Potret Jalanan: Tren Ngamen Manusia Silver

Fenomena Pengamen manusia silver kian marak di persimpangan ibu kota maupun di kota-kota besar lainnya. Tanpa memakai alas kaki, para pemuda-pemudi, bapak, ibu, serta anak kecil pengais rupiah ini berpose ala kadarnya di lampu merah lalu menyodorkan kotak kardus ke para pengendara berharap mendapatkan balasan berupa recehan. Di tengah teriknya panas matahari serta balutan cat silver yang menutupi badan, mereka bisa mendapatkan sedikitnya Rp.50.000 dan terbanyak Rp.150.000 setiap harinya. Model ngamen seperti ini memang menjadi tren dikalangan anak jalanan, hal ini dikarenakan secara tampilan fisik manusia silver cukup nyentrik dan menarik perhatian pengguna jalan.

Awal Mula Si Manusia Silver

Manusia perak atau dalam istilah inggris lalu kemudian populer disapa “Silver Man” ini bermula dari aksi sekelompok pemuda di Bandung tahun 2012 lalu yang memiliki visi dan misi “meminta untuk memberi” berinisiatif menggalang dana untuk peduli yatim piatu. Agar terlihat unik, mereka membaluri tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan cat silver demi mendapatkan atensi dari orang-orang sekitar.

Hampir setiap harinya mereka hadir di persimpangan jalan – jalan protokol di kota Bandung yang dekat dengan beberapa kawasan tujuan wisata kota yang bergelar Parijs Van Java ini maupun kawasan tujuan wisata itu sendiri seperti halnya Pusat Jajanan Ternama di Bandung yakni Kartika Sari Dago yang terletak di jalan Ir. H. Juanda yang juga berdekatan dengan persimpangan Dago – Cikapayang yang menjadi salah satu landmark Kota Bandung dengan spot D.A.G.O nya.

Kawasan lain yang juga menjadi lokasi “mangkal” para manusia perak ini yakni di persimpangan – persimpangan yang terletak di bawah fly over Pasopati dari mulai persimpangan Dago – Cikapayang, Balubur, Cihampelas hingga Pasteur. Selain itu mereka juga kerap dijumpai di persimpangan Martanegara serta persimpangan Buah Batu yang dekat dengan markas besar mereka.

Kelompok masyarakat ini melabelkan diri mereka dengan nama komunitas silver peduli. Komunitas yang terbentuk dan muncul sejak awal tahun 2012 silam ini memang menarik atensi masyarakat kota kembang maupun yang bersafari ke kota ini.

Selain penggalangan dana, manusia silver atau sejenisnya seperti para manusia-manusia yang mewarnai tubuh mereka dengan cat perak, emas, biru, merah memang sudah menjadi ajang hiburan dan pentas seni dikala memperingati hari-hari besar seperti 17 agustus. Yang menjadi pemeran dari tokoh-tokoh berwarna ini berasal dari kalangan mahasiswa terutama di jurusan seni atau teater. Jadi, Manusia dengan tubuh berlumuran cat ini juga sebenarnya merupakan hasil dari ekspresi seni.

“Silver Man” bertransformasi menjadi Sumber Mata Pencaharian di Tengah Gejolak Ekonomi di Masa Covid-19

Saking mencoloknya manusia silver ini, para pengamen serta komplotan anak jalanan lain memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rezeki. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba mencari  tahu bahan praktis yang mudah digunakan untuk melumuri tubuh mereka dengan cat silver tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu ditambah lagi dengan pandemi yang melanda dunia saat ini, kondisi perekonimian Indonesia menjadi carut marut. Perusahaan banyak yang mem”PHK” pekerjanya, toko-toko ditutup, walhasil omset menurun, para supir angkot kehilangan penumpang, Pengangguran semakin meningkat, serta banyak kejadian memilukan yang menimpa saudara kita yang lain.

Covid-19 menjadi pemicu dari merebaknya silver man di jalanan, banyak yang memanfaatkan momen ini untuk mengais rezeki di persimpangan jalan dan lampu merah. Walaupun toko-toko ditutup dengan pembatasan waktu tertentu. Di jalanan, kendaraan tetap saja ramai berseliweran. Banyak juga yang beralih profesi dari yang awalnya supir angkot, pedagang kaki lima, ojek online menjadi silver man.  Bahkan, seorang ibu dengan membawa anaknya turut serta mengumpulkan pundi-pundi rupiah dalam aksi tren jalanan ini.

Apakah Manusia Silver Tergolong PMKS ?

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah seseorang atau keluarga yang karena suatu hambatan, kesulitan atau gangguan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dan karenanya tidak dapat menjalin hubungan yang serasi dan kreatif dengan lingkungannya sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (jasmani, rohani dan sosial) secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan dan gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial maupun perubahan lingkungan (secara mendadak) yang kurang mendukung atau menguntungkan.

Walaupun tidak disebutkan secara jelas dalam beberapa kategori PMKS di Peraturan Daerah, Kegiatan penertiban keamanan yang dilakukan di jalanan kerap kali menyasar ke Para manusia-manusia silver. Beberapa diantaranya seperti di Palembang, Medan, Tanggerang Selatan, Depok, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya. Merebaknya manusia silver dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan sosial. Selain itu, beberapa kalangan menganggap manusia silver sama halnya dengan Pengemis.

Berbeda dengan ungkapan satpol PP DKI yang dilansir laman Vice.com, Menurut Satpol PP DKI, manusia silver tak masuk kategori PMKS, alias “penyakit sosial” yang harus ditertibkan. Alasannya, menggunakan kreativitas mengecat tubuh untuk menarik perhatian orang yang melihatnya, sehingga bisa dikategorikan sebagai seni.

Mengkilap Namun Membuat Kesehatan Meredup

Nasib Tati, Manusia Silver yang kehilangan satu bola matanya seharusya menjadi pembelajaran bagi manusia silver lainnya. Tati harus merelakan satu bola matanya yang terinvekasi cat silver demi kebaikan kesehatannya. Ia sudah merasakan kesakitan di area mata selama dua bulan terakhir. Untungnya Tati mendapat bantuan langsung dari Kementerian Sosial.

Tidak seperti badannya yang memancarkan sinar nyentrik, balutan cat silver dapat meredupkan masa depan Silver man dalam hal kesehatan. Seperti yang terlihat dalam berbagai media, bahan utama pekerjaan ini adalah cat yang biasa digunakan untuk sablon dan minyak goreng, beberapa menggantinya dengan minyak tanah, minyak sayur, atau minyak zaitun. Adapula yang menggunakan body lotion untuk mengurangi  bau menyengat dari cat silver tersebut. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang dr Elang Sumambar, mengatakan efek samping penggunaan cat manusia silver adalah gatal di kulit. Cat akan menutup pori-pori dalam kulit. Dikatakannya, penggunaan cat sablon yang dicampur dengan minyak tentu haruslah digunakan dalam produksi tekstil bukan untuk ke kulit manusia. Masalah lainnya, lanjutnya, adanya alergi apabila tidak cocok dengan penggunaan zat kimia pada cat itu. Menurutnya hal itu juga bisa berdampak pada masalah dehidrasi berat hingga syok, yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. Ia sendiri tidak merekomendasikan penggunaan cat dalam tubuh. Dikatakannya, dampak jangka panjang dari penggunaan cat sablon plus minyak secara rutin, juga akan menimbulkan efek yang lebih berbahaya berupa kanker kulit.

Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin pada halodoc.com dr Irwan Fahri Rangkuti SpKK, mengatakan bagian yang paling tidak mengenakkan penggunaan cat pada tubuh adalah bisa menimbulkan rasa gatal dan panas. Sepemahamannya, penggunaan cat mengandung bahan kimia seperti vinyl chloride, plastisol, formaldehida, logam berat seperti timbal, titanium, kromium, hidrokarbon, dan pelarut atau thinner. Menggunaan vinyl chloride dalam waktu singkat dapat mempengaruhi saraf dan menimbulkan gejala pusing dan sakit kepala, iritasi mata dan saluran napas, iritasi dan alergi pada kulit, bahkan terkontaminasi dalam jumlah besar akan menimbulkan kerusakan paru dan ginjal. (Radar Semarang, Jawa Pos).

Terlepas dari gejolak ekonomi yang sedang melanda negeri ini, Kondisi mendesak yang memaksa kita untuk memenuhi kebutuhan, ada baiknnya pekerjaan yang dilakoni didasarkan pada aturan-aturan berlaku apalagi pekerjaan tersebut harus mengorbankan nyawa kita dalam jangka panjang. Merebaknya Manusia silver memang masih menjadi kontraversi dan pekerjaan rumah bagi dinas sosial setempat dan Kementerian Sosial secara menyeluruh. Pembinaan yang dilakukan setelah pengamanan perlu dilakukan evaluasi agar mengurangi PMKS yang kerap berkeliaran di kota-kota besar Indonesia. Ya memang hal ini tidak serta merta menjadi tugas pemerintah, Masyarakat umum seperti kita juga seharusnya ikut bersinergi dan bersuara berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku di daerah setempat mengenai PMKS. Ada beberapa kategori PMKS yang perlu ditelusuri lebih dalam, sehingga tidak seenaknya memberi uang kepada penyandang PMKS.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rizka Nurfadillah
Rizka Nurfadillah

Seorang lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sedang asik menulis dan wara-wiri baik di dunia nyata maupun maya.

Artikel: 11

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *