Mengenal Sisi Lain dari Kepribadian Manusia Melalui Pemahaman Akan Anima dan Animus

Anima dan animus yang ada dalam diri manusia sudah dimiliki sejak dahulu kala. Namun, tidak semua orang menyadari sebab anima dan animus merupakan pikiran bawah sadar manusia dalam memahami manusia yang lain. Umumnya, bagi laki-laki, anima adalah sosok feminim. Bagi perempuan, sosok yang ekuivalen dengan anima—dinamakan animus—bersifat maskulin. Anima dan animus adalah kepribadian subjektif yang mewakili tangga bawah sadar yang lebih dalam daripada shadow. Entah baik atau buruk, mereka menunjukan aspek-aspek jiwa manusia dan mengantarkan kita ke alam bawah sadar kolektif. Sebagai aspek feminim bagi laki-laki dan aspek maskulin bagi perempuan, anima dan animus berfungsi sebagai pasangan lawan (syzygy) dalam pikiran tidak sadar keduanya, dan secara mendalam memengaruhi relasi semua kaum laki-laki dan perempuan satu sama lain.

Anima dan animus dalam konteks psikologi ketidaksadaran merupakan bagian dari arketipe. Anima sebagai elemen perempuan yang terdapat dalam diri laki-laki bisa digunakan untuk memahami sisi feminim dalam diri. Melalui pemahaman yang mendalam tentang sisi feminim dalam diri laki-laki, laki-laki bisa memahami perempuan melalui bantuan elemen lain yang terdapat dalam diri. Sebaliknya, ketika seorang perempuan memahami seorang laki-laki, dia akan memanfaatkan animus yang terdapat dalam dirinya. Melalui animus tersebut seorang perempuan bisa memahami laki-laki melalui sisi maskulinitas yang dimilikinya. Melalui keduanya, baik anima ataupun animus, psike manusia bisa menjadi lebih baik sebab mereka bisa mengenali dan mengendalikan dirinya terkait dengan interaksi dengan individu yang lain.

Dalam menjelaskan pengertian anima/animus, Jung menyandingkannya dengan persona: “Persona, secara ekslusif, mengurusi hubungan terhadap objek”, sementara anima/animus mengurusi hubungan ego terhadap subjek. Subjek yang dimaksud di sini pada dasarnya adalah dunia bawah sadar bukan ego. Lebih lanjut, subjek yang dimaksud adalah segala pikiran, perasaan, dan sensasi yang samar, remang-remang, menggugah, yang mengalir dalam diri kita bukan dari pengalaman sadar akan objek yang dapat ditunjukan secara kontinu, melainkan meluap sebagai pengaruh yang mengusik, menghambat, atau terkadang membantu, dari kedalaman diri kita yang gelap.

Jung mengakui bahwa karena hakikatnya yang sangat tertutup dan privat, dapat dipahami bahwa sikap internal ini lebih sulit dikenali daripada sikap eksternal, yang dapat dengan mudah diketahui semua orang—seperti persona. Selain itu, ia juga menyimpulkan bahwa sikap internal yang berkorelasi dengan sikap eksternal, sebagaimana mereka pun sama-sama diartikan sebagai kompleks fungsional.

Karena anima/animus merupakan sikap yang mengatur relasi seseorang terhadap dunia internal bawah sadarnya—imajinasi, kesan-kesan subjektif, gagasan, emosi, dan suasana hati—dapat dikatakan juga bahwa anima/animus adalah struktur fungsional yang melayani tujuan khusus dalam hubungannya dengan ego. Sebagai struktur psikis, anima/animus adalah alat bagi perempuan dan laki-laki untuk memasuki dan menyesuaikan diri ke dalam aspek psikologis diri mereka yang lebih dalam. Jika kita bandingkan dengan persona, maka persona menghadap ke luar, ke arah dunia sosial dan membantu dalam adaptasi eksternal, sedangkan anima/animus menghadap ke dalam, ke dunia internal dan membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap tuntutan dan persyaratan dari pikiran-pikiran intuitif, perasaan, imaji, dan emosi yang bertentangan dengan ego.

Contohnya, seorang pria yang sering mengalami perubahan suasana hati dapat dikatakan bermasalah dengan animanya. Animanya belum berkembang dengan baik. Alih-alih membantunya mengolah emosi, animanya justru menariknya semakin dalam, menelusup seperti gas ke dalam kesadaran dan membawa afek-afek mentah yang tidak terdiferensiasi. Hal ini setidaknya telah dikenal dapat menganggu kinerja ego. Egonya mengalami identifikasi dengan kepribadian anima, yang biasanya hipersensitif dan bersimbah emosi.

Sama halnya dengan perempuan yang memiliki masalah dengan animusnya, ia dikuasai alam bawah sadarnya, oleh pendapat dan pikiran bermuatan emosional yang mengendalikan dirinya lebih kuat dari dirinya mengendalikan mereka. Gagasan-gagasan dan pendapat-pendapat otonom dipaksakan dengan energi psikis seorang perisak sehingga menganggu adaptasi si perempuan terhadap dunia. Alih-alih menjadi orang yang baik dan lembut sebagaimana yang ia harapkan, ia justru menjadi kasar dan tercengkram oleh keinginan mengendalikan dan menguasai. Bertapa kerasnya ia berusaha menjadi akrab dan terbuka, perempuan tersebut tidak bisa melakukannya karena egonya tertindas oleh invasi energi pengacau yang membuatnya menjelma segala rupa. Inilah yang Jung namakan sebagai kerasukan animus, sebagai kepribadian yang kuat yang tidak sejalan dengan ego maupun persona yang diharapkannya.

Laki-laki yang berada dalam cengkraman anima cenderung menarik diri dengan perasaan terluka, sedangkan perempuan dalam cengkraman animus cenderung menyerang. Yang membuat orang-orang terdekat harus membangun tameng pelindung yang menyelubungi tubuh mereka ketika bersama si perempuan.

Istilah China, Yin dan Yang, telah diusulkan sebagai istilah yang lebih cocok dan netral bagi kelompok sifat tersebut, dan istilah ini dapat digunakan untuk menggantikan istilah maskulin dan feminim. Berangkat dari istilah ini, Jung mengatakan bahwa sikap internal menunjukan sifat-sifat yang ditinggalkan oleh persona—sebagai sikap eksternal: jika seseorang memiliki persona Yang, maka struktur anima/animusnya bersifat Yin. Namun, karena sikap internal berada di alam bawah sadar, mereka tidak sepenuhnya ada dibawah kendali ego, kurang terdiferensiasi dan kurang terpoles jika dibandingkan dengan persona. Maka, yang ada di dalam diri seseorang yang berpersona Yin adalah Yang yang inferior, dan yang muncul pada saat seseorang berpersona Yang, adalah Yin yang inferior.

Maka, seorang perempuan yang sangat feminim memiliki jiwa yang maskulin, tetapi jiwa maskulin tersebut tidak terbentuk dengan baik. Dalam berhubungan dengan dunia luar, ia mempertahankan sikap feminim yang nyata dan mencolok, yang dikenali sebagai sikap yang terbuka, hangat, merangkul, dan merawat. Namun, dalam diri perempuan tersebut terdapat sikap internal yang sangat berbeda: keras, kritis, agresif, dan mendominasi. Ia memperlihatkan kepribadian internal yang terbuat dari baja.

Begitupun dengan seorang laki-laki yang tampak maskulin, yang berpikiran teguh, berkehendak keras, berjarak, dan agresif, di dalam dirinya membawa kepribadian internal yang sentimental, mudah terluka, mudah tersinggung, dan rapuh. Ia mencintai orang tuanya, mencintai anaknya, mencintai kucingnya, tetapi menolak untuk mengakuinya, meskipun kepada dirinya sendiri. Di depan umum ia menutupi perasaan itu, meskipun ketika sendirian terkadang ia kecolongan dan sesengukan bersama segelas bir.

Tentunya, seorang manusia yang tersadarkan dengan anima dan animus yang terdapat dalam dirinya, dia akan berusaha untuk memperbaiki dirinya. Dan orang yang sudah bisa memahami dirinya dengan anima dan animus yang berada dalam dirinya, sudah tentu akan membuat mereka lebih mudah untuk memahami dan mengenali orang lain sehingga mereka tidak melakukan hal yang melanggar etika ataupun secara psikologis tidak membawa perkembangan yang positif untuk diri sendiri. Namun, ada juga seseorang yang sudah menemukan dirinya dan memahami dirinya, tetapi tidak mau mengubah dirinya sehingga hal tersebut mengakibatkan tidak terjadinya transformasi pada diri.

Sebab sifat yang saling bertolak belakang ini, karena sesungguhnya baik perempuan maupun laki-laki tidak sepenuhnya bersifat feminim atau maskulin, melainkan memiliki sifat kebalikannya dalam hal tertentu. Semakin kuat sifat eksternalnya, semakin tersingkir sifat internalnya. Dengan demikian, sifat itu tertinggal di alam bawah sadar.

Itulah mengapa, laki-laki pada umumnya mencari seorang wanita untuk membantunya mengelola emosi, dan perempuan pada umumnya mencari seorang laki-laki yang dapat menerima dan menggunakan inspirasi-inspirasi dari pikirannya. Dengan begini, datanglah orang luar ke dalam permainan relasi ego dengan anima/animus.

Loading

Kunjungi juga website kami di www.lpkn.id
Youtube Youtube LPKN

Edyta Putri Sunarya
Edyta Putri Sunarya

Penggemar karya-karya John Grisham. Sangat suka menulis sejak kecil, walaupun tidak pernah berani mempublish. Beberapa tahun ke depan ingin bisa sehebat Dr. Spencer Reid.

Artikel: 11

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 + = 21