya memanglah selalu memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Semakin berkembangnya zaman dan penelitian, telah mengantarkan kita mengenal jenis lalat yang dapat menjadi biokonversi sampah melalui larva (maggot). Budidaya maggot terbukti tidak hanya menguntungkan dari segi ekonomi saja, tetapi dari juga dari segi lingkungan yang berkelanjutan. Semoga dengan hadirnya budidaya maggot BSF ini ke depannya dapat mengurangi permasalahan sampah yang selalu menghantui kita.

Referensi:

  • Balitbangtan. 2016. Lalat Tentara Hitam Agen Biokonversi Sampah Organik Berprotein Tinggi. Diakses dari http://www.litbang.pertanian.go.id/info-aktual/2557/ (20 Maret 2021).
  • Suciati, Rizkia., dkk. 2017. Efektivitas Media Pertumbuhan Maggots Hermetia illucens (lalat Tentara Hitam) Sebagai Solusi Pemanfaatan Sampah Organik. BIOSFER, J.Bio. & Pend.Bio, 1(1): 8-13.
  • Wisnawa, I Gede Yudi., dkk. 2017. Pengolahan Sampah Melalui Pemanfaatan Bio Konversi Larva Lalat Tentara. SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT: 237-242.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Reva Almalika
Reva Almalika

Seorang mahasiswa Agribisnis yang sedang berada pada tahun terakhir perkuliahan. Suka menuangkan pemikiran ke dalam suatu tulisan.

Artikel: 27

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *