Rahasia Gen: Pengaruh Terhadap Pola Hidup Manusia

Setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda-beda, dimana akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Fakta menunjukkan bahwa Gen kebanyakan pada manusia dalam kondisi masih tertidur dan nyala/matinya gen dipengaruhi lingkungan. Namun, ternyata gen juga dipengaruhi oleh kondisi perasaan seseorang. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi sehingga gen tersebut bisa berkembang dengan maksimal sebagaimana mestinya, sehingga seseorang akan lebih mudah dalam menghadapi kehidupannya.

Sumber gambar: Pixabay

Gen “menyala” karena perubahan lingkungan dan cara membawa perasaan

Sekitar 60 triliun sel yang ada di tubuh manusia hidup satu per satu, jumlahnya sekitar 10 ribu kali jumlah penduduk di bumi. Kumpulan bentuk kehidupan yang jumlahnya luar biasa besar itu hidup berdampingan dan saling dukung tanpa berkelahi. Jika manusia di atas bumi tak henti-hentinya, mem-bully, bercerai, menuntut, berperang, para pembentuk kehidupan kecil di dalam tubuh hidup dengan harmonis dan membentuk organisasi yang saling membantu satu sama lainnya.

Hal ini dikarenakan di dalam tubuh manusia terdapat informasi perintah dan itu tidak lain adalah gen. Tanpa adanya perintah gen, satu sel pun tidak akan bisa mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Seandainya seluruh isi genom manusia telah menjadi jelas, akan bisa terlihat bayangan dari eksistensi “Sesuatu Yang Agung” sebagai Pencipta gen. Dengan membaca cetak biru bernama gen, disana akan ditemukan jejak Pencipta Besar yang menciptakan misteri bentuk kehidupan yang sulit dipercaya itu.

Pada gen, pertama berfungsi untuk mengatur seluruh hereditas (keturunan) dan menjaga keberlangsungan suatu bentuk kehidupan dengan menyampaikan ciri fenotipe dan kekhususan bentuk kehidupan sebagai sebuah informasi pada generasi berikutnya.

Kedua, berfungsi untuk mempertahankan pengelolaan semua bentuk kehidupan secara normal dan mengatur “pembaharuan bentuk kehidupan” yang memperbaharui sel-sel tanpa henti. Ketiga, gen adalah sumber segala potensi di mana sebagian besarnya tertidur.

Sebagai contoh, ada orang yang terkena kanker dan ada yang tidak meskipun mereka memiliki pola hidup yang relatif sama. Dengan kata lain, bisa diduga bahwa seorang perokok berat yang tidak terkena kanker paru-paru dikarenakan gen penghalau kankernya terus dalam keadaan menyala. Nyala/padamnya gen tidak hanya terbatas pada kesehatan, tetapi juga berlaku untuk berbagai hal yang berkaitan dengan kemampuan psikis dan fisik.

Semua sumber dari segala kemampuan dan potensi dalam diri seseorang ada pada gen

Serotonin adalah hormon yang berkaitan dengan kondisi psikologis manusia, sehingga bisa dikatakan sebagai substansi yang menjadi indikator pengaruh perasaan terhadap gen. Dengan mengetahui serotonin, kesungguhan hati kekasih bisa diukur dari proteinnya dan perasaan cinta bisa dikonversi ke dalam angka.

Dengan menggabungkan lingkungan luar dengan lingkungan dalam, serta menanamkan pola pikir dan cara hidup yang baik, semestinya akan membangkitkan gen yang bagus serta memungkinkan untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuan, sehingga mendapatkan kehidupan yang bergairah dan menyenangkan.

Karena itulah, anak mirip dengan orangtuanya pada tataran yang lebih besar atau lebih kecil pada berbagai sisi seperti penampilan luar, wajah, suara, kebiasaan, sifat, tindakan, dan lain-lain. Dan, fenomena pewarisan berbagai bentuk serta sifat yang secara individu dimiliki tiap-tiap individu kepada generasi berikutnya disebut hereditas.

Sedangkan sumber informasi yang mengontrol kerja tersebut adalah gen. Informasi tersebut disimpan sebagai DNA dalam kromosom sel. Kromosom dan DNA serta gen dan genom memiliki konsep yang berbeda. Yang pertama adalah “substansi” yang secara fisik ada, sedangkan yang kedua adalah “informasi” atau keseluruhannya yang tertulis di sana.

Cara hidup optimis dengan “Gen menyala” membuat manusia sehat DNA panjang umur

Hampir tidak diragukan lagi, bahwa sikap ceria, santai, dan tidak meributkan hal-hal kecil bisa “menyalakan gen” dengan baik, dan berkaitan dengan kebahagiaan serta kesehatan. Bukan tertawa karena senang, tetapi menjadi senang karena tertawa. Kunci menjadi bahagia adalah “berperilaku bahagia”. Pola pikir, kondisi hati, dan sikap hidup membawa pengaruh baik yakni secara fisik berupa kesehatan dan panjang umur.

Dengan bersikap santai dan bahagia, stres pun tidak akan menumpuk. Kalau pun stres, tapi dengan pola pikir positif itu akan bisa dimanfaatkan secara efektif. Cara membawa perasaan serta cara berpikir terhadap benda yang seperti itu akan memungkinkan Anda untuk hidup dengan “gen menyala”.

Membuat panduan untuk “tua dan bersinar” dengan metode succesfull aging

Tua memiliki kesan yang negatif, yang cenderung diasumsikan sebagai “melemah”. Namun, ada juga masa tua yang sukses “tua bersinar”, yakni semakin tua semakin meriah. Succesfull aging adalah penelitian yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

Dalam arti positif, succesfull again bermanfaat besar bagi pengurangan biaya medis dan biaya perawatan. Faktanya, tidak sedikit orang lanjut usia dengan vitalitas tinggi. Contohnya, Nabuto Shioya orang jepang yang menyebarkan cara bernapas sehat hasil buat pikirannya sendiri yang ia sebut sebagai “pernapasan spiritual”.

Dalam masyarakat usia lanjut, orang-orang usia lanjut yang hanya berbaring dan mengalami demensia (pikun) memang bertambah, tetapi di lain pihak orang-orang bersemangat tinggi seperti beliau juga bertambah. Dan orang seperti beliau memiliki semangat besar, fleksibel, berpandangan luas, dan kemauan untuk terus belajar.

Psikis dan fisiknya kaya, memiliki nilai dan kepuasan hidup, meski sudah tua namun bersemangat hidup selayaknya masa muda. Jadi, konkretnya apa yang diteliti dalam successful aging? Salah satunya ialah panduan olahraga yang membuat siapa pun bisa awet muda. Seperti berjalan kaki 10 ribu langkah per hari bisa mencegah penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup. Dengan olahraga, kerja gen yang terkait ialah metabolisme unsur tulang menjadi aktif, tapi yang dipikirkan bukan hanya kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan jiwa.

Karena tanpa pemenuhan sisi kejiwaan seperti nilai hidup, tujuan hidup, dan keinginan untuk hidup yang lebih bermanfaat, tidak mungkin bisa sukses di masa tua. Agar “mati dengan bernilai” tubuh dan jiwa harus sehat dan untuk itu diperlukan ilmu jiwa dan juga ilmu medis ini. Sehingga succesfull aging tidak berlawanan dengan kematian, melainkan menyambutnya dengan cara yang benar. Karena succesfull aging menggunakan ilmu psikosomatik untuk menyongsong “akhir yang bahagia”. Yakni tidak menyambut kematian dengan kesan yang menakutkan, melainkan menyiapkan dengan persiapan yang terbaik.

Guru dan para murid dengan “gen menyala” adalah kunci pendidikan yang sukses dan manusiawi

Pendidikan saat ini tidak memiliki “rasa haru”. Sebab pendidikan saat ini berorientasi penuh pada pengetahuan, angka-angka, dan daya guna, tetapi tidak memiliki daya tarik. Karena hal-hal yang berkaitan dengan hati dan kehidupan, seperti senyum, semangat, tenggang rasa, dan kebaikan itu “tidak bisa dinilai”.

Menghadapi para murid seharusnya sebagai satu individu manusia, berbicara dari hati ke hati dengan serius, dan sering menyediakan kesempatan untuk berdiskusi. Di sana, para murid menumpahkan pikiran serta terharu dan kemudian kembali menunjukkan senyuman mereka yang luar biasa.

Itu menjadi kesempatan untuk mengembalikan semangat mereka untuk kembali bangkit dengan ceria dan penuh vitalitas-dan dikatakan bahwa gen anak-anak putus sekolah yang menjadi padam di sekolah, satu per satu menjadi menyala. Sungguh ironis bila hal-hal bagus tersebut justru ditemui melalui “pendidikan luar sekolah”. Seharusnya, di sekolah, kegagalan (tidak naik kelas), bukanlah kerugian, tetapi kesempatan menuju keberhasilan. Apalagi adanya istilah “putus sekolah” yang banyak sekali merenggut semangat, menjadi minder, dan berkurangnya antusias belajar si anak.

Kebanyakan pelajar tak punya waktu luang untuk merasakan “kesehatan hatinya”. Mereka seperti eskalator, melangkah ke depan dan naik kelas tanpa jiwa yang sehat dan terus berusaha mati-matian untuk nantinya masuk perusahaan bagus. Kemudian pada usia 40-50, mereka akan menghadapi kemalangan bernama PHK. Pada saat seperti itu, entah apakah mereka siap dengan “kondisi malang” seperti seorang siswa yang terkena DO dari sekolahnya pada usia 18 tahun?.

Karena itulah, kondisi buruk tersebut seharusnya bisa membuat “gen menyala”, sehingga siapa pun bisa tampil lebih baik meskipun berada pada lingkungan atau mendapatkan perlakukan yang buruk. Artinya, setelah mengalami hal buruk, siapa pun bisa bergerak lebih cepat untuk meraih kesuksesan sesuai versinya masing-masing.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Eko Pardiyanto
Eko Pardiyanto

Seorang guru, content creator dan penulis lepas

Artikel: 23

One comment

  1. Apa yg dapat kami lakukan setelah menginjak umur 41 tahun. Semuanya sudah berjalan sesuai porsi dan rencananya ????

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *