Mengenal Tari Sintren Pemalang Masa Kini, Antara Kesenian Tradisi dan Ritual Mistik

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit. Dalam unsur-unsur tersebut meliputi berbagai hal seperti sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, hingga karya seni.

Karya seni sendiri pada dasarnya terbentuk dari pada manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain terus membuat kelompok-kelompok sosial. Kelompok sosial yang juga banyak di kenal sebagai masyarakat itu, dalam kehidupannya mulai membentuk dan menciptakan kebudayaan. Tentu saja, salah satu bentuk kebudayaan tersebut diwujudkan dalam bentuk-bentuk karya seni, mulai dari kesenian tradisional hingga modern.

Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri, istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai Superorganic.

Beralih dari pemahaman ahli di atas, Andreas Eppink juga menyuarakan pendapatnya mengenai kebudayaan. Pada penuturannya, kebudayaan itu mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial juga religiusitas. Kebudayaan merupakan sebuah pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Merujuk pada pengertian ahli di atas maka dapat di simpulkan bahwa keberagaman masyarakat Indonesia memang sejalan dengan bersarnya kebudayaan yang Indonesia miliki. Salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia adalah kesenian tari. Dari sekian banyak Negara yang ada di dunia, Indonesia memiliki kesenian tari yang sangat beragam dan berjumlah lebih dari 3000 tarian tradisi.

Akan tetapi, saat ini banyak seni tari yang dimiliki Indonesia, tidak terwarisi dengan baik dari generasi ke generasi berikutnya. Perubahan dan perkembangan zaman, hampir mengikis keberadaan banyak seni tari yang ada. Salah satu seni tari yang sudah hampir punah adalah kesenian Sintren Pemalang yang syarat akan ritual mistis yang unik, bagaimana eksistensi Sintren di zaman yang serba modern ini ? Mari simak uraiannya bersama-sama!

Apa Itu Tarian Sintren?

Sintren atau juga dikenal dengan nama Lais adalah sebuah kesenian tari tradisional masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain di daerah Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, Cirebon, Indramayu hingga Jatibarang. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan ritual mistis atau magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sejarah Sintren yang Berbalut Kisah Magis

Kesenian Sintren sendiri memiliki latar belakang berasal dari kisah cinta Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, yang membuat Raden Sulandono patah arang dan memilih pergi bertapa sedang Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun berpisah di dunia nyata namun pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan keduanya diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih dan memanggil roh anaknya, Raden Sulandono yang tengah bertapa. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan Sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya seperti halnya kisah Sulasih dengan Raden Sulandono. Namun ada sebuah catatan penting bahwa hal tersebut hanya bisa di lakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci dan belia, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Jika gadis sudah tidak perawan maka tidak bisa menjadi Sintren, karena Sintren berhubungan dengan bidadari 40. Sebelum menjadi Sintren, sang gadis harus berpuasa dahulu sehari dan melakukan pementasan selama 40 hari. Pada awal kemunculannya, ritual Tari Sintren bahkan di gunakan tidak hanya sebagai media hiburan tetapi sebagai media ritual pemujaan, pemanggilan hujan, penyuburan hasil panen dan banyak lainnya.

Tata Laksana Pertunjukan Tari Sintren, Pemalang

Pada pertunjukan Tari Sintren dilengkapi dengan pemain musik dan nyanyi-nyanyian yang khusus ditunjukan untuk roh ghaib (40 bidadari) yang memasuki badan sang gadis calon Sintren. Ada satu lagu wajib yang harus dinyanyikan saat pertunjukan Sintren yaitu yang berjudul “Solasis Solandana” yang memang diperuntukkan untuk mengundang bidadari 40. Tentu saja untuk iringan lagu tambahan lainnya bisa mengikuti kemauan penonton dan perkembangan genre lagu yang ada.

Pertunjukkan Sintren biasanya dimulai pada saat malam hari antara pukul 20.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB tergantung dari izin masyarakat sekitar yang menjadi tempat pertunjukkan Sintren. Biasanya izin didapat dari Dinas Kebudayaan, Polres, Koramil dan Ketua RT sekitar lokasi Sintren. Perlengkapan dari pertunjukan Sintren, diantaranya adalah :

– Kendang

– Gamelan

– Gong

– Kurungan atau Sangkar

– Kemenyan

– Bunga kamboja

– Bambang

– Saron

Pertunjukkan Sintren akan di awali dengan tembang-tembang yang dinyanyikan oleh para sinden yang dibantu oleh pemain musik lainnya. Jumlahnya sinden biasanya beragam mulai dari 4 hingga 15 orang banyaknya. Setelah lagu-lagu berdendang, gadis calon Sintren yang masih mengenakan pakaian biasa (Kaos dan celana jeans misalnya) kemudian dimasukkan ke dalam kurungan ayam dalam keadaan tangan dan kaki terikat.

