Self Efficacy, Aspek Kognitif yang Perlu Dimiliki Setiap Karyawan

sumber gambar: unsplash.com

Dalam dunia kerja, ada beberapa aspek kepribadian yang perlu diterapkan dalam diri setiap karyawan. Salah satu aspek yang berperan penting dalam menunjang produktivitas dan motivasi kerja yaitu self afficacy.

Menurut Dewi & Dewi (2018), self efficacy atau afeksi diri merupakan suatu aspek yang dapat meningkatkan kapabilitas komunikasi dan keyakinan diri dalam melakukan berbagai tugas yang dibebankan. Sehingga, mobilitas perusahaan dapat berjalan lebih optimal dan kepuasan kerja dapat tercapai dengan maksimal.

Self efficacy merupakan suatu keyakinan yang dimiliki oleh seseorang bahwa ia mampu menerapkan perilaku yang diperlukan pada situasi tertentu. Self efficacy juga termasuk wujud dari keyakinan diri bahwa ia mampu dalam menguasai jobdesk yang didapatkannya.

Self efficacy mampu menciptakan kebiasaan yang positif, di mana orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi akan lebih mampu menguasai tugasnya. Hal ini pun juga berdampak pada meningkatnya produktivitas kerja hingga mencapai hasil yang diinginkan dan menjadi karyawan berprestasi di instansi yang dinaungi.

Self Efficacy dan Stoisisme

sumber gambar: unsplash.com

Menurut Lianto dalam Jurnalnya yang berjudul Self efficacy : A Brief Literature Review (2019), konsep self efficacy berdampak positif pada efektivitas berbagai aktivitas hidup, baik dari sudut pandang individual maupun organisasional. Lebih lanjut lagi, Lianto mengemukakan bahwa seorang individu yang mempunyai kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuannya akan lebih berupaya keras untuk melibatkan diri dengan berbagai kegiatan organisasi.

Seseorang yang memiliki kemampuan kognitif tersebut juga akan mampu melihat berbagai hambatan atau peluang menjadi sebuah tantangan yang harus dilalui. Lianto mendeskripsikan bahwa self efficacy merupakan sebuah cara berpikir yang memandang kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda.

Jika ditelisik lebih lanjut,self efficacy memiliki hubungan yang erat dengan stoisisme. Stoisisme merupakan salah satu paham filsafat yang berasal dari Romawi Kuno. Menurut Henry Manampiring (2018), stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari hal-hal yang dapat kita kendalikan; persepsi, pikiran dan pertimbangan kita sendiri. Apabila kita merasa pesimis dan merasa tidak mampu melakukan suatu hal—merasa tidak mampu dan payah—maka yang menjadi masalah sebetulnya bukanlah hal eksternal, tetapi pikiran dan persepsi kita sendiri.

Stoisisme juga memiliki cara pandang bahwa segala sesuatu pasti ada sebab-akibatnya. Hal ini membuat kita menghindari pikiran-pikiran negatif yang dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jika kembali dihubungkan dengan self efficacy, Lianto (2019) memaparkan bahwa orang yang memiliki self efficacy tinggi memandang masalah sebagai tugas yang harus ditakhlukkan. Selain itu, orang dengan self efficacy tinggi akan lebih sering terlibat secara intensif dalam tugas maupun tanggung jawab tertentu, menumbuhkan komitmen yang tinggi pada pekerjaannya serta cepat bangkit ketika terpuruk. Dengan kata lain,self efficacy termasuk salah satu bagian dari filsafat stoisisme yang memberikan solusi sebagai cara berpikir yang rasional dan positif.

Peranan Self Efficacy dalam Dunia Kerja

Bandura dalam Lianto (2019) mengemukakan bahwa self efficacysuatu aspek yang dapat menentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini tentunya akan memiliki banyak dampak jika diimplementasikan dalam dunia kerja. Adapun peranan self efficacytersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Membantu untuk mengambil sikap atau tindakan: memilih tugas yang sekiranya dapat dikuasai dengan kemampuannya.
  2. Menentukan besarnya usaha dan perjuangan dalam menghadapi hambatan.
  3. Membantu menentukan cara berpikir dan bereaksi secara emosional.
  4. Lebih giat terlibat dalam berbagai aktivitas organisasi.

Faktor Penting Pembentuk Self Efficacy

sumber gambar: unsplash.com

Jika merujuk pada konsep Bandura, terdapat empat faktor penting membentukself efficacy pada diri setiap individu. Adapun keempat faktor tersebut diantaranya sebagai berikut:

Pengalaman keberhasilan

Sumber self efficacyini merupakan pengalaman keberhasilan yang sebelumnya pernah dicapai oleh diri sendiri. Jika seseorang pernah sukses dalam mengerjakan suatu tugas di suatu bidang, maka ia akan mampu membangun kepercayaan diri dalam bidang tersebut. Sebaliknya, apabila ia pernah gagal dalam  melakukan tugas, maka keyakinan dan kepercayaan dirinya akan luntur pada bidang tersebut.

Pengalaman orang lain

Bukan hanya berasal dari pengalaman pribadi, self efficacy juga dapat terbentuk melalui pengamatan pada pengalaman orang lain yang menjadi panutan. Pengalaman keberhasilan yang dicapai orang lain dapat menjadi motivasi dan acuan tersendiri bahwa Anda mempunyai kemampuan yang sama dan berkesempatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Persuasi Sosial atau Verbal

Faktor lain yang menjadi pembentukself efficacyyaitu berasal dari persuasi sosial. Hal ini dapat terjadi jika seseorang meyakinkan bahwa diri Anda mampu melakukan tugas tertentu. Tentu saja, bentuk persuasi ini akan mampu mendorong Anda untuk tidak menyerah dan akan terus berupaya dalam mengasah ketrampialn Anda.

Kondisi Emosional dan Psikologis

Percaya atau tidak, kondisi fisik, psikologis maupun emosional dapat berpengaruh terhadap kemampuan self efficacy Anda. Contohnya, seseorang yang memiliki depresi akan cenderung kurang yakin pada kemampuan dirinya. Mereka yang memiliki gangguan psikologis seperti bipolar, anxiety, dan lain-lain cenderung berpikiran pesimis dan memandang kegagalan sebagai suatu keniscayaan.

Meskipun demikian, tidak semua orang yang mengalami gangguan psikologis, fisik dan emosional mempunyai tingkat self efficacy rendah. Beberapa dari mereka masih mampu mengendalikan diri dan berbaur dengan organisasi dan menjalankan pekerjaan sebagai upaya memompa kepercayaan diri dan kemampuan di bidang tertentu.

Itulah penjelasan mengenai self efficacy yang sangat penting dimiliki oleh setiap karyawan. Jika para karyawan mempunyai kemampuan self efficacy yang tinggi, maka hal ini tidak hanya berdampak baik bagi diri sendiri, melainkan juga untuk perusahaan. Sehingga, kesempatan Anda untuk mencapai kesuksesan dan peningkatan jenjang karir akan semakin besar.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Dilla Hardina
Dilla Hardina

seorang penulis yang memiliki baground pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. memiliki minat yang lebih di dunia sastra, teknologi dan digital marketing. dapat dihubungi melalui surel dillahardina8@gmail.com

Artikel: 15

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *