Mendesain Computational Thinking dan Optimalisasinya

Computational Thinking merupakan cara berpikir yang memungkinkan untuk menguraikan suatu masalah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil dan sederhana, menemukan pola dalam dan masalah tersebut, serta menyusun langkah-langkah solusi mengatasi masalah. Terdapat 4 hal pokok yang terkandung dalam computational thinking, antara lain: Decomposition adalah tentang mengurai masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil sehingga lebih mudah untuk ditangani. Pattern recognition mencari persamaan atau pola yang terdapat di dalam permasalahan. Abstraction fokus pada informasi yang penting saja dan mengabaikan informasi lain yang tidak relevan. Dan yang terakhir adalah algorithms yaitu menentukan langkah demi langkah solusi untuk mengatasi masalah atau prosedur yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah.

Istilah computational thinking atau berpikir komputasi diperkenalkan oleh Seymour Papert (1980) dalam bukunya yang berjudul “Mindstorm”. Ketika itu Papert berfokus pada dua aspek komputasi yaitu bagaimana menggunakan komputasi untuk menciptakan pengetahuan baru dan bagaimana menggunakan komputer untuk meningkatkan pemikiran dan perubahan pola akses ke pengetahuan. Papert menghubungkan pemikiran komputasi dan pedagogi digital dengan pendekatan modern dalam pendidikan yang diprakarsai oleh Jean Piaget. Piaget adalah seorang psikolog perkembangan paling dikenal karena mencetuskan teori belajar yang dikenal sebagai konstruktivisme.  Secara singkat, Piaget menegaskan bahwa peserta didik membangun pengetahuan baru dalam pikiran mereka, dari interaksi pengalaman mereka dengan pengetahuan sebelumnya. Papert mengembangkan teori konstruktivisme, menambahkan gagasan bahwa pembelajaran ditingkatkan ketika pelajar terlibat dalam “membangun produk yang bermakna. “

Jeannette M. Wing menganggap pemikiran komputasi sebagai keterampilan dasar untuk kemampuan analitis semua orang sama dengan kecakapan dengan membaca, menulis, dan berhitung. Makalah Wing disambut oleh masyarakat di semua tingkatan, terutama di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. Pada Tahun 2012, kurikulum nasional Inggris mulai memperkenalkan ilmu komputer atau Computer Science (CS) kepada semua siswa. Di Singapura, sebagai bagian dari inisiatif “Smart Nation”, telah memberi label pengembangan computational thinking sebagai “kemampuan nasional”. Beberapa negara lain seperti, Finlandia, Korea Selatan, Cina, Australia dan Selandia Baru, telah meluncurkan upaya skala besar untuk memperkenalkan computational thinking di sekolah-sekolah. Computational Thinking sebagai bagian dari kurikulum sehingga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang ada. Mantan Presiden Barack Obama meminta untuk dilengkapi dengan keterampilan computational thinking sebagai bagian dari inisiatif “Computer Science for All” pada tahun 2016 di Amerika Serikat.

 

Mendesain Computational Thinking

Berpikir komputasi atau computational thinking adalah proses berpikir menyelesaikan masalah dengan mengaplikasikan proses komputasi dalam berpikir. Individu atau seorang yang ingin menjalankan proses computational thinking, dapat melalui proses sebagai berikut:

  1. Memformulasikan masalah yang dihadapi dalam bentuk masalah komputasi;
  2. Menentukan atau menyeleksi pola yang dibentuk dari sebuah persoalan atau masalah tersebut;
  3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip umum yang terbentuk dari pola yang telah disusun. Biasanya berupa karakterstik atau ciri khas sehingga dapat dibentuk model penyelesaian dari masalah tersebut;
  4. Menentukan langkah-langkah pemecahan masalah atau persoalan sehingga sistematis atau berurutan.

Berpikir komputasi tidak berarti berpikir seperti komputer, melainkan berpikir tentang komputasi dimana proses penerimaan informasi, pengolahan dan output yang dihasilkan dapat optimal. Terdapat beberapa metode computational thinking dalam memecahkan masalah seperti dijelaskan sebelumnya, antara lain:

  1. Decomposition : Memecah-mecah masalah menjadi lebih kecil dan sampai ke pokok sebuah masalah hingga kita menyelesaikan suatu masalah. Identifikasi perbagian darimana masalah itu datang sehingga sumber permasalahan dapat ditentukan.
  2. Pattern Recognition : Mencari pola, biasanya didalam sebuah masalah terdapat pola pola tertentu untuk memecahkan masalah tersebut. Kemandirian personal dituntut untuk mengetahui sendiri bagaimana pola tersebut terbentuk.
  3. Abstraksi : Melakukan generalisasi dan mengidentifikasi prinsip-prinsip umum yang menghasilkan pola, tren dan keteraturan tersebut. Biasanya dengan melihat karakteristik umum dapat menjadi landasan untuk menentukan model suatu penyelesaian.
  4. Algorithm : Mengembangkan petunjuk pemecahan masalah yang sama secara step by step, langkah demi langkah, tahapan demi tahapan sehingga langkah penyelesaian masalah dapat dibentuk secara teratur dan sistematis.

Berbasis pada empat proses pembentukan computational thinking beserta metode pembentukan computational thinking di atas menjadikan desain computational thinking dirasa sederhana. Perlu konsistensi serta komitmen individu untuk membiasakan diri menggunakan computational thinking. Permasalahan terbesar dalam mendesain computational thinking terletak pada sejauh mana individu tersebut mampu memahami masalah yang dihadapi serta kreatif dalam mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Peran Computational Thinking

Berpikir komputasi adalah teknik pemecahan masalah yang sangat luas penerapannya, bukan untuk menyelesaikan masalah ilmu komputer, melainkan dapat menyelesaikan masalah di kehidupan sehari-hari. Dengan teknik tersebut, individu atau pribadi akan belajar bagaimana berpikir secara terstruktur, seperti halnya ketika para software engineer menganalisa kebutuhan dan merencanakan pengembangan software. Teknik berpikir Computional Thinking sebagai sebuah pendekatan sangat penting dikuasai individu untuk membantu menstrukturisasi penyelesaian masalah yang rumit. Dimana kecakapan complex problem solving dan berpikir kritis ini merupakan dua keahlian terpenting yang diperlukan pada era digitalisasi. Dengan menguasai kecakapan ini, maka individu akan lebih siap dalam bertahan dan bersaing di masa mendatang, di era dimana akan hilangnya beberapa profesi yang ada dan era dimana muncul profesi baru.

Generasi penerus yang sementara dihadapkan dengan era digitalisasi menuntut untuk memiliki kecakapan computational thinking. Hal tersebut untuk dapat memberikan kemampuan berdaya saing maupun kreatifitas dalam proses penyelesaian masalah. Kreatifitas dan problem solver merupakan muara akhir dari tujuan berpikir komputasi atau computational thinking.  Mengkaitkan antara proses pengolahan informasi oleh komputer dengan pikiran manusia memang terlampau kompleks. Akan tetapi, jika dapat ditarik benang merah untuk direalisasikan dalam pikiran manusia akan menjadi lebih optimal.

Optimalisasi Computational Thinking

Mengimplementasikan Computational Thinking adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, lalu mulai mencari solusi sesuai dengan masalah yang dihadapi. Dalam Computational Thinking, ada yang disebut dengan dekomposisi yaitu kita memecah suatu masalah yang komplek menjadi masalah-masalah yang kecil untuk diselesaikan. Computational Thinking sebagai pendekatan pembelajaran dapat disandingkan dengan pendekatan dan metode lain seperti Pembelajaran Berbasis Proyek atau Pembelajaran Berbasis Inkuiri (Inquiry Based Learning) dalam pembelajaran sains.

Peran pemangku kepentingan serta kebijakan di Indonesia memiliki dampak yang signifikan. Untuk dapat menjalankan computational thinking kepada seluruh masyarakat Indonesia, dibutuhkan terobosan serta ide brilian. Mewujudkan bangsa Indonesia yang cerdas dan berdaya saing global salah satunya melalui computational thinking. Masyarakat harus diberikan ruang serta kemandirian untuk dapat mengkreasikan ide dan gagasannya dalam menghadapi permasalahan yang ada di Indonesia.

Berbagai upaya meningkatkan penggunaan Computational Thinking adalah dengan mengintegrasikan teknik tersebut dalam kurikulum dan pembelajaran di sekolah. Guru maupun siswa serta lingkungan belajar dapat dirancang untuk memaksimalkan computational thinking. Guru dituntut untuk kreatif dalam merancang proses pembelajaran yang berbasis computational thinking sehingga pembelajaran lebih bermakna. Siswa diberikan masalah untuk dapat meningkatkan kemampuan computational thinking. Sedangkan lingkungan belajar dapat diarahkan sehingga memfasilitasi kebutuhan guru dan siswa. Keterampilan dalam menerapkan inovasi dalam dunia pendidikan harus diberikan kepada seluruh civitas akademika dalam dunia pendidikan Indonesia. Mari meningkatkan serta mengoptimalisasikan computational thinking dalam dunia pendidikan untuk menghasilkan generasi emas Indonesia.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Florianus Nay
Florianus Nay

Seorang pegiat literasi dan berkecimpung dalam dunia pendidikan serta penelitian. Sekarang mengajar pada sebuah kampus swasta di Kupang Nusa Tenggara Timur. Mempunyai spirit dalam bidang pendidikan matematika dan matematika serta passion dalam menulis.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + = 4