Teater Indonesia, Konsep Sejarah Problema – Umar Kayam

Teater merupakan salah satu bidang ilmu yang sudah lama sekali ada di muka bumi dan hingga saat ini masih terus mengalami perkembangan. Kata teater berasal dari bahasa Yunani yaitu “theatron” yang berarti gedung pertunjukan. Kata theatron sendiri memiliki kata serapan “theamoai” yang mana juga berarti melihat atau menyaksikan.

Berasal dari dua kata tersebut pada awal perkembangannya teater banyak di kenal dengan arti sebuah gedung pertunjukan untuk melihat suatu pementasan. Namun seiring berkembangnya zaman dan peradaban maka arti kata teater berkembang lebih luas. Dalam arti luas, teater dapat berarti sebuah perilaku manusia yang dipertontonkan di atas panggung dengan menggunakan bantuan naskah, setting serta aktor.

Pertunjukan teater sendiri secara luas berkembang di negara-negara barat hingga akhirnya bisa sampai ke Indonesia. Di Indonesia sendiri teater terbagi dalam dua jenis, yaitu teater modern serta teater tradisi. Untuk teater tradisi sendiri contohnya adalah Ketoprak, Ludruk, Longseng, Mamanda, Randai, Makyong dan masih banyak lagi.

Seniman yang kukuh mengenalkan seni teater di masyarakat Indonesia juga banyak dan sampai sekarang masih memiliki banyak penggemar. Antara lain seperti WS. Rendra, N. Riantiarno, Putu Wijaya, Arifin C. Noer dan masih banyak lagi. Salah satu tokoh teater, seniman, akademisi sekaligus budayawan yang terkenal dengan karya-karyanya adalah Umar Kayam.

Umar Kayam adalah seorang budayawan asal Ngawi yang telah meninggal dunia pada tahun 2002 silam. Meski telah wafat namun tentu saja beliau berhasil menorehkan banyak buku dan karya yang sampai sekarang masih belum relevan untuk di pelajari. Salah satu karya fenomenalnya adalah novel Para Priyayi, kumpulan cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”, kumpulan cerpen “Sri Sumarah” hingga kumpulan esai yang akan di bahas kali ini dengan judul “Seni, Tradisi, Masyarakat”

Nilai-Nilai Tradisi, Dan Teater Kontemporer Kita

Sebelum membahas lebih jauh mengenai nilai tradisi dan kontemporer yang berkembang di Indonesia. Maka terlebih dahulu perlu untuk mengkelompokan mengenai bagaimana hakekat dari sistem nilai masyaraat tradisi serta hakekat dari sistem nilai masyarakat kontemporer itu sendiri untuk memudahkan pembacaan.

Masyarakat kontemporer dalam bahasan ini, sebenarnya  mewujud dalam masyarakat Indonesia sejak zaman lampau hingga saat ini. Masyarakat Indonesia sendiri memiliki keanekaragaman nilai tradisi serta upaya-upaya perkembangan menuju modernitas. Nilai-nilai tradisi inilah yang perlu dikaji dalam pembaharuan yang tengah dilakukan oleh masyarakat kontemporer.

Apa Itu Masyarakat Tradisi ?

Nah sebelum jauh membaca mengenai masyarakat kontemporer maka menjadi lebih bijak untuk mengetahui mengenai apa itu masyarakat tradisi. Masyarakat tradisi sendiri sebenarnya terdiri dari masyarakat pertanian dan feodal di Indonesia. Sistem pertanian tersebut dilakukan secara berpindah-pindah, hal inilah yang membuat sistem sosial mereka tidaklah rumit.

Pada masyarakat pertanian yang disangga oleh sistem pertanian sawah,biasanya berkembang organisasi birokratik yang kemudian saat ajaran Hindu Budha masuk berubah menjadi kerajaan. Masyarakat pertanian baik ladang maupun sawah, menaruh arti yang sangat penting terhadap tanah, padi, ligkungan, roh-roh halus. Mereka memiliki keyakinan bahwa semua itu menjadi satu kesinambungan yang harus dijaga keutuhannya.

Saat sistem kerajaan mulai berkembang, hal itu kemudian dipusatkan pada kekuasaan raja. Tanpa mengurangi keseimbangan penjagaan terhadap alam, tatanan sosial dan birokrasi. Ketika agama-agama baru seperti Islam dan Kristen masuk, nilai-nilai agama itu kemudian diserap masyarakat diatas lapisan-lapisan kepercayaan lama. Mudahnya, masyarakat tradisi adalah nenek moyang leluhur bangsa Indonesia yang mana mulai dari sistem kerja, komunikasi, hidup dan budaya belum mengalami modifikasi besar seperti manusia kontemporer zaman milenila ini.

Mengenal Masyarakat Kontemporer

Masyarakat kontemporer kita merupakan masyarakat yang sangat cair dan berasal dari masyarakat peralihan dari berbagai dimensi. Masyarakat yang sangat modern, mulai tergeser nilai-nilai budayanya serta sangat mengacu pada kebebasan dan industri. Masyarakat kontemporer banyak menyerap gaya hidup dan pandangan hidup masyarakat industri maju. Proses pemisah ini sebenarnya sudah terjadi sejak masa penjajahan Belanda.

Singkatnya, masyarakat kontemporer merupakan sebuah bentuk masyarat masa kini di era teknologi 5.0 ini. Dimana perkembangan teknologi seolah menggeser banyak kebudayaan tradisional yang mana juga menekan perkembangan kesenian terutama teater. Meski tidak dapat di pungkiri juga bahwa perkembangan teknologi tersebut membawa dampak baru pada komunikasi teater di tengah-tengah masyarakat.

Pertumbuhan Seni Budaya Teater Masa Penjajahan Belanda

Pada masa penjajahan Belanda kawasan tradisional mulai diporak-porandakan dan pembongkaran sosial dan budaya saat itu mulai dilakukan. Sekolah-sekolah bagi pribumi dibuka, mereka diberi pelajaran mengenai baca tulis, menghitung dan Bahasa Belanda. Hal ini merupakan salah satu strategi penjajah agar kedudukan mereka tetaplah kuat.

Dalam sistem penjajahan bawaan Belanda ini, ada pula pergeseran makna priyayi yang dulunya digambarkan sebagai hamba raja atau seorang bangsawan, kini berubah menjadi seorang pelajar. Hal ini menimbulkan adanya lapisan baru, dan lapisan inilah yang menjadi biang perkembangan. Belanda tidak hanya mempengaruhi perkembangan hidup rakyat Indonesia tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan teater Indonesia yang kala itu banyak berkiblat pada budaya, bahasa dan kisah-kisah penjajahan Belanda.

Pertumbuhan Masyarakat dan Kesenian Masa Penjajahan Jepang

Pada masa penjajahan Jepang datang, mulai adanya mobilitas vertical dari para wong cilik yang diperlebar kemungkinannya. Dimana lapisan antara wong cilik dan priyayi tidak dikenal lagi. Hingga pada akhirnya sekolah-sekolah dan lapisan masyarakat yang biasanya diduduki oleh priyayi kemudian mulai membuka tempat bagi para kaum wong cilik.

Lantas bersamaan dengan itu, muncullah golongan bernama “neo priyayi”. Neo priyayi sendiri terdiri dari orang-orang yang dulunya bukan kaum priyayi namun mampu menduduki jabatan-jabatan masyarakat  dan mengubah dirinya menjadi kaum yang ter-anggap. Dalam kehidupan bermasyarakat masa itu, ada suatu perbedaan kualitas antara hasil masyarakat yang mengalami penjajahan oleh Belanda dan oleh Jepang.

Perbedaan itu terletak pada pemikiran, kebudayaan serta kekayaan. Namun setelah usainya masa penjajahan Belanda maupun Jepang terbentuklah suatu konsep Republik Kesatuan yang mengakibatkan bercampurnya dua pemikiran diatas yang melahirkan suatu budaya-budaya baru. Seperti, Jawa Hindu yang menghasilkan arsitektur Candi Borobudur dan Prambanan. Bali Hindu yang menghasilkan kesenian cemerlang, Aceh Islam mencapai kejayaannya pada masa Iskandar Muda.

Akan tetapi dampak dari pencampuran tersebut adalah terbentuknya modernitas budaya yang mengakibatkan mulai hilangnya budaya lama. Dalam ranah kesenian pada masa penjajahan Jepang ini banyak muncul seniman seni rupa yang berkembang dalam balutan budaya Jepang. Selain itu seniman-seniman teater juga mulai menggeliat dengan banyak menelurkan opini melalui prosa yang banyak mempengaruhi perkembangan teater saat ini.

Teater Masa Kini Dalam Masyarakat Kontemporer

Pada masyarakat kontemporer teater berfungsi untuk mengikat solidaritas dan penyampai nilai-nilai hidup di masyarakat. Isi pada teater kontemporer berdasarkan pada pemuliakan petani, roh halus dan tentang nenek moyang atau pendiri desa. Berdasar hal-hal tersebut menjadikan teater sebagai salah satu bagian hidup pada masyarakat yang tidak bisa dipisahkan.

Selain daripada sebagai pengikat solidaritas, teater juga digunakan sebagai alat raja untuk mengatur masyarakatnya dan menjadikan raja sebagai dewa para rakyat. Dari hal-hal tersebut dapat diketahui bahwa pada masanya dulu kesenian dibagi menjadi 2 yaitu kesenian keraton dan kesenian rakyat. Untuk kesenian keraton sendiri hanya bisa di saksikan oleh orang-orang kelas atas atau priyayi sedang kesenian rakyat banyak mendapat animo dari kasta menengah ke bawah.

Teater kontemporer pada dasarnya adalah teater kota, namun yang membuat teater kontemporer yang teater kota itu lain adalah masyarakat pendukungnya sendiri. Dimana para pengunjung teater kontemporer di kota datang ke gedung teater, antri membeli karcis dan kemudian duduk tenang secara apik. Nilai-nilai yang disampaikan oleh teater kontemporer kota biasanya adalah nilai-nilai alternative, nilai-nilai bayangan dan konsep-konsep yang seolah digunakan untuk menghantui fikiran penonton.

Dengan kata lain pengunjung teater modern pulang kerumah masing-masing kan mendapat atau merasa mendapat informasi baru tentang berbagai kemungkinan kehidupan yang berjalan dan dihayati manusia. Teater kontemporer Indonesia, menjadi salah satu teater kontemporer terunik karena berasal dari kondisi yang unik diberbagai kota di Indonesia.

Menggali nilai-nilai tradisi untuk perkembangan teater kontemporer kita

Memaksakan teater tradisi dalam konteks dan ranah perkembangan teater kontemporer  hanya akan membuat kesia-siaan belaka. Teater tradisi dan teater kontemporer memiliki idiom yang berbeda, juga kekhasan yang berbeda. Sehingga tanpa mencoba memadukan antara nilai teater tradisi dengan kontemporer, kita mampu mencoba membuat format baru.

Adapun perkembangan teater tradisi atau modern kita saat ini memiliki arus dan gayanya sendiri. Meski keduanya memang tidak bisa lepas dari pengaruh budaya lama, Belanda maupun Jepang, Yunani hingga masa penjajahan. Meski perkembangan teater kontemporer tidak memiliki banyak kelas sebanyak serial TV tapi agaknya geliat teater tetap harus di lestarikan sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Evi Putrya
Evi Putrya

Penggemar buku, novel juga puisi. Idealis yg mencoba tetap realistis. Mari saling bertukar energi positif!

Artikel: 12

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *