Prokrastinasi: Istilah yang Menggambarkan Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Pernahkan Anda merasa malas memulai suatu pekerjaan?

“Nanti dulu lah, deadline kan masih lama.”

“Dikerjakan nanti saja, masih belum mood.”

“Besok saja lah, dikerjakan sebentar pasti selesai.”

Prokrastinasi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku menunda-nunda tugas atau pekerjaan. Setiap orang terkadang memang menunda sesuatu misalnya karena ada hal lain yang lebih penting atau sedang sakit, tetapi orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda (prokrastinator) terus-menerus menghindari tugas-tugas yang dirasa sulit dan bahkan dengan sengaja mencari pengalih perhatian. Para peneliti menggambarkan prokrastinator sebagai seseorang yang memiliki kontrol diri atau regulasi diri yang buruk. Mereka tahu apa yang harus dikerjakan tetapi sulit mendorong diri untuk melakukannya.

Apa yang menyebabkan orang melakukan prokrastinasi?

Ingatkah saat Anda mengira masih memiliki satu minggu untuk mengerjakan tugas tapi ternyata deadline tugas tersebut besok? Atau saat Anda memutuskan untuk tidak mencuci baju dengan alasan tidak mau melakukannya sekarang?

Apa yang Anda pikirkan saat itu?

Prokrastinasi didorong oleh berbagai pikiran tetapi pada dasarnya, kita menghindari tugas atau menundanya karena kita tidak percaya kita akan menikmati melakukannya dan ingin menghindarinya, atau kita takut kita tidak akan melakukannya dengan baik. Orang mungkin juga menunda-nunda ketika mereka bingung dengan kompleksitas tugas atau ketika mereka terlalu lelah.

Selain itu, kita juga sering berasumsi bahwa suatu pekerjaan tidak akan memakan waktu lama untuk diselesaikan. Hal ini membuat kita yakin masih memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

Faktor lainnya, anggapan bahwa kita harus memiliki mood yang baik, atau merasa termotivasi terlebih dahulu untuk dapat mengerjakan tugas tertentu. Dilansir dari The New York Times, Dr. Tim Pychyl, Professor Psikologi dan anggota Procrastination Research Group di Carleton University Ottawa mengatakan bahwa prokrastinasi bukanlah masalah manajemen waktu tetapi kemampuan seseorang dalam mengatur mood negatif seperti, cemas, perasaan insecure, frustrasi, dan self-doubt (keraguan diri).

Dalam menunda pekerjaan, seseorang biasanya menggunakan alasan-alasan untuk membenarkan perilakunya. Menurut peneliti, berikut adalah beberapa alasan yang biasanya digunakan seseorang untuk menunda pekerjaan:

  • Tidak tahu cara melakukannya,
  • Tidak menyukai pekerjaannya,
  • Tidak berminat untuk melakukannya,
  • Terbiasa mengerjakan sesuatu di menit-menit terakhir,
  • Percaya bahwa akan lebih baik bekerja di bawah tekanan atau deadline,
  • Lupa,
  • Menunggu waktu atau momen yang tepat,
  • Butuh waktu untuk memikirkan inspirasi,
  • Menunda tugas untuk mengerjakan tugas lain.

Dampak Buruk Prokrastinasi

Prokrastinasi jika terlalu sering dilakukan dan menjadi kebiasaan tentunya akan merugikan banyak aspek kehidupan. Terlambat membayar tagihan, tidak mulai mengerjakan proyek besar sampai tenggat waktu, menunda belanja kebutuhan sehari-hari, dan bahkan terlambat mengajukan pembayaran pajak penghasilan adalah beberapa contoh nyata dampak dari prokrastinasi.

Namun, tidak sampai di situ. Prokrastinasi juga dapat berdampak serius pada kesehatan, baik mental maupun fisik, sosial, hingga kehidupan karir dan professional.

Kehilangan waktu berharga

Coba bayangkan dan ingat-ingat kembali, sudah berapa waktu yang terbuang saat kita melakukan prokrastinasi? Sesaat setelah melakukan prokrastinasi mungkin dampak ini belum terlalu terasa. Namun setelah bertahun-tahun kita akan menyadari betapa kita telah menjadi 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun tetapi tidak ada perubahan yang signifikan dalam hidup.

Menyia-nyiakan kesempatan

Sadar atau tidak, prokrastinasi telah menjauhkan diri kita dari banyak kesempatan dalam hidup. Dengan menunda-nunda pekerjaan, kita menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk melakukan lebih banyak hal.

Merusak karir

Cara kita melakukan suatu pekerjaan berdampak pada hasil kerja kita. Ketika kita terlalu sering menunda-nunda pekerjaan bisa jadi target mingguan atau bulanan kita menjadi tidak tercapai. Hal ini tentu akan menjadi pertimbangan perusahaan dalam melakukan evaluasi kinerja. Ketika seseorang tidak mampu memenuhi target yang telah ditentukan, apa kemungkinan yang akan terjadi?

Menurunkan kepercayaan diri

Seseorang mungkin melakukan prokrastinasi karena merasa khawatir tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, oleh karena itu ia terus menghindarinya. Namun, prokrastinasi bukanlah solusi yang tepat dan justru membuat rasa percaya diri menjadi semakin rendah. Dengan melakukan prokrastinasi secara tidak langsung kita sedang membatasi diri kita untuk belajar dan berkembang. Ketika merasa khawatir tentang suatu pekerjaan bukankah lebih baik untuk mencobanya?

Masalah kesehatan

Orang yang terlalu sering melakukan prokrastinasi pasti sangat tidak asing dengan perasaan-perasaan negatif seperti stress dan cemas. Ketika kita menunda-nunda melakukan tugas, kita sebetulnya merasa cemas karena merasa memiliki tanggung jawab untuk diselesaikan namun tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Bagaimana Cara untuk Mengurangi Perilaku Prokrastinasi?

Tentunya bukan hal yang mudah untuk menghentikan prokrastinasi terlebih jika hal ini sudah menjadi kebiasaan. Dibutuhkan kemauan yang kuat untuk melawan prokrastinasi. Namun jangan khawatir, beberapa kebiasaan kecil jika dilakukan secara konsisten dapat mengurangi kebiasaan ini. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi prokrastinasi:

Buat jadwal mengenai hal-hal yang harus dilakukan

Buatlah jadwal to-do list berdasarkan kadar prioritas. Buat daftar pekerjaan yang harus kita lakukan dan jadwalkan kapan kita harus melakukan pekerjaan tersebut berdasarkan prioritas. Hal ini akan membantu kita untuk tetap pada jalur dan konsisten melakukan pekerjaan. Namun jangan lupa untuk membuat jadwal serealistis mungkin. Misalkan dalam sehari kemungkinan kita hanya sanggup melakukan 2 hingga 3 pekerjaan, maka cukup jangan buat tambahan pekerjaan lain. Selain membuat kita malas melihat jadwal yang padat, hal ini juga membuat kita merasa bersalah jika tidak mampu menyelesaikan semuanya.

Memecah pekerjaan

Memecah pekerjaan menjadi beberapa pekerjaan yang lebih kecil terbukti efektif untuk menghilangkan kebiasaan menunda pekerjaan. Pada suatu pekerjaan besar misalnya, alih-alih memikirkan bagaimana menyelesaikannya dalam satu waktu dengan sempurna bagilah menjadi beberapa bagian dan mulailah sedikit demi sedikit. Akan jauh lebih mudah untuk mulai menangani tugas yang kita tahu dapat diselesaikan dengan cepat. Baru setelah kita mengambil beberapa langkah awal, kita dapat terus bergerak dengan lebih mudah dan melanjutkan hingga selesai.

Berikan reward untuk diri sendiri

Setiap kali berhasil melakukan pekerjaan, cobalah untuk menghargai usaha yang kita lakukan dengan hadiah. Hadiah ini akan memberikan motivasi bagi kita untuk terus melakukan pekerjaan. Misalkan setiap kali berhasil membersihkan rumah, Anda boleh menonton satu film. Selain itu, pergi ke bioskop atau jalan-jalan bersama teman juga bisa dilakukan sebagai hadiah ketika kita berhasil menyelesaikan proyek di kantor.

Maksimalkan energi pada waktu-waktu tertentu

Dalam melakukan prokrastinasi, seseorang mungkin akan beralasan sedang dalam mood yang buruk atau menunggu waktu yang tepat. Untuk kedua alasan tersebut, solusi ini mungkin berhasil. Pahami dan perhatikan waktu-waktu produktif kita. Seseorang mungkin lebih produktif sesaat setelah sarapan atau pada jam 9 hingga 10 pagi. Gunakan momen tersebut untuk melakukan pekerjaan.

Berhenti menjadi perfeksionis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang suka menunda-nunda pekerjaan sering kali adalah orang yang perfeksionis. Mereka berpikir lebih baik untuk tidak melakukan suatu pekerjaan daripada menghadapi kemungkinan tidak dapat melakukannya dengan baik. Mereka sangat khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang mereka sehingga mereka mempertaruhkan masa depan untuk menghindari penilaian buruk orang. Ketika Anda membiarkan perfeksionisme menguasai, Anda mungkin membiarkan proyek besar terlewatkan. Cobalah untuk melonggarkan standar Anda. Kurangi standar Anda dari “Sempurna” menjadi “Baik” dan tingkatkan ke tingkat “Luar Biasa” hanya jika Anda punya waktu dan energi lebih. Jangan biarkan tujuan kesempurnaan menghalangi Anda untuk memulai.

 

Sumber:

Cherry, K. (2020, May 30). What is procrastination? VeryWell Mind. Retrieved from https://www.verywellmind.com/the-psychology-of-procrastination-2795944

Lieberman, C. (2019, March 25). Why you procrastinate (It has nothing to do with Self-Control). The New York Times. Retrieved from https://www.nytimes.com/2019/03/25/smarter-living/why-you-procrastinate-it-has-nothing-to-do-with-self-control.html#:~:text=Over%20time%2C%20chronic%20procrastination%20has,chronic%20illness%20and%20even%20hypertension

 

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Rach
Rach

Seorang freelance writer yang aktif belajar, melakukan research dan juga menulis berbagai psychological issues.

Artikel: 13

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 33 = 41