The Ben Franklin Efect

The Ben Franklin Effect: Disonansi Kognitif yang Mengubah Pemikiran Negatif Menjadi Positif

Dalam menjalani kehidupan, ada beberapa hal yang tidak bisa kita kontrol, salah satunya adalah respon orang lain terhadap diri kita. Pasti ada saja yang tidak menyukai diri kita karena berbagai macam faktor, mulai dari bentuk fisik, kepribadian, hingga status sosial dapat menjadi sumber kebencian seseorang.

Namun, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Pada dasarnya, kita sebagai manusia tidak mempunyai kewajiban untuk menyenangkan semua orang, meskipun rasanya tidak nyaman ‘ya ketika mengetahui ada seseorang yang tidak menyukai kita?

The Ben Franklin Effect

Sumber: pinclipart.com

Terlebih lagi jika kita berada di sebuah situasi ketika harus dilibatkan dalam sebuah kegiatan bersama, misalnya saja proyek pekerjaan atau sukarelawan dengan pihak yang membenci diri kita. Padahal, dibutuhkan kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan yang sama.

Hal tersebut tentunya akan sulit untuk dilakukan, terlebih lagi rasa benci yang dirasakan bisa menjadikan seseorang lebih sensitif dan mengambil keputusan secara subjektif. Lalu, bagaimana solusinya untuk menghadapi permasalahan seperti ini?

Pembahasan Dasar The Ben Franklin Effect

Ada sebuah konsep menarik yang sebenarnya mudah untuk diterapkan, yakni The Ben Franklin Effect. Metode ini sebenarnya terkait dengan ilmu Psikologi yang bernama disonansi kognitif, sehingga dapat dijelaskan secara ilmiah mengapa The Ben Franklin Effect dirasa mampu menjadi solusi terbaik untuk menghadapi rasa benci seseorang terhadap kita.

Konsep ini berasal dari seorang tokoh yang mempunyai pengaruh besar di negara Amerika Serikat, yaitu bernama Benjamin Franklin. Menggeluti banyak profesi sepanjang hidupnya, mulai dari wartawan hingga politisi, menjadikan Franklin dikenal oleh banyak orang dan tentunya ada pihak-pihak yang tidak menyukai dirinya.

The Ben Franklin Effect

Sumber: chickasaw.tv

Penerapan konsep ini dilakukan saat Franklin bermain dengan psikologis orang-orang yang membencinya melalui cara yang sederhana; meminjam buku mereka dan memberikan catatan kecil saat mengembalikannya.  Sebenarnya tidak ada yang spesial, akan tetapi hal yang dilakukan Franklin menjadikan musuhnya bingung dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Rasa tidak nyaman tersebut mendorong orang-orang yang membenci Franklin melakukan hal berbeda karena tindakannya tidak sesuai ekspektasi (dalam artian, seharusnya Franklin juga membenci mereka, akan tetapi justru perilaku Franklin sangat baik dan bersahabat). Disinilah peran disonansi kognitif mendorong perilaku tersebut pada akhirnya menjadi muncul.

Penjabaran Sumber Pendukung The Ben Franklin Effect

1. Reexamining a Pivotal Theory in Psychology

Dikutip dari pernyataan Harmon, Jones, dan Mills dalam buku “Reexamining a Pivotal Theory in Psychology, Secon Edition” menyatakan bahwa teori disonansi kognitif yang dicetuskan oleh Leon Festinger ternyata memberikan pengaruh yang besar terhadap pembelajaran ilmu Psikologi Sosial.

Festinger menambahkan bahwa teori ini dimulai dari pasangan kognisi yang menjadi bagian dari elemen pengetahuan manusia dapat berada di dua kondisi berbeda, yakni relavan dan tidak relavan (saling terkait satu sama lain).

The Ben Franklin Effect

Sumber : 123rf.com

Jika terdapat dua konsep kognitif yang mempunyai perbedaan (ambil contoh dari kasus Franklin yang memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik), maka salah satu pihak akan merasa tidak nyaman dan berusaha untuk menghilangkan perasaan tersebut.

Kesimpulannya, The Ben Franklin Effect atau disonansi kognitif dialami oleh seseorang karena merasakan dua hal berbeda di satu waktu yang bersamaan, baik yang dirasakan maupun dipikirkan, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dan berusaha untuk mencari jalan keluar supaya dapat mengurangi atau menghilangkan perasaan tersebut.

The Ben Franklin Effect

Sumber: clipartkey.com

Mari ambil contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada seseorang yang sangat baik terhadap kita, mulai dari memberikan hadiah hingga selalu membantu ketika mengalami kesusahan. Namun, respon kita selalu cuek atau mungkin saja tidak suka dengan orang tersebut dengan berbagai alasan. Tapi, apakah kita akan terus menerus berperilaku seperti itu?

Pasti ada sedikit rasa ketidaknyamanan saat mempertahankan perilaku yang berlawanan seperti itu, bukan? Terlebih lagi jika kita sering memarahi, mengusir, bahkan mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang tersebut, akan tetapi dirinya tetap saja melakukan perilaku positif terhadap kita.

Hingga akhirnya, meskipun perlahan, kita mulai menyelaraskan perilaku diri sendiri supaya dapat menghilangkan perasaan tersebut dengan cara melakukan hal yang serupa. Disinilah peran disonansi kognitif yang diterapkan oleh Franklin.

The Ben Franklin Effect

Sumber: stock.adobe.com

Melanjutkan dalam pembahasan buku tersebut, disonansi kognitif akan muncul ketika seseorang sudah mulai memutuskan suatu pilihan, terutama pada paradigma (cara pandang) di situasi ketika seseorang mempunyai kebebasan dalam memilih sesuatu atau istilahnya disebut dengan the free choice of paradigm.

The free choice of paradigm merupakan sebuah eksperimen yang dicetuskan oleh Jack William Brehm untuk menguji prediksi mengenai pengaruh disonansi kognitif terhadap keputusan yang dipilih seseorang.

Dalam proses penelitiannya, Brehm melibatkan responden wanita dan dihadapkan untuk memilih barang-barang dengan jenis yang berbeda. Para wanita diminta untuk memilih dua barang yang sekiranya memenuhi atau mendekati keinginan mereka dan dua barang yang kemungkinan besar tidak akan dipilih pada akhirnya.

 

The Ben Franklin Effect

Sumber: all-free-download.com

Dari hasil eksperimen tersebut menyatakan bahwa ketika berada pada kondisi tersebut, justru wanita mengalami kesulitan dalam melakukan evaluasi barang yang mereka pilih dan tolak. Secara garis besar, produk yang dipilih tentunya menarik minat dan memenuhi keinginan pribadi, bukan? Akan tetapi para wanita tidak bisa memberikan nilai positif yang lebih tinggi dibandingkan dengan asumsi sebelumnya.

Hal ini juga berlaku saat melakukan evaluasi terhadap barang yang paling tidak diinginkan wanita, sehingga tidak dimasukkan ke dalam daftar pilihan. Faktanya,  para wanita juga tidak mampu memandang barang tersebut lebih negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa free-choice of paradigm tidak serta merta memberikan kemudahan dalam menentukan sebuah pilihan.

2. Liking a Person as a Function of Doing Him a Favor

Ternyata, penerapan The Ben Franklin Effect juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam jurnal yang ditulis oleh Jon Jecker dan David Landy berjudul “Liking a Person as a Function of Doing Him a Favor” menjelaskan bahwa ketika seseorang memperlakukan pihak yang mereka tidak sukai secara positif, hal tersebut menjadi upaya untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan (disonansi kognitif)

Perlakuan positif tersebut akan semakin kuat untuk muncul ketika apa yang dipikirkan oleh orang tersebut pada kenyataannya sangat berbeda dengan kenyataannya. Ketika rasa benci muncul, pihak yang meraskan hal negatif tersebut berasumsi bahwa orang yang dibencinya tidak akan memberikan keuntungan dalam aspek apapun.

Namun, ketika pada kenyataannya pihak yang dibenci oleh orang tersebut justru paling berkontribusi dalam hidupnya, dalam artian seperti memberikan bantuan materi (barang) dan moril (dukungan semangat, pendengar yang baik, dan pemberi solusi), terdapat distraksi dalam pikiran dan kebimbangan dalam berperilaku “Apakah harus tetap bersikap positif atau negatif ?”.

The Ben Franklin Effect

Sumber: restaurants-guide.tokyo

Hingga akhirnya, orang tersebut memutuskan untuk bersikap positif kepada pihak yang dibencinya, misalnya saja seperti menyapa dengan ramah, membantu mengantarkannya ke suatu tempat, hingga membuatkannya masakan favoritnya.

Meskipun terlihat bertentangan antara pikiran dan perasaannya, akan tetapi perilaku positif tersebut sebagai bentuk upaya dalam mengurangi efek The Ben Franklin Effect (disonansi kognitif), sehingga orang tersebut mempunyai keyakinan bahwa perilaku tersebut memang sepadan dan seharusnya dilakukan yang memberikan efek rasa nyaman serta hilangnya rasa gelisah.

The Ben Franklin Effect yang dirasakan seseorang ternyata mampu mendorong perubahan besar terhadap sebuah hubungan sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemikiran negatif dapat diubah menjadi positif asalkan dengan pendekatan yang baik dan benar.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Lia Rahma Pradhita
Lia Rahma Pradhita

Drowned sun.

Artikel: 8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 1 =