ideologi pasifisme

Ideologi Pasifisme: Ketika Perdamaian Sebagai Solusi untuk Pertikaian

Terkadang, pertentangan dan perbedaan pendapat menjadikan banyak pihak mengalami perselisihan yang berujung pada pertikaian, ya? Terlebih lagi jika sudah menyangkut permasalahan wilayah kenegaraan, peperangan pun pada akhirnya tidak bisa dihindari. Maka dari itu, permasalahan seperti ini yang ditekankan oleh penganut ideologi pasifisme.

Pasalnya, bagi yang mengaplikasikan ideologi pasifisme dalam hidupnya, setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang lebih baik. Lalu, apa yang menjadikan pasifisme begitu dibutuhkan dalam kehidupan saat ini?.

Apa itu Ideologi Pasifisme?

ideologi pasifisme

Sumber: responsiblebusiness.com

Secara garis besar, pasifisme merupakan ideologi yang mengutamakan aspek perdamaian. Selain itu, ideologi pasifisme juga menanamkan keyakinan terhadap opposition of  war atau menentang adanya peperangan yang sering digunakan sebagai media penyelesaian masalah.

Sama seperti artinya, pasifisme diambil dari dua bahasa Latin yang mempunyai makna “perdamaian” (paci) dan “membuat” (ficus). Sebenarnya, pasifisme sudah diterapkan pada orang-orang zaman dahulu, akan tetapi istilah ini baru digunakan pada abad ke-19.

Umumnya, paham pasifisme lebih banyak dilandaskan pada keyakinan agama untuk menyayangi satu sama lain dan menghindari pertikaian. Sebab, pertikaian yang terjadi untuk menyelesaikan permasalahan justru lebih banyak menimbulkan masalah baru kedepannya.

Ideologi pasifisme pun terbagi lagi menjadi dua bagian, yakni untuk kubu pragmatis dan deontologis. Kedua hal tersebut pada dasarnya mempunyai satu tujuan yang sama, yakni perdamaian, akan tetapi pola pikirnya sedikit berbeda.

Pada kaum pasifis pragmatis, mereka berusaha mencari cara alternatif untuk menyelasikan sebuah permasalahan, asalkan tidak mengandalkan peperangan. Keyakinan adanya “cara lebih baik” menjadikan kaum pasifis pragmatis fokus terhadap solusi supaya menghindari pertikaian.

Sedangkan penganut pasifis deontologis lebih fokus terhadap “inti permasalahan” yang harus dihindari, yakni keyakinan bahwa tindakan peperangan dan melibatkan kekerasan di dalamnya yang ternyata didorong oleh faktor keterpaksaan, merupakan hal yang tidak dapat ditoleransi.

Jurnal Penelitian Terkait Ideologi Pasifisme Dalam Sejarah

ideologi pasifisme

Sumber: eventfinda.co.nz

Terdapat beberapa jurnal penelitian yang membahas terkait pasifisme, khususnya dalam hubungan negara secara internasional.  Supaya kita lebih mudah memahami ideologi pasifisme di dalam kehidupan sehari, mari kita telisik secara sederhana terkait jurnal-jurnal di bawah ini.

1.      Kebijakan Luar Negeri Jepang dan Pasifisme

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Rafiqa Nur’aini Al Hakim berjudul “Gerakan Massa Pendudukan Amerika di Jepang” menyatakan adanya pengaruh ideologi pasifisme dalam peristiwa ini terhadap kaum konservatif masyarakat di Negeri Sakura.

Lebih lanjut, pada saat Amerika melakukan penjajahan di negara Jepang pada tahun 1945-1952, dipimpin oleh Douglas MacArthur yang memegang jabatan sebagai jendral dengan kedudukan panglima tertinggi di Supreme Commander for the Allied Power (SCAP).

Selama masa penjajahan di negara Jepang, Amerika berupaya untuk menanamkan sistem demokrasi dan melengserkan segala aspek yang sebelumnya dianut oleh masyarakat Jepang. Misalnya saja seperti sistem pemerintahan, pendidikan, hingga politik.

Ternyata, jika ditelisik pada pasal 9 tertulis bahwa Jepang melakukan penolakan terkait kegiatan perang untuk selama-lamanya dalam penyelesaian konflik dan menginginkan perdamaian berskala internasional, serta menolak penggunaan kekuatan militer secara paksa. Hal ini tentunya sesuai dengan ideologi pasifisme yang meninginkan perdamaian.

Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa perjuangan Amerika menekan negara Jepang untuk melepas ideologi pasifisme, justru menjadikan negara ini semakin tidak menyukai tindakan peperangan dan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan cara melakukan demo berskala besar.

2.      Pendudukan Amerika di Negara Jepang

Pembahasan terkait ideologi pasifisme di negara Jepang juga dibahas dalam jurnal karya Dinda Arumsari Laksono dengan judul “Pengaruh Idiosinkratik Shinzo Abe Terhadap Upaya Perubahan Kebijakan Luar Negeri Jepang dan Pasifisme Idealis Menjadi Pasifisme Proaktif”. 

Pada jurnal tersebut dijelaskan gambaran umum mengenai pengaruh Shinzo Abe yang menjabat sebagai perdana menteri dan memberikan pengaruh besar pada keyakinan sudut pandang yang dianut oleh negara Jepang.

Sejarah Jepang telah menuliskan bahwa ideologi pasifisme telah diterapkan setelah terjadinya Perang Dunia II yang menjadikan negara ini mengalami keterpurukan. Kekalahan yang dialami negara Jepang saat itu menjadikan tercetusnya pasal 9 terkait peperangan.

Singkatnya, pasal 9 menuliskan secara nyata bahwa negara Jepang menolak untuk melakukan perang selama-lamanya sebagai tujuan untuk mencapai kedaulatan para rakyat. Maka dari itu kekuatan militer dari darat, udara, dan laut tidak dipertahankan oleh pemerintah Jepang.

Saat Shinzo Abe memegang pengaruh besar pada sistem pemerintahan Jepang, pria kelahiran Tokyo, 21 September 1954 ini berusaha untuk mengubah sudut pandang ideologi Jepang yang masih memegang teguh “pasifisme idealis” menjadi “pasifisme proaktif”

Hal ini dilakukan oleh Abe karena dirinya ingin Jepang mengambil peran penting sebagai negara yang mempunyai kekuatan militer dan menjadikannya lebih baik lagi , khususnya dalam kontribusi menjaga pertahanan keamanan melalui pasukan angkatan lautnya.

Dorongan perubahan ideologi menjadi pasifisme ini juga dilakukan Abe karena melihat faktor eksternal, yakni bertambahnya kekuatan Tiongkok di kawasan Asia Timur. Tentu, Abe ingin menjadikan negara Jepang unggul tanpa harus meninggalkan ideologi pasifisme yang telah dianut sebelumnya.

Tokoh-Tokoh Penganut Ideologi Pasifisme

Ternyata, ideologi pasifisme tidak hanya digunakan oleh negara saja. Lebih dari itu, banyak sekali para tokoh-tokoh terkenal di dunia yang menjadi seorang pasifis dan menentang adanya perang, serta mengutamakan perdamaian dunia untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

1.      Tenzin Gyatzo

ideologi pasifisme

Sumber: indozone.id

Menjadi seorang raja (Dalai Lama) di kawasan Tibet, menjadikan Tenzin Gyatzo sebagai panutan masyarakat Tibet dengan mengedepankan ideologi pasifisme. Sebagai seseorang yang menganut ajaran Budha, Gyatzo benar-benar menerapkan konsep agama yang diyakininya.

Agama Budha mengajarkan setiap umatnya untuk tidak terlibat dalam konflik dan meminimalisir permasalahan yang dapat diselesaikan secara baik-baik tanpa harus menggunakan kekerasan. Hal tersebut sejalan dengan prinsip ideologi pasifisme, bukan?

Jika melakukan kilas balik terkait perjuangan Gyatzo sebagai Dalai Lama, beliau memperjuangkan kemerdekaan rakyat Tibet setelah Tiongkok melakukan rencana penguasaan wilayah secara utuh dan menjadikan dirinya diasingkan ke kawasan India, yakni di bagian Dharamsalah.

Ideologi pasifisme yang diyakini oleh Gyatzo menjadikan fokus ajarannya kepada banyak khalayak tertuju pada kasih sayang dan belas kasih antar sesama. Selain itu, Gyatzo juga mengajarkan toleransi antar manusia karena dianggap sebagai landasan yang kuat untuk menciptakan keselarasan hidup manusia.

2.      Nelson Mandela

ideologi pasifisme

Sumber: aa.com.tr

Nelson Mandela merupakan mantan presiden Afrika Selatan yang menjabat pada tahun 1994-1999. Dikenal sebagai tokoh yang menyuarakan perdamaian, Mandela berani melantangkan suaranya saat Afrika Selatan mengalami penjajahan oleh Amerika Serikat.

Sebagai salah satu pasifis, Mandela memperjuangkan hak masyarakat kulit hitam yang mengalami penindasan oleh kaum penjajah berkulit putih melalui perbudakan pada awal abad ke-18. Hal ini dikarenakan masyarakat Afrika Selatan mengalami rasisme, ditambah lagi dengan kondisi perekonomian pada saat itu mengalami perkembangan yang sangat buruk.

3.      Woodrow Wilson

ideologi pasifisme

Sumber: theconversation.com

Dikenal sebagai presiden Amerika Serikat yang menjabat pada awal abad ke-19, Woodrow Wilson tidak hanya dikenal sebagai pasifis, akan tetapi juga sebagai sosok religius karena termasuk dalam Presbiterian, yaitu orang-orang dalam persatuan gereja Kristen Protestan.

Wilson adalah salah satu dari sekian banyak tokoh pasifisme yang menjunjung tinggi perdamaian, dan salah satu perjuangannya adalah menciptakan Liga Bangsa-Bangsa (yang saat ini mempelopori adanya PBB) serta menjadikan Wilson mendapatkan penghargaan Nobel di tahun 1919.

Selama menjabat sebagai presiden, Wilson benar-benar memposisikan Amerika Serikat sebagai negara yang tidak memihak siapa pun (netral). Hal ini dikarenakan Wilson tidak ingin Amerika Serikat terlibat dalam peperangan, terlebih lagi saat adanya Perang Dunia I mulai dicetuskan.

Adanya ideologi pasifisme menjadikan kita sadar bahwa masih ada pihak di luar sana yang ingin menyelaraskan hidup tanpa adanya pertikaian dan peperangan, sehingga kehancuran yang lebih fatal dapat diantisipasi. Jadi, apakah diantara kita ada yang tertarik untuk memaknai ideologi pasifisme dalam kehidupan sehari-hari?

 

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Lia Rahma Pradhita
Lia Rahma Pradhita

Drowned sun.

Artikel: 8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 32 = 33