4 Jenis Risiko dalam Pekerjaan Konstruksi dan Cara Mengantisipasinya

Pekerjaan konstruksi merupakan salah satu kegiatan yang memiliki tingkat risiko yang tinggi, baik bagi pelaksana, pengawas, maupun pemilik proyek. Risiko adalah suatu kejadian atau kondisi yang tidak pasti yang dapat mempengaruhi tujuan proyek, baik secara positif maupun negatif¹. Risiko dapat berasal dari berbagai sumber, seperti faktor internal, eksternal, teknis, manajerial, lingkungan, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain².

Risiko yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif bagi proyek konstruksi, seperti keterlambatan, pembengkakan biaya, penurunan kualitas, kerusakan lingkungan, kecelakaan kerja, konflik, sengketa, atau bahkan kegagalan proyek³. Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko yang sistematis dan terintegrasi untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko yang ada atau yang mungkin terjadi dalam proyek konstruksi⁴.

Beberapa risiko yang umum terjadi dalam pekerjaan konstruksi dan cara mengantisipasinya adalah sebagai berikut:

1. Risiko Desain

Risiko desain adalah risiko yang berkaitan dengan ketidaksesuaian, ketidaklengkapan, atau ketidaktepatan desain proyek konstruksi dengan spesifikasi, standar, atau kebutuhan yang diharapkan⁵. Risiko desain dapat menyebabkan perubahan desain, revisi gambar, penambahan pekerjaan, pengurangan pekerjaan, atau bahkan pembatalan proyek⁶.

Cara mengantisipasi risiko desain adalah:

  • Melakukan koordinasi yang baik antara pemilik proyek, konsultan perencana, konsultan pengawas, dan kontraktor pelaksana untuk memastikan kesesuaian dan kelayakan desain proyek⁶.
  • Melakukan studi kelayakan, analisis kebutuhan, survei lapangan, pengujian laboratorium, dan simulasi komputer untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat dan valid untuk mendukung proses desain proyek⁷.
  • Melakukan review dan validasi desain proyek secara berkala dan menyeluruh untuk memeriksa konsistensi, kelengkapan, dan ketepatan desain proyek dengan spesifikasi, standar, dan kebutuhan yang diharapkan⁸.
  • Melakukan perubahan desain proyek secara hati-hati dan bijaksana dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap waktu, biaya, kualitas, dan lingkungan proyek, serta mendokumentasikan dan mengkomunikasikan perubahan tersebut kepada semua pihak yang terkait.

2. Risiko Estimasi dan Penjadwalan

Risiko estimasi dan penjadwalan adalah risiko yang berkaitan dengan ketidakakuratan, ketidakrealistisan, atau ketidakjelasan estimasi dan penjadwalan proyek konstruksi yang dapat mempengaruhi kinerja proyek. Risiko estimasi dan penjadwalan dapat menyebabkan kesalahan anggaran, kekurangan dana, keterlambatan proyek, peningkatan biaya, penurunan kualitas, atau bahkan kegagalan proyek.

Cara mengantisipasi risiko estimasi dan penjadwalan adalah:

  • Melakukan analisis biaya dan manfaat, analisis sensitivitas, analisis risiko, dan analisis kelayakan untuk mendapatkan estimasi dan penjadwalan proyek yang rasional, realistis, dan reliabel.
  • Menggunakan metode dan alat yang tepat dan teruji untuk melakukan estimasi dan penjadwalan proyek, seperti analisis unit harga, analisis harga satuan, analisis biaya siklus hidup, metode jalur kritis, metode rantai kritis, metode nilai yang diperoleh, dan lain-lain.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan sistematis terhadap progres fisik dan keuangan proyek, serta melakukan penyesuaian atau koreksi jika terdapat penyimpangan atau perubahan yang signifikan.
  • Melakukan pengendalian mutu, pengendalian biaya, pengendalian waktu, dan pengendalian perubahan proyek dengan menggunakan teknik dan alat yang sesuai, seperti diagram kontrol, diagram Pareto, diagram sebab-akibat, diagram alir, diagram Gantt, diagram jaringan, dan lain-lain.

3. Risiko Geologi

Risiko geologi adalah risiko yang berkaitan dengan kondisi tanah, batuan, air tanah, dan struktur geologi di lokasi proyek konstruksi yang dapat mempengaruhi stabilitas, keamanan, dan kelayakan proyek. Risiko geologi dapat menyebabkan kerusakan struktur, longsor, banjir, gempa bumi, erosi, subsidensi, atau bahkan bencana alam.

Cara mengantisipasi risiko geologi adalah:

  • Melakukan investigasi geoteknik, hidrogeologi, dan geofisika untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap dan akurat tentang karakteristik dan perilaku tanah, batuan, air tanah, dan struktur geologi di lokasi proyek.
  • Melakukan perancangan dan perhitungan struktur proyek yang sesuai dengan kondisi geologi di lokasi proyek, serta memilih material dan metode konstruksi yang tepat dan aman.
  • Melakukan pencegahan dan perlindungan terhadap potensi bahaya geologi, seperti memasang drainase, penahan tanah, perkuatan tanah, perkuatan fondasi, isolasi getaran, dan lain-lain.
  • Melakukan pemantauan dan pengawasan secara kontinu dan intensif terhadap kondisi geologi di lokasi proyek, serta melakukan tindakan korektif atau mitigasi jika terdapat indikasi atau gejala yang mengkhawatirkan.

4. Risiko Insiden atau Kecelakaan Proyek

Risiko insiden atau kecelakaan proyek adalah risiko yang berkaitan dengan terjadinya insiden atau kecelakaan yang dapat menimbulkan cedera, sakit, kematian, atau kerugian bagi pekerja, pengawas, pengguna, atau masyarakat di sekitar proyek konstruksi. Risiko insiden atau kecelakaan proyek dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor manusia, faktor alam, faktor teknis, faktor organisasi, atau faktor lingkungan.

Cara mengantisipasi risiko insiden atau kecelakaan proyek adalah:

  • Melakukan identifikasi dan analisis potensi bahaya dan dampaknya terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di proyek konstruksi, serta menetapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian yang sesuai.
  • Melakukan sosialisasi dan pelatihan K3 kepada semua pekerja, pengawas, dan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi, serta memastikan bahwa mereka memahami dan mematuhi aturan dan prosedur K3 yang berlaku.
  • Menyediakan dan memakai peralatan dan perlengkapan K3 yang memadai dan sesuai dengan standar, seperti helm, sepatu, sarung tangan, rompi, masker, kacamata, tali pengaman, dan lain-lain.
  • Melakukan inspeksi dan audit K3 secara rutin dan menyeluruh untuk memeriksa dan mengevaluasi kondisi dan kinerja K3 di proyek konstruksi, serta melakukan perbaikan atau perbaikan jika terdapat kekurangan atau ketidaksesuaian.

Referensi Online

  1. Risiko untuk proyek konstruksi – MANPRO
  2. 7 Risiko Umum Proyek dan Cara Mencegahnya [2022] • Asana
  3. Manajemen Risiko Pada Proyek Konstruksi – SiSipil.com .
  4. Inilah Tips Untuk Mengurangi Resiko Pada Proyek Konstruksi
  5. Tahapan Manajemen Risiko pada Proyek Konstruksi – Kompasiana
  6. Mengidentifikasi Risiko pada Perusahaan Konstruksi – Ukirama
  7. Manajemen Risiko Proyek Konstruksi

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Tim LPKN
Tim LPKN

LPKN Merupakan Lembaga Pelatihan SDM dengan pengalaman lebih dari 15 Tahun. Telah mendapatkan akreditasi A dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan Pemegang rekor MURI atas jumlah peserta seminar online (Webinar) terbanyak Tahun 2020

Artikel: 429

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 + 6 =