Setelah gadis berada di dalam kurungan, kemenyan akan mulai di bakar, sementara para sinden melantunkan tembang yang tujuannya memanggil kekuatan tak kasat mata. Kekuatan inilah yang nantinya akan mengganti dan mendandani busana calon Sintren. Selanjutnya tembang-tembang berikutnya dinyanyikan tujuannya adalah agar ikatan tali pada Sintren bisa terlepas dan busana sang Sintren dapat berubah.

Jika kurungan Sintren sudah terlihat tergetar itu pertanda bahwa sang kekuatan luar telah memasuki sukma si Sintren dan gadis itu betul-betul menjadi Sintren. Sembari tembang-tembang di lagukan, kurungan akan di buka, menampilkan sesosok Sintren berpakaian kebaya cantik khas penari. Selanjutnya sang Sintren akan mulai berlenggak-lenggok menari mengikuti irama gamelan yang dimainkan oleh para penabuh.

Di belakang Sintren nantinya akan nampak seorang wanita tua yang bertindak sebagai pawang. Tugas pawing itu adalah guna menjaga Sintren kalau sewaktu-waktu Sintren itu jatuh pingsan karena tidak sengaja bersentuhan dengan tangan lelaki atau mendapat lemparan uang logam. Suasana pertunjukkan akan kian menarik ketika tampil satu atau dua orang badut yang mengenakan pakaian unik menyajikan banyolan dan tingkah lucu.

Saat melalukan pertunjukkan para penari Sintren tidak dapat merasakan apa-apa dan tidak akan merasa lelah walaupun melakukan tarian secara terus menerus saat musik di mainkan. Hal ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa penari sudah di rasuki oleh bidadari 40 yang bisa memberi kekuatan serta energi tak terbatas. Uniknya, pada gerakan tarian ini sendiri tidak ditentukan, hal ini berjalan dengan sendirinya sesuai dengan kemauan Sintren.

Pakaian yang di gunakan pada Sintren sendiri saat ini cenderung tidak memiliki pakem seperti warna atau atributnya. Hanya saja yang pasti Sintren tetap harus berpakaian sopan berkebaya dan ber-kain jarik. Tak lupa juga mengenakan kembang serta kacamata hitam karena menurut rumornya mata penari akan berubah putih saat kerasukan dan guna dari kacamata hitam adalah untuk menutupi hal tersebut.

Modernisasi Sintren sebagai Kekayaan Leluhur

Modernisasi sebenarnya mampu membuka akses lebar terhadap terjadinya difusi antara budaya asli (inti) dengan budaya yang baru datang (sekunder). Sintren, sebagai suatu kesenian rakyat, juga mengalami perubahan untuk mempertahankan eksistensinya dalam persaingan di dunia hiburan rakyat. Namun, ciri kesederhanaan dari seni pertunjukkan rakyat sampai sekarang tetap menonjol, bila terjadi sotisfikasi (kecanggihan), bukan pada garapannya  tetapi hanya pada citra lahiriahnya saja.

Modernisasi Sintren terjadi pada sisi busana, lagu-lagu, alat musik, dan tempat yang digunakan. Busana yang digunakan, jika dahulu adalah kebaya (pakaian khas wanita jaman dahulu), maka busana sekarang di tambah dengan busana golek (baju tanpa lengan yang biasanya digunakan oleh penari golek). Lagu-lagu yang dilantunkan dan alat musik juga mengalami perubahan seperti mulai menambahkan genre lagu-lagu dangdut maupun campursari yang sedang di minati. Namun ketika Sintren akan memulai berdandan dan pertunjukan akan dimulai, lagu “Solasi Solandana” tetap menjadi lagu wajib.

Tempat yang digunakan sebagai arena pertunjukan juga mulai mengalami perubaahan tidak seperti jaman dulu. Jika dahulu menggunakan tempat terbuka di atas tanah bertikar mendhong (batang rumput rawa), dikelilingi lima buah obor bambu setinggi satu setengah meter yang ditancapkan di atas tanah sebagai penerangan. Kini, setelah modernisasi tempat pertunjukkan dipenuhi dengan lampu-lampu yang terang benderang, di tengah arena pertunjukan tetap dipasang kurungan besar yang ditutup dengan kain beraneka warna.

Melalui berbagai perubahan tersebut, seni pertunjukan Sintren yang saat ini tinggal di masyarakat tidaklah wingit lagi (istilah bahasa jawa untuk menyebut “mistis”), melainkan hanya sekedar hiburan rakyat sebagai wadah mempertahankan seni budaya tradisional. Selain itu, keberadaan pertunjukan seni tradisional tidak hanya akan melenggangkan eksistensi seni tersebut, karena biasanya selama pertunjukan berlangsung akan selalu diiringi dengan keberadaan hiburan rakyat lain.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Evi Putrya
Evi Putrya

Penggemar buku, novel juga puisi. Idealis yg mencoba tetap realistis. Mari saling bertukar energi positif!

Artikel: 12

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *