Mengenal Guru 5G : Menjadi guru yang Canggih di Era Millenial

Five Generation (5G) adalah jaringan yang memiliki kecepatan luar biasa, bahkan diklaim 40 kali lebih cepat dari generasi 4G. Inovasi tersebut membuat kita sadar bahwa teknologi sudah secanggih itu. Berarti guru pun bisa demikian. Guru 5G diproyeksikan memiliki kemampuan tanggap yang cepat, dimana mampu merespon segala bentuk perubahan dengan tetap memiiki kompetensi pengajar, pendidik, dan pemimpin. Menjadi guru 5G juga akan membantu komunikasi dalam mengajar secara efektif. Oleh karena itu sangat penting bagi seseorang yang berada dalam profesi keguruan untuk masuk ke dunia 5G sehingga mampu bertahan di badai digital.

Sumber gambar: Pixabay

Upgrade diri adalah hal penting untuk meningkatkan kualitas guru

Pola pikir yang masih menganggap bahwa apa yang diajarkan oleh guru-guru era dulu tidaklah jauh berbeda dengan yang diajarkan sekarang, adalah pola pikir kuno yang sudah harus diubah. Siswa yang hidup di hari ini, dimana zaman dan kondisi jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Setiap generasi tumbuh dengan karakteristiknya masing-masing. Era saat ini adalah zamannya milenial yang tumbuh besar di lingkungan digital yang serba canggih. Sehingga para guru perlu mengikuti perubahan tersebut, dimulai dengan mengupdate pola pikir. Menggapai kesempurnaan dalam profesi adalah prioritas semua orang, termasuk guru. Namun, juga perlu mengendorkan perfeksionisme sebagai proses menggapai prestasi. Karena dengan demikian, akan mempermudah dalam menerima pikiran dan ide baru dari orang lain.

Banyak guru yang lebih memilih berada di zona nyaman daripada mencoba hal baru dengan alasan takut. Padahal kesempatan emas berada di depan mata. Jika kesempatan bertumbuh selalu dihindari, maka sudah pasti tidak akan pernah bisa melakukan perubahan besar dalam karir dan hanya bisa puas dengan pencapaian sekarang. Disaat orang lain menikmati kesuksesan, maka hanya stagnan di titik yang sama. Sebagai seorang guru, haruslah berimbang dalam menghadapi siswa yang memiliki kompetensi kognitif maupun keterampilan. Karena pembelajaran di abad ke-21 menuntut sekolah untuk meningkatkan banyak kompetensi seperti literasi, keterampilan teknologi, inovasi, maupun hidup dan berkarir.

Menjadi orang bodoh tidak selamanya memalukan. Jadilah orang bodoh yang ketika dihina atau diremehkan tidak tahu cara membalasnya. Jadilah orang bodoh yang ketika diajak berbicara, menikmati sebagai pendengar setia dan mendapatkan hikmahnya. Karena tidak selamanya orang bodoh gagal dalam hidupnya. Bisa jadi, merekalah yang mempunyai kompetensi dalam mempertahankan karirnya. Bersikap sopan mungkin mudah dilakukan semua orang. Namun, budaya malu? Apa sudah dimiliki semua orang? Sebagai contoh, seorang guru yang membuat data fiktif kehadiran. Mungkin ia adalah orang yang mempunyai sopan santun yang tinggi, tapi apakah ia mempunyai rasa malu? Tidak! Hilangnya rasa malu akan menghilangkan citra positif pada seseorang.

Menciptakan kebiasaan hebat adalah kunci menikmati profesi guru

Setiap orang sukses mempunyai kebiasaan aneh yang tidak dimiliki orang lain. Sebagai guru, haruslah mempunyai kebiasaan hebat dan menghebatkan. Mulai untuk membangun kebiasaan kecil yang membuat perubahan besar. Misal, membuat kebiasaan unik cara bersalaman dengan siswa. Jika mereka tertarik, maka kebiasaan ini akan meningkatkan semangat belajarnya.

Banyak cara untuk menikmati profesi guru, namun budaya malas bertanya akan membuat guru menjadi tidak mendapatkan informasi. Oleh karena kebiasaan bertanya harus dibudayakan, karena dengan hal itu memungkinkan untuk menemukan hal baru dari jawaban orang lain. Budaya bertanya juga akan membatu dalam melihat masalah sebagai tantangan bukan hambatan.

Banyak orang yang merasa tidak bahagia dengan profesinya. Namun bahagia adalah sesuatu yang harus dipaksakan. Jika tidak pernah memaksakannya, maka tidak akan bahagia selamanya. Menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan itu mudah, tinggal bagaimana untuk meyakininya. Oleh karena itu untuk mulai meyakini bahwa kita bahagia dalam ketidakbahagiaan tersebut. Karena segala sesuatu datang dari keterbiasaan, time is life. Menggunakan waktu yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Nebukar waktu dengan apa yang  diinginkan. Jika menginginkan kebaikan, maka habiskanlah waktu untuk kebaikan. Berbeda dengan uang, waktu tidak bisa diganti maupun dikembalikan. Cara untuk menggunakan waktu, menentukan apa yang akan didapat dalam hidup.

Menjadi penonton memang mengasyikkan, namun sebagai pelaku justru akan lebih menyenangkan. Seorang pemain akan menghasilkan sesuatu, sedangkan penonton hanya bisa melihatnya saja. Jadi penting bagi seseorang untuk bermental seperti seorang pemain, dimana ketika mendapatkan tugas sulit akan berusaha menyelesaikannya dan melihatnya sebagai peluang, bukan malah mengutuknya.

Sikap adalah pembeda abadi dengan orang lain

Kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup sangat dipengaruhi oleh sikap yang diambil. Jika orang mengambil sikap positif dalam karir keguruan, hal itu akan membantu dalam melakukan pekerjaan dan mencapai keinginan. Sikap adalah segalanya, dan lebih penting daripada uang. Sayangnya, kini banyak oknum guru yang telah disusupi pemikiran materialistis yang hanya bekerja jika mendapatkan uang. Padahal sejatinya profesi guru adalah sebuah pengabdian. Guru yang miskin karakter tersebut bisa dipastikan tidak pernah berpikir untuk membentuk karakter baik pada siswa. Sehingga tidak heran, jika terdapat siswa yang tidak mau mendengar nasihat guru tersebut.

Dalam perjalanan meraih keberhasilan, sering kali menemukan batu di tengah jalan yang membuat kehilangan fokus atau bahkan putus asa. Dan berada di titik, one man show atau berjuang sendirian yang kadang membuat lemah akan harapan. Sebagai seorang guru yang “melek” perubahan, Jangan pernah menyerah karena perubahan besar biasanya datang dari satu orang.

Menjadi guru di era milenial memang tidak mudah. Banyak tuntutan yang harus dijalani, seperti membangun kedekatan dengan siswa dan mengikuti tren mereka. Sehingga harus bisa membangun komunikasi yang baik dan memahami bahasa pergaulan mereka. Hal ini bisa dilakukan dengan masuk ke dalam dunianya dan penyampaian materipun akan lebih mudah diterima. Jika tidak memiliki passion dalam mengajar, atau tidak bisa memberi kontribusi bagi sekolah, atau bahkan tidak bisa memberi layanan dan teladan bagi siswa, sebaiknya untuk menjadi guru. Karena menjadi seorang guru membutuhkan soul. yaitu pengabdian. Jika guru tidak memiliki soul, maka tidak akan pernah terpikir ide yang bisa disumbangkan untuk pendidikan.

Menciptakan strategi kreatif yang bisa ditiru jejaknya

Apa yang membedakan guru satu dengan guru yang lainnya? Jika merasa tidak ada, maka sangat penting untuk mencari dan menambahkan hal unik yang bisa menjadi pembeda seorang guru. Menjadi orang-orang biasa di dunia yang sangat kompleks ini, hanya akan menjadikan diri menjadi tidak berdaya saing. Sehingga harus memulai untuk menciptakan kreativitas yang tidak dimiliki orang lain. Apalagi dalam karir keguruan saat ini, generasi muda seperti dipasung dalam pesatnya teknologi. Jika guru kalah kreatif dengan siswa, maka ia akan kolaps menghadapi pertanyaan yang tidak diketahuinya. Sebagai guru milenial, harus memaksakan diri untuk kreatif, bukan untuk dipaksa kreatif.

Bayangkan jika Young Lex, youtuber muda yang sangat terkenal dengan kreativitasnya, disuruh mengajar. Pasti la akan dengan mudah melakukannya, dan dalam waktu singkat siswa pun akan memiliki kemampuan yang setara dengannya. Karena kiprahnya di dunia kreativitas telah mampu menginspirasi banyak orang. Apakah dengan cara yang sama akan menghasilkan hasil yang sama? Tentu tidak. Setiap manusia adalah kreatif, mereka mempunyai kemampuan untuk berkreasi lebih dari orang lain. Oleh karena itu, tidak perlu heran jika mendapat hasil yang berbeda dari cara yang sama. sebelumnya bisa melakukan survey terlebih dahulu sebelum menerapkan kreasi pada siswa untuk mengetahui cocok atau tidak diterapkan.

Menurut Ippho Santoso, pakar kreativitas, terdapat delapan cara membuat orang semakin kreatif, yaitu menjadi beda, berimajinasi, menjadi produktif, melakukan kombinasi, menghubungkan sesuatu, menyimpan gagasan berlawanan dalam pikiran, mampu membuat perumpamaan, serta menjadi proaktif.

Tidak hanya sebagai pengajar atau pendidik, guru juga berperan sebagai pemimpin bagi siswa

Seorang guru bukan hanya sebagai pengajar atau pendidik, namun ia juga berperan sebagai pemimpin. Sebagai seorang pemimpin, guru bertugas untuk memotivasi, mendukung, dan mendorong peningkatan bersama, baik siswa maupun guru. Sebagai contoh sekolah A.B. Combs adalah sekolah dasar di Amerika Serikat yang mempunyai basis kepemimpinan dalam sistem pengajarannya. Meskipun sederhana, sekolah ini mempunyai banyak SDM unggul. Bahkan Guru-guru disana disebut pioner kepemimpinan siswa. Mereka melibatkan siswa sebagai bagian dari solusi, bukan masalah. Mereka juga mengajarkan bagaimana mengambil keputusan, bergaul secara empatik dan pengelolaan waktu. Muriel Summer adalah wanita dibalik keberhasilan A.B.Combs. Sebelum kepemimpinannya, sekolah ini memiliki citra negatif bagi orang tua. Kemudian ia bertekad menciptakan perubahan dengan fokus pembenahan karakter. Berkat ketekunan dan kedisiplinannya ia berhasil membentuk karakter guru dan siswa yang kuat. Sepertinya seorang guru harus mencontoh kegigihan Summer menyukseskan program tersebut. Ketulusan hatinya menjadi senjata ampuh dalam menghadapi rintangan dan tantangan. Inilah kunci yang mahal dari profesi guru pemimpin, yaitu ketulusan.

Stephen R. Covey menyatakan bahwa terdapat lima dimensi kenapa A.B.Combs mampu membangkitkan budaya kepemimpinan, yaitu perilaku, bahasa, artefak, tradisi, dan kisah yang melegenda. Dimana dimensi tersebut bersinergi satu sama lain. Di minggu awal pembelajaran, A.B.Combs memilih untuk menggunakan sebagai ajang diskusi dan mengolah unsur-unsur kepemimpinan daripada pelajaran kognitif. Dalam prosesnya pun, mereka selalu menggunakan bahasa positif untuk memfokuskan para guru maupun siswa pada hal positif pada diri mereka. Mereka jadi bisa mengapresiasi dan menghargai. Selain itu, ritual kepemimpinan juga dilakukan terus-menerus di lingkungan sekolah. Seperti memberi kesempatan siswa menjadi pemimpin, mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan maupun sekolah, dan menciptakan kenangan abadi bagi siswa. Sekolah juga selalu memberi penghargaan terhadap siswa yang berproses menjadi pemimpin.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Eko Pardiyanto
Eko Pardiyanto

Seorang guru, content creator dan penulis lepas

Artikel: 23

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *