Mengenal Detoks Gadget: Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Anak

Tidak dipungkiri bahwa gadget sudah menjadi bagian hidup dalam masyarakat. Berbagai kemudahan mulai dari mendapatkan informasi, komunikasi, hingga pekerjaan bisa dilakukan dengan gadget. Namun kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa selain memberikan banyak manfaat, gadget juga memiliki risiko yang dapat berdampak buruk jika penggunaannya tidak tepat, terutama bagi anak-anak. Oleh karena itu mengetahui apa saja dampak tersebut dan bagaimana cara mengatasinya.

Sumber gambar: Pixabay

Detoks gadget sebagai pilihan terakhir mengatasi kecanduan gadget

Cara lain yang bisa dipergunakan untuk membebaskan anak dari ketergantungan pada gadget adalah dengan cara melakukan detoks gadget. Detoks gadget lebih ekstrim dari pada diet gadget, sehingga bisa menjadi pilihan terakhir dalam hal mengatasi ketergantungan pada gadget. Jika sudah memutuskan mempergunakan cara ini, artinya harus membuat anak sama sekali tidak mempergunakan gadget. Anak tidak bisa menghubungi sewaktu-waktu, ia juga tidak bisa membuat tugas dengan mengandalkan internet yang diakses melalui gadget, bahkan ia akan ketinggalan informasi terkini yang disebarkan melalui laman yang diakses melalui gadget dan harus siap membantu untuk mengatasi hal tersebut. Dengan cara ini diharapkan otak terlepas dari pengaruh gadget. Selama kita mempergunakan gadget, maka akan ada 6 jenis neurokimia (serotonin, endorfin, oksitoksin, dopamin, adrenalin, dan kortisol) yang dilepaskan.

Detoks gadget akan mengembalikan otak sesuai dengan kondisi dunia nyata, sehingga anak akan terbebas dari ketergantungan akan gadget. Selain itu, detoks gadget juga akan membuat dampak positif pada tubuh. Seperti, postur tubuh anak akan lebih baik karena tidak selalu berada dalam posisi bungkuk memperhatikan gadget. Tidur juga menjadi lebih teratur karena tidak menghabiskan banyak waktu dengan gadget dan stres otomatis juga akan menghilang. Anak akan kembali memiliki koneksi dengan dunia sekitar lagi. Ia juga akan kembali berinteraksi dengan orang sekitar yang selama ini terabaikan. Anak akan memiliki waktu lebih banyak bagi diri sendiri hingga bisa menggali potensi yang ia miliki guna memunculkan sebuah karya. Otak juga menjadi lebih kreatif. Terpenting, ia akan memahami makna dari penggunaan gadget secara bertanggung jawab.

Menyadari pentingnya detoks gadget, beberapa negara sudah mulai membangun pusat detoks gadget. Antara lain India, Aljazair, China, Korea Selatan, serta Amerika Serikat. Di China, kecanduan gadget telah menjadi krisis kesehatan nasional sehingga harus segera diatasi. Tidak heran sejak tahun 2008 sudah ada 250 pusat rehabilitasi gadget ala kamp militer dengan nama IATC (Internet Addiction Treatment Center).

Pertimbangkan sebelum memutuskan memberikan gadget pada anak

Memasuki era Revolusi industri 4.0, banyak orang menggunakan gadget untuk berbagai aktivitas. Gadget atau gawai yang dimaksud antara lain adalah telepon pintar, tablet, dan notebook. Setiap gadget tersebut memiliki fungsi utama masing-masing. Misalnya, telepon pintar untuk memudahkan komunikasi dengan menelepon dan mengirim pesan. Tablet dan notebook untuk membuat surat-surat, mengedit, mendesain, dan lain-lain. Selain itu, ada fungsi sekunder yang tergantung pada masing-masing perangkat dan penggunanya. Misalnya, fungsi sekunder bagi pengusaha seperti dapat bertransaksi secara daring. Sedangkan fungsi sekunder bagi pelajar, seperti untuk mendengarkan musik dan membantu menyelesaikan tugas.

Disamping manfaat, gadget ternyata juga membawa dampak yang berbahaya jika tidak dipergunakan secara bijak. Aneka kemudahan yang ditawarkan malah bisa membuat orang menjadi tergantung. Mereka seakan jika tidak melihat atau jauh dari gadget membuatnya menjadi tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti kecanduan yang tidak bisa lepas jika tidak menggunakannya. Seperti, tidak sedikit kasus anak yang kecanduan gadget, di mana mereka bermain game hingga tidak kenal waktu, lupa makan, lupa belajar, bahkan mereka melakukan tindakan kriminal karena kecanduan gadget. Namun, ada juga anak yang karena gadget bisa membuat mereka lebih bersemangat belajar, mudah mendapatkan prestasi, dan lain-lain. Karena itu pertimbangkan sebelum memberikan gadget pada anak. Lihat sisi manfaat dan kerugian yang bisa diakibatkan oleh gadget.

Kenali gejala kecanduan gadget pada anak sejak dini sebelum terlambat

Coba perhatikan anak-anak di sekitar kita dengan seksama, simak tanda-tanda berikut ini seperti: Apakah mereka begitu asyik hingga menghabiskan banyak waktu dengan gadget? Kemudian, apakah mereka sering mempergunakannya waktu dan tempat yang tidak lazim? Seakan begitu enggan terpisah dari gadget yang ia miliki. Lalu, apakah mereka lebih suka berinteraksi melalui gadget daripada berbicara langsung dengan orang? Biasanya mereka akan merasa kesal jika diminta meletakkan gadget ketika sedang berbicara dengan orang tuanya. Bahkan ketika harus melakukan hal penting seperti makan. Tanda lain juga, seperti ia selalu meletakkan gadget dimana ia bisa melihatnya dengan jelas seakan ia akan kehilangan informasi penting jika terlalu lama tidak mengecek gadget-nya. Jika ia tidak melihat gadget, kepanikan akan terlihat jelas pada wajah dan tingkah lakunya yang merasa gelisah. Lalu ketika ia menemukannya, terpancar rasa nyaman dari wajahnya.

Bagaimana? Apakah menemukan hal tersebut dalam diri anak? Jika demikian maka ia sudah terkena nomophobia, yakni rasa ketakutan beraktivitas sehari-hari tanpa gadget. Sudah waktunya untuk mengambil tindakan guna menyembuhkan anak dari kecanduan. Sekarang, atau akan menyesal kelak jika sudah terlambat. Seperti diketahui, bahwa ada dua dampak negatif kecanduan gadget. Pertama dampak fisik, ditandai dengan mulai terasa kurang nyaman pada bagian tubuh tertentu. Seperti mata yang mudah lelah, kering, dan terjadi gangguan penglihatan. Kedua, dampak psikis. Seperti kurang pandai bersosialisasi, cenderung merasa kesepian yang bisa memicu depresi dan stres, dan kurang fokus serta mudah cepat emosi.

Tips untuk orang tua dan guru dalam mencegah serta mengatasi kecanduan gadget pada anak

Perlu dipahami bersama antara orang tua dan lingkungan beserta guru di sekolah, bahwa tujuan membatasi anak menggunakan gadget adalah untuk kepentingan dan kebaikan si anak sendiri. Dengan demikian kerja sama kedua belah pihak sangat dibutuhkan. Banyak cara yang bisa ditempuh, pertama jadikan orang tua dan guru sebagai role model. Dengan demikian anak-anak akan mengikuti perilaku bertanggung jawab dalam penggunaan gadget. Jangan mengangkat telepon genggam saat sedang makan malam bersama sebagai contoh. Guru juga tidak sibuk sendiri dengan gadget di kelas dengan alasan mencari materi sementara siswa dibiarkan belajar sendiri. Diskusi dengan anak kapan ia berhak mempergunakan gadget, sebagai tanda bahwa menganggap hal ini penting bagi semua pihak. Buat komitmen dengan anak berikut sanksi yang diberikan jika ia melanggar. Coba untuk buat daerah bebas gadget di rumah, dimana anak dan kita akan berinteraksi tanpa ada gadget sama sekali.

Di sekolah, guru bisa berperan dengan berbagai cara, seperti menerapkan aturan tentang penggunaan gadget. Meminta siswa menyimpan gadget dan hanya mengijinkan pemakaian saat istirahat. Jika ada yang melanggar bisa diberikan sanksi. Untuk keperluan mendesak, orang tua bisa menghubungi pihak sekolah. Melakukan pengawasan pada situs yang tidak sesuai dengan anak. Sekolah bisa melakukan blokir pada situs tertentu. Berikan pengarahan mengenai situs yang lebih bermanfaat pada siswa. Selain itu, guru juga mulai mempergunakan alternatif sumber informasi selain dari gadget. Dan, penting untuk memberi pemahaman pada anak akan bahaya mempergunakan gadget terlalu lama. Dengan demikian anak akan mengikuti aturan yang dibuat karena sadar akan bahaya, bukan sekadar menurut semata karena takut tidak diberikan izin untuk mempergunakan gadget lagi.

Diet gadget, ternyata tidak semudah yang dikira namun harus dilakukan demi kebaikan anak

Jika kita sudah berani mengambil langkah penting untuk membuat anak mengurangi pemakaian gadget, diet gadget. Maka kita telah menunjukkan kualitas kasih sayang sebagai orang tua. Sulit memang tapi percayalah tujuannya untuk kebaikan anak. Mulai dengan menentukan waktu maksimal yang bisa diperoleh anak untuk menggunakan gadgetnya. Sekaligus kapan waktu anak boleh mempergunakannya. Misalnya, 2 jam tiap pagi dan 2 jam setiap sore pada hari libur. Pasang aplikasi pengontrol waktu di gadget sebagai pengingat. Menyingkirkan aplikasi yang membutuhkan waktu lama seperti game online. Membatasi aplikasi yang tidak sesuai dengan umur anak. Memilih aplikasi yang dapat memberikan banyak manfaat seperti portal berita yang terpercaya. Jika anak memohon untuk membuka aplikasi baru, teliti terlebih dahulu sebelum diberikan izin. Namun, jika terpaksa anak membuka situs tertentu seperti Youtube dan sosial media, penting untuk tetap mendampingi anak. Awasi sehingga anak tidak sempat menemukan hal-hal yang belum sesuai dengan usianya. Kemudian, diskusikan apa yang telah mereka peroleh ketika mereka mengunjungi situs tersebut.

Walau mudah diucapkan, praktiknya tidak seperti membalik telapak tangan. Anak akan merengek hingga melakukan berbagai cara agar bisa mempergunakan gadget sesuka mereka. Oleh karena itu penting untuk memastikan kita bisa bersikap tegas dengan komitmen diet gadget ini. Kita harus kuat jika ingin yang terbaik bagi anak. Dengan mengurangi pemakaian gadget, kerugian secara fisik dan psikis perlahan bisa diatasi. Keluhan sakit kepala dan pegal mulai berkurang. Konsentrasi meningkat hingga nilai membaik. Hargai usaha anak Anda melakukan diet gadget, misalnya membelikan makanan kesukaan, memberikan buku yang diinginkan. Apapun, asal bukan permintaan tambahan waktu penggunaan gadget.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Eko Pardiyanto
Eko Pardiyanto

Seorang guru, content creator dan penulis lepas

Artikel: 23

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 + 2 =