Mengapa Presiden, Kepala-Kepala Daerah, Tokoh-Tokoh Pemerintahan Jarang Yang Berasal Dari Akademisi Murni ?

Jika kita baca riwayat hidup orang-orang terkenal, khususnya kita batasi pada mereka yang berkiprah menjadi pemimpin di pemerintahan, jarang sekali yang berasal dari akademisi murni.

Yang dimaksud akademisi murni di sini adalah orang yang lulus kuliah S1, lalu langsung lanjut S2 (bahkan S3) dan menjadi dosen tanpa diselilingi pengalaman praktis di dunia nyata.

BJ Habibie yang pernah menjadi presiden pun jika kita baca seksama riwayat hidupnya beliau bukanlah seorang akademisi murni. Begitu juga Anies Baswedan, sebelum menjadi gubernur bukanlah seorang akademisi murni,beliau memang pernah jadi rektor universitas, tapi tidak meniti karier awal sebagai akademisi murni atau seorang dosen

Nah Mengapa Presiden, Menteri Kepala-Kepala Daerah, tokoh-tokoh pemerintahan Jarang Sekali Yang Berasal Dari Akademisi Murni ?

Hal ini disebabkan oleh beberapa hal :

1. Akademisi murni bukanlah tipe orang-orang yang berani mengambil resiko

Bukti dari hal ini adalah seorang akademisi murni sebagian besar lebih memilih bekerja pada ranah teori saja,dia belum pernah punya pengalaman dunia nyata untuk menerapkan teori yang diajarkannya itu. Lulus S1 kemudian lanjut S2 dan lanjut S3 kemudian menjadi seorang dosen. Bagi mereka, hal seperti ini dipandang minim resiko untuk berhadapan dengan berbagai bentuk penentangan. Karena, yang dihadapi adalah mahasiswa-mahasiswa yang masih lugu dan banyak belum tau apa-apa,seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan menikmati keindahan pendidikan di salah satu lembaga tinggi selama beberapa waktu yang telah ditentukan.Ini tentu berbeda dengan bekerja di ranah implementasi. Harus siap menghadapi kritikan dari banyak orang. Dan harus siap menghadapi kenyataan bahwa tak semua teori bisa efektif atau efisien diterapkan pada kehidupan yang sesungguhnya. untuk menjadi seorang public figur seperti presiden, atau kepala daerah, adalah orang yang harus siap menghadapi penilaian dari banyak orang, dikritik bahkan dihujat, dicaci, atau dirusak nama baiknya,dan untuk menjadi seorang presiden atau kepala daerah juga harus ikut pemilihan dan harus siap kalah.

Seorang akademisi murni biasanya lebih memilih menghindari resiko-resiko seperti itu. Mereka lebih memilih untuk berani mengkritik pemimpin dari dalam kelas saja, di depan mahasiswa. Oleh karenanya jarang sekali seorang akademisi yang memberanikan diri untuk terjun langsung secara nyata ikut pemilihan.

2. Akademisi Murni Terbiasa Tidak Punya Pendirian/Plin Plan
Sering kali kita menemui dosen yang plin plan. Misalnya dalam membimbing skripsi. Hari ini bilang A, besok jadi B, besoknya lagi bilang C, dan balik lagi ke A. Sering kita menjumpai kasus seperti ini dengan dalih yang sering dilontarkan adalah sibuk,kenapa sering kita temui dosen khususnya tipe akademisi murni yang plin plan?

Pertama, mungkin karena mereka sendiri pun sebetulnya bingung dan tidak tahu bagaimana memakai teori yang mereka ajarkan itu. Ini disebabkan karena akademisi murni tidak punya pengalaman di dunia nyata sesungguhnya. Mereka langsung loncat S2 S3 dan menjadi dosen. tanpa diselingi pengalaman praktis.

Kedua, mungkin mereka berlaku plin plan itu kepada para mahasiswa yang masih lugu dan tidak ada yang berani melawan. Karena mahasiswa takut nanti skripsinya dipersulit. Dengan begitu perilaku itu berlanjut, karena tidak ada yang berani menegur dirinya. Dia pun menganggap itu hal yang biasa. Berbeda kalau di dunia nyata sesungguhnya apalagi kalau jadi pemimpin di dunia pemerintahan jika sekarang bilang A besok berkata B kemudian berubah C ,hal ini bisa menyebabkan pemimpin tersebut bisa dihujat habis-habisan,karena setiap kebijakkan yang diambil pemimpin berhubungan dengan nasib orang banyak. Nah seorang akademisi murni yang terbiasa plin plan dinilai tidak cocok untuk terjun ke dunia nyata khususnya pemerintahan. Karena, bagi mereka sebetulnya lebih cocok di dunia kampus saja

Tapi, meskipun jarang ditemukan presiden atau kepala daerah yang berasal dari akademisi murni, bukan berarti tidak ada sama sekali. Ada. Salah satu contohnya adalah Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dia meniti karir sebagai seorang akademisi murni yang kemudian memberanikan diri terjun ke dunia pemerintahan meskipun saat ini Mantan Bupati Bantaeng ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulsel oleh KPK.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Frimawati
Frimawati

Frimawati,kelahiran Makassar 4Juni 1989 Pribadi yang menarik, profesional,supel,pekerjakeras,aktif sebagai pendidik dan motivator menyukai dan
tertarik pada bidang pertanian maju,perkembangan teknologi digital,manajemen dan bisnis digital

Artikel: 10

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 41 = 